Ini bermula ketika pemilik akun Twitter bernama @firdarwt menggunakan singkatan TOEFL tidak sesuai makna yang sebenarnya ke dalam komentarnya. Sehingga kalimat yang digunakan menjadi salah kaprah dan membuat netizen mencari tahu maksud dirinya menulis kalimat tersebut.
"Apa sih kok romantisasi apa sih lo. Lo kalo sirik sama gue gausah TOEFL gitu dong, malu-maluin najis," cuitnya dalam komentar yang menuai kritikan netizen. Ini karena kalimat yang dia gunakan tidak pas.
Setelah beberapa saat, kalimat tersebut diklarifikasi oleh sang pencuit. Ternyata penggunaan kata TOEFL yang dimaksud oleh dirinya yakni tes kemampuan.
Padahal, TOEFL atau Test Of English as a Foreign Language ini memiliki arti tes kemampuan bahasa Inggris akademik standar yang dilakukan oleh pelajar. Terutama bagi mereka yang akan mendaftar pada perguruan tinggi di Amerika Serikat. TOEFL juga digunakan sebagai bukti kemampuan berbahasa Inggris di negara-negara lainnya, dilansir dari EF, Kamis (23/9).
Berbeda dengan IELTS yang berorientasi pada British English, tes ini lebih berorientasi pada American English. Perbedaan lainnya, TOEFL tidak melalui bagian individual interview test.
Selain itu, TOEFL yang paling populer dan umum dipakai yakni TOEFL iBT. Dimana terdapat 4 jenis rangkaian tes meliputi reading, listening, speaking, serta writing.
Untuk melakukan tes kemampuan bahasa Inggris ini diperlukan waktu yang cukup panjang, yakni sekitar 4 jam. Sehingga tak jarang banyak pelajar yang menghabiskan waktu untuk mempersiapkan TOEFL selama 3 hingga 6 bulan lamanya.
Jenis penilaian tes ini dibagi menjadi dua, yakni tes menggunakan komputer dengan skor penilaian 216-677. Sedangkan tes menggunakan kertas berkisar antara skor 450-550.
Nah, setelah Anda mengerti singkatan TOEFL beserta maknanya, Anda perlu berhati-hati saat mengenakan singkatan ini.
Penulis : Nabila Sofie H. Editor : Farik Fajarwati