Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Serba-serbi Nail Art di Kota Malang: Kandungan Bahan Kimia Wajib Diperhatikan

Bayu Mulya Putra • Senin, 12 Agustus 2024 | 18:43 WIB

SELALU BELAJAR: Regine Christya (kiri) menghias kuku salah satu customernya, Jumat lalu (9/8).
SELALU BELAJAR: Regine Christya (kiri) menghias kuku salah satu customernya, Jumat lalu (9/8).

ADA beberapa fungsi kuku dari kacamata medis. Yang pertama bisa melindungi ujung jari dari cedera.

Berikutnya berfungsi menyaring benda-benda kecil, serta meningkatkan kepekaan terhadap sentuhan.

Kuku juga menjadi indikator bagi kesehatan tubuh secara umum.

Baca Juga: Serba-serbi Nail Art di Kota Malang: Tren Bisa Berganti dalam Hitungan Hari

Perubahan pada warna kuku, tekstur kuku, atau kekuatan kuku menandakan adanya masalah kesehatan.

Tren nail art yang sudah berkembang dalam beberapa tahun masih mengundang perdebatan tentang dampaknya bagi kesehatan.

Salah satunya karena risiko alergi kuku terhadap bahan kimia yang digunakan pada produk nail art.

”Tidak semua kuku cocok dengan bahan kimia yang ada pada cat kuku, lem kuku, atau cairan pembersih cat kuku (biasa disebut aseton),” ujar dr Dhelya Widasmara SpDVE Subsp DT. Bahan kimia bisa menyebabkan kuku rapuh, kering, lalu patah.

Ditambah pengikir kuku dan pemotong kutikula yang bertekstur kasar dapat merusak struktur kuku.

Ujung bisa lebih mudah terkena infeksi bakteri atau jamur. Risiko rusaknya kuku semakin tinggi ketika proses nail art menggunakan lampu ultraviolet (UV).

Lampu itu memancarkan radiasi yang mirip dengan sinar UV dari matahari.

Paparan yang berulang dapat meningkatkan risiko kerusakan kulit.

Termasuk penuaan dini, bahkan ekstremnya bisa meningkatkan risiko kanker kulit.

Meski beberapa salon nail art sudah menggunakan gel UV, harus dipastikan produk tersebut aman.

Jalan satu-satunya mengurangi risiko yakni pemilihan bahan nail art yang aman.

”Pilih produk yang bebas formaldehida, toluene, dan dibutyl phthalate (DBP),” lanjut dokter spesialis kulit itu.

Bahan-bahan itu sering ditemukan dalam cat kuku, padahal dapat menyebabkan iritasi.

Baca Juga: Serba-serbi Nail Art di Kota Malang: Beda Acara, Beda Model Kuku

Dampaknya akan lebih buruk ketika digunakan dalam jangka panjang.

Dalam empat tahun terakhir, dia menyebut ada peningkatan kasus kesehatan kuku yang disebabkan nail art.

Beberapa pasien menderita dermatitis kontak karena bahan kimia dalam produk nail art.

Terutama karena cat kuku atau cairan pembersih kuku.

Biasanya gejala yang dirasakan meliputi kemerahan, gatal, dan pembengkakan di sekitar kuku.

”Yang paling parah onycholysis (kuku terlepas dari dasar kuku) serta infeksi jamur dan bakteri,” papar Dhelya.

Onycholysis disebabkan trauma dari pengaplikasian nail art yang menggunakan produk kimia. (aff/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bahan kimia #kacamata medis #Kuku #Masalah Kesehatan