Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gerakan Tagar ‘Desperate’, Tren Gen Z Pencari Kerja di LinkedIn

Aditya Novrian • Selasa, 8 Oktober 2024 | 23:45 WIB

Tren tagar #desperate di LinkedIn. (Akun LinkedIn Courtney Summer Myers)
Tren tagar #desperate di LinkedIn. (Akun LinkedIn Courtney Summer Myers)

Akhir-akhir ini marak sebuah tagar, yaitu #desperate, di kalangan pencari kerja Gen Z di LinkedIn. 

Tren ini merupakan ekspresi keputusasaan mereka dalam mendapatkan pekerjaan. 

Biasanya, orang-orang menggunakan tagar #opentowork sebagai tanda bahwa mereka siap bekerja, tetapi kini muncul tagar #desperate yang secara terang-terangan menunjukkan keputusasaan.

Baca Juga: Lowongan Pekerjaan Kota Malang Masih Jauh di Bawah Angka Pengangguran

Courtney Summer Myers (28), desainer grafis dan ilustrator asal Inggris, adalah pencetus tagar tersebut. 

Bingkai foto #desperate berwarna merah muda dibuat alih-alih warna hijau yang umumnya digunakan. 

Courtney membuatnya karena frustasi setelah diberhentikan dari pekerjaannya, dan belum juga mendapatkan pekerjaan meskipun sudah melamar sekitar 600 pekerjaan dalam 10 bulan. 

"LinkedIn adalah platform yang dibuat untuk berjejaring dan terhubung dengan orang lain, dan kami melakukannya karena itu akan membantu kami dalam beberapa hal," ujarnya dalam wawancara dengan Fortune. 

Baca Juga: 4.000 Pegawai Honorer Pemkab Malang Terpaksa Bekerja Part Time

Saat ini, unggahan Courtney telah mencapai 426 ribu likes dan 9,5 ribu komentar, mulai dari dukungan hingga kritik. 

Courtney pun membagikan template banner #desperate di LinkedIn agar orang lain yang merasa senasib dapat ikut menggunakan.

Hanna McFadyen (22), seorang desainer kreatif asal Skotlandia, merasa senasib dengan Courtney dan memutuskan untuk menggunakan banner #desperate

Hanna mengungkapkan pengalamannya dalam unggahan di LinkedIn, bahwa ia melamar ke 20 lowongan kerja setiap hari sejak meninggalkan pekerjaannya pada April 2024. 

Sayangnya, sebagian besar lamarannya tidak mendapatkan tanggapan dari rekruter. 

Bahkan, ketika mereka merespons, mereka hanya memuji karyanya tanpa memberikan tawaran pekerjaan.

Selain Hanna, Elena Carballo (29), seorang spesialis desain UX dari Barcelona, juga ikut menggunakan banner #desperate di profil LinkedIn-nya. 

Elena merasa cerita Courtney sangat mirip dengan dirinya, terutama setelah ia kehilangan pekerjaannya pada 2023. 

Baca Juga: Bekerja Penuh di Kantor, Berikut Kebiasaan yang Perlu Dilakukan agar Tidak Mudah Sakit

"LinkedIn dibuat untuk orang-orang mencari pekerjaan. Namun, tidak masuk akal jika perekrut tidak menghubungi saat anda memasang label #opentowork," ujar Elena.

Dilansir dari Forbes, pendekatan kreatif yang dilakukan oleh Courtney Summer Myers mengikuti konsep purple cow yang dicetuskan oleh pakar pemasaran Amerika, Seth Godin. 

Dalam bukunya "Purple Cow: Transform Your Business by Being Remarkable," sapi ungu menonjol di antara sapi cokelat karena tidak terduga dan tidak mungkin diabaikan. 

Kandidat yang menerapkan konsep purple cow membuat dirinya menonjol dari standar biasa resume dan surat lamaran, menciptakan sesuatu yang menarik perhatian perekrut.

Namun, ahli ketenagakerjaan memperingatkan bahwa tagar #desperate berpotensi membawa resiko bagi pencari kerja. 

Rekruter bisa memanfaatkan situasi ini dengan menawarkan gaji rendah, dan akhirnya, pencari kerja hanya fokus mendapatkan uang, bukan pekerjaan yang sesuai.

Courtney membantah kekhawatiran ini. Menurutnya, tagar #desperate hanyalah cara untuk menunjukkan ketersediaan pencari kerja. 

"Jika saya berpura-pura semua baik-baik saja, bagaimana orang tahu bahwa saya butuh pekerjaan? Orang tidak bisa membaca pikiran," jelas Courtney. (Sofia Fasya Nadhira)

Editor : Aditya Novrian
#tren #Gen Z #desperate #pekerjaan #linkedIN