Radar Malang - Pandji Pragiwaksono atau kerap disapa Kang Pandji merupakan seorang pelawak tunggal, aktor, penulis, dan juga presenter yang cukup terkenal di Indonesia.
Bukan tanpa alasan, Pandji Pragiwaksono terkenal karena banyak memberikan kritik dan saran untuk negara Indonesia.
Ia juga menjadi pencetus atau pilar dari beberapa program terkenal, seperti Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) dan program kolaborasi di YouTube.
Pandji memiliki channel YouTube yang ia kembangkan sejak tahun 2010 dengan nama channel nya saat ini adalah @pandji.pragiwaksono.
Salah satu program di YouTube Kang Pandji yang menjadi perhatian banyak orang akhir akhir ini yaitu Skakmat.
"Ini adalah program talkshow terbaru, namanya adalah skakmat. Dimana gua ngobrolin soal Indonesia, soal politik, soal isu isu sosial dan kebangsaan, dengan bintang tamu utamanya yaitu seorang politisi." ucap Pandji Pragiwaksono pada perdana program Skakmat.
"Selain itu, talkshow ini akan diselingi dengan permainan catur hingga skakmat atau selesai. Hal ini akan menguji kemampuan multitasking dari sosok yang hadir diacara kita ini" tambah Pandji Pragiwaksono.
Pandji menganggap politik seperti kita bermain catur, "you put chess pieces into place, tiba tiba checkmate" ucap Pandji pada program perdana skakmat dengan bintang tamu pertamanya yaitu Anies Baswedan.
Pandji mengakui bahwa dirinya tidak terlalu jago dalam bermain catur, tetapi talkshow ini akan menjadi pembeda dari talkshow talkshow yang lain, karena ada pembagian fokus untuk melihat kualitas dari seorang pembicara (bintang tamu) dalam menangani banyak masalah dikemudian hari.
Pandji Pragiwaksono mengemas program skakmat ini dengan sangat baik, terlihat dari views dan komentar positif pada channel YouTubenya saat program ini dimulai.
Akan tetapi dirinya juga menyampaikan, bahwa tak sedikit politisi yang menolak untuk hadir karena berhalangan aktivitas ataupun tidak bisa bermain catur.
Tentu hal ini menjadi kritik dan sentimen publik, bahwa banyak politisi yang menghindari undangan skakmat Pandji Pragiwaksono, karena takut dan tidak percaya dengan kapabilitas diri mereka sendiri. (Dzulfiqar Arifuddin)
Editor : Aditya Novrian