RADAR MALANG - Bayu Skak kembali menyapa penggemar dengan film terbaru berjudul “Sekawan Limo”. Terus konsisten mempertahankan ciri khas kedaerahannya, Sekawan Limo menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama dalam filmnya.
Memiliki premis dengan tema pendakian gunung, film Sekawan Limo mengangkat genre komedi horor, bercerita tentang lima orang pendaki yang ingin naik ke gunung Madyopuro.
Sekelompok pendaki harus mengalami kejadian mistis, akibat mengabaikan mitos atau pantangan saat mendaki gunung di Indonesia. Berikut 3 mitos dan pantangan saat mendaki dalam film Sekawan Limo.
1. Jangan Menoleh ke Belakang saat Mendaki
Saat mendaki gunung, biasanya sekelompok pendaki akan membuat barisan atau banjar, dari yang terdepan sebagai pemimpin jalur, hingga paling belakang dalam satu barisan.
Apabila melanggar mitos dan menoleh ke belakang saat mendaki, maka akan ada yang mengikuti barisan tetapi bukan manusia.
2. Dilarang Naik Gunung saat Malam Satu Suro
Malam satu suro dalam tradisi dan budaya Jawa dianggap malam sakral dan mistis, banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan dalam malam satu suro.
Contohnya dilarang bepergian, dan mendaki gunung saat malam satu suro, ketika melanggar pantangan tersebut, akibatnya akan terjadi bahaya maupun kecelakaan.
3. Tidak Boleh Mendaki dengan Jumlah Ganjil
Setiap daerah atau gunung memiliki mitos tersendiri, termasuk tidak boleh mendaki dengan jumlah kelompok ganjil, karena dianggap akan mendatangkan makhluk lain untuk menggenapi keganjilan tersebut.
Pantangan saat mendaki di film Sekawan Limo merupakan mitos atau folklor paling umum saat melakukan pendakian, saat mendaki usahakan selalu menghargai dan tidak melanggar pantangan yang berada di daerah tersebut. Saksikan film “Sekawan Limo” sebelum memulai pendakian. (Latifah Khoirun Nisa)
Editor : Aditya Novrian