Mutiara Syarifuddin awalnya tak punya niatan untuk ambil bagian di event Fashion Styling Upcycling Competition, di Surabaya, 12 November lalu. Tiara mengaku awalnya hanya diminta mendampingi muridnya di LaSalle College, Surabaya untuk mengikuti kompetisi itu. Namun, peringatan 40 hari tragedi Kanjuruhan yang digelar Aremania pasa 10 November lalu membuat dia berubah pikiran. ”Saat itu, saya sedang dalam perjalanan ke toko kain dan melewati Alun-alun Tugu. Kebetulan, saya pergi sore hari karena tahu kalau siang jalannya macet,” cerita Tiara saat ditemui di butiknya, Jumat lalu (2/12).
Di depan Alun-Alun Tugu, dia melihat replika 135 keranda mayat yang dipasang bersama foto-foto korban tragedi Kanjuruhan. Dari pengamatannya, banyak foto-foto korban perempuan yang dipasang. Melihat itu, hati Tiara terketuk. Kemudian timbul keinginan untuk mengangkat kisah para korban tragedi Kanjuruhan lewat karya fashion. ”Saat itu juga hujan. Akhirnya saya berpikir, kasihan ya teman-teman Aremania sudah menyiapkan seperti ini, tapi kok hujan. Itu yang membulatkan tekad saya untuk ikut kompetisi,” imbuhnya. Tak memerlukan waktu lama, Tiara segera mendaftar untuk mengikuti fashion show yang digelar di Surabaya itu. Esoknya, perempuan yang sempat bercitacita menjadi pengacara itu segera merancang model busana. Karena bertajuk upcycling, Tiara perlu mendaur ulang item fashion karyanya.
Selain mereka-reka model busana, Tiara juga mencoba membuat spanduk-spanduk kecil yang berisi nada protes seperti dibuat para Aremania. Namun, hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Sebab, pembuatan spanduk tanpa menggunakan phylox perlu teknik khusus. Karena belum menemukan spanduk, malamnya Tiara berkeliling mencari spanduk seputar tragedi Kanjuruhan yang sudah tidak terpakai. Dia sampai hunting ke Alun-Alun Tugu, Jalan Ijen, hingga Masjid Sabilillah. Tercatat ada lima spanduk bertuliskan ”Gas Air Mata vs Air Mata Ibu”, ”Ke mana Keadilan, yang Ada Cuci Tangan”, ”Stop Anarkis”, ”Pray For Arema”, dan “Kami Diserang Jadi Korban Tapi Disalahkan” yang diletakkan di busana karyanya.
”Saya ingin ini benar-benar bisa menggambarkan suaranya Arek-Arek Malang,” kata dia. Dia mengaku sempat khawatir karena mengambil spanduk-spanduk itu tanpa izin. Apalagi, beberapa waktu lalu sempat viral berita pencopotan spanduk dan banner oleh oknum-oknum tertentu. Namun, dia juga bingung harus meminta izin kepada siapa. Mengetahui usaha itu, rekanrekannya sesama desainer sempat menyebutnya “gila”. ”Mereka bilang, gila kamu. Asisten saya pun bilang nanti kalau ribut dengan Aremania gimana? Terus saya balas ini niat baik nanti akan berbalas baik. Memang saya agak nekat dari dulu,” imbuhnya.
Hari kompetisi pun tiba. Tiap peserta hanya diberi waktu satu setengah jam untuk mendandani model. Proses itu harus dilakukan tanpa menggunakan mesin jahit. Dalam kurun waktu itu, Tiara berhasil membuat sepasang busana yang terdiri dari baju atasan dan rok. Baju atasan sepanjang sekitar 165 cm dibuat dengan menggabungkan rok tutu berwarna hitam. Kemudian di bagian belakang terdapat selendang sebagai ekor yang dibuat dari kumpulan spanduk dan banner. Selendang itu lah yang berisi aspirasi warga Malang. Sementara untuk bagian bawahan, terbuat dari kain dengan motif jaring-jaring. Itu terinspirasi dari bentuk-bentuk keranda. Lalu motif jaring juga menggambarkan hati warga Malang yang terluka.
”Saya tambahkan aksesoris berupa topi dan police line karena di tragedi Kanjuruhan, polisi turut terlibat. Ibaratnya, aksesoris itu punya makna bahwa tugas polisi seharusnya merangkul. Kemudian saya tempelkan fotofoto kejadian yang saya dapat dari media sosial,” terangnya. Busana itu pun diberi tema “disaster”.
Saat pengumuman, juri memilih busana disaster itu sebagai juara kedua. Busana buatan Tiara dinilai berbeda dengan karyakarya lainnya. Sebab, para peserta lain mengusung tema ready to wear seperti baju harian yang bergaya simpel. Karya putri dari pasangan Eli Susanti dan Syarifuddin itu menarik perhatian dan banyak yang mengabadikannya hingga tenar di media sosial. Tiara tidak menyangka karyanya mendapat apresiasi. Di awal, pegawai yang mendampingi Tiara pun sempat takut karena fashion show itu digelar di Surabaya. Namun mereka justru mendapat applause dari audience yang hadir. ”Waktu banyak yang upload hasil desain busana, saya langsung diajak Aremania untuk live Instagram. Di situ akhirnya saya akhirnya meminta maaf karena sudah mengambil spanduk tanpa izin, tapi juga diapresiasi,” tuturnya. Selepas memenangkan kompetisi, Tiara memiliki harapan besar. Perempuan yang berencana membuka sekolah busana itu juga keadilan bisa didapatkan warga Malang Raya. Khususnya mereka yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan. (mel/by) Editor : Mardi Sampurno