MERIAS kuku atau nail art menjadi komponen kecantikan yang banyak diminati perempuan.
Keindahan jari membuat para nail art enthusiast umumnya ketagihan untuk terus mencoba berbagai model.
Seperti dilakukan Ariella.
Baca Juga: Cosmopolish Jadi Rekomendasi Tempat Nail Art Terlengkap di Malang
Dia mengaku senang merias kuku sejak dua tahun lalu.
Pekerjaannya sebagai marketing juga menuntut dia tampil sempurna.
Termasuk menghias kukunya dengan berbagai warna dan desain.
Ariel mengganti bisa model nail art-nya setiap tiga minggu hingga satu bulan sekali.
Durasi itu cukup lama karena desainnya yang awet dan menempel di kukunya.
Sehingga, proses removal baru dia lakukan setelah kukunya memanjang.
”Gel polish memang awet, kadang sampai sebulan lebih bisa tahan,” kata dia.
Tak jarang, di beberapa situasi, dia sengaja mengganti model nail art-nya meskipun belum rusak.
Misalnya ketika diundang ke sebuah acara.
Secara otomatis, dia selalu menyesuaikan bentuk nail art dengan tema bajunya.
”Termasuk desainnya juga, kalau acara aku lebih suka yang banyak charm-nya karena lebih cantik,” imbuhnya.
Dibanding dengan fake nails, dia lebih memilih menggunakan kuku aslinya.
Yang kadang di-extention sesuai panjang yang diinginkannya.
Menurut dia, fake nails lebih susah dalam hal perawatan.
Karena itu, dibandingkan mengoleksi, dia lebih senang mencoba berbagai desain baru setiap bulannya.
Perempuan asal Kecamatan Klojen itu juga tak tanggungtanggung setiap nail art ke salon.
Dia bisa merogoh kocek hingga Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu.
Terlebih jika modelnya sedikit sulit, yang membuat semakin mahal harga yang dia bayar.
”Tapi menurut saya worth it juga, kalau difoto kelihatan cantik dan lentik di kamera,” kata dia.
Yulianda Refa Damayanti, nail art enthusiast lainnya juga menuturkan hal yang sama.
Dia hampir setiap tiga minggu sekali mencoba desain baru.
”Kalau aku lebih suka yang gradasi atau polos aja,” kata dia.
Dia tak banyak mencoba model nail art yang terlalu banyak aksesoris atau charm.
Itu karena kadang kuku palsunya sering lepas saat beraktivitas.
Misalnya saat keramas atau berolahraga.
Kecintaannya pada nail art membuatnya mengoleksi berbagai model fake nails.
Dia setiap acara, dia selalu berusaha untuk memesan kuku baru.
”Kalau kukunya bagus jadi makin pede,” ujar gadis asal Bali itu. (ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana