Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penerbit Marjin Kiri Panen Hujatan karena Gunakan Generative AI untuk Sampul Buku, Begini Kronologinya

Aditya Novrian • Selasa, 15 Oktober 2024 | 23:00 WIB

Penerbit Marjin Kiri dikritik karena menggunakan AI untuk buat sampul buku (tangkapan layar X dan Marjin Kiri)
Penerbit Marjin Kiri dikritik karena menggunakan AI untuk buat sampul buku (tangkapan layar X dan Marjin Kiri)

RADAR MALANG - Penerbit independen yang buku-buku terbitannya belum pernah gagal, Marjin Kiri, tengah menjadi perbincangan di media sosial. Pasalnya, penerbit itu menggunakan generative AI untuk membuat sampul beberapa buku mereka.

Berikut adalah kronologi yang membuat penerbit tersebut ramai-ramai dihujat oleh warganet di X.

1. Seorang anonim meminta rekomendasi mengenai buku terbitan Marjin Kiri

Unggahan yang sebenarnya ditujukan untuk meminta rekomendasi itu diunggah oleh pengirim anonim di akun Base Buku (@basebuku) (13/10).

Mulanya pengguna ramai memberikan beberapa judul buku terbitan Marjin kiri. Bahkan, tidak sedikit yang berpendapat bahwa semua buku mereka wajib dibaca.

Baca Juga: Karya-Karya Han Kang, Penulis Korea Selatan yang Memenangkan Nobel Prize in Literature

2. Seorang pengguna mengangkat isu bahwa Marjin Kiri menggunakan generative AI untuk membuat sampul buku mereka

Fokus warganet seketika beralih saat seorang pengguna (@mithamiwuwu) men-quote repost unggahan tersebut (13/10).

Pengguna tersebut mempertanyakan penggunaan AI pada sampul Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta serta Parasit dan Cerita-Cerita Lain dari Kampung Bantaran

Unggahan tersebut sontak ramai, terutama di kalangan penggiat seni dan pekerja kreatif. 

Baca Juga: Seniman Kota Malang Sulap Sampah Menjadi Karya Seni

3. Marjin Kiri memberikan penjelasan mereka 

Marjin Kiri kemudian menjelaskan lewat thread di akun X mereka (14/10). Penerbit itu mengaku memang menggunakan AI dalam proses desain.

“Lalu muncul teknologi AI. Tentu saja kami juga menjajalnya dan sekarang diributkan,” tulis Marjin Kiri. 

Pihak Marjin Kiri kemudian memberikan argumentasi dan pembelaan mereka atas penggunaan teknologi tersebut. “Kami membaca tentang kontroversi AI, tetapi jelas bahkan hingga saat ini di antara para seniman sendiri tidak ada konsensus. Banyak sekali seniman serius memakai AI sebagai alat berkarya.” 

“Bila AI ilegal, mengapa pemerintah secara resmi justru memanfaatkannya dalam pembelajaran? Jelas Indonesia tidak sendirian dalam hal ini dengan negara-negara lain di dunia,” papar mereka lebih lanjut. 

Pernyataan ini merupakan bagian yang paling banyak dikutip dan dikritisi oleh warganet.

"Kami sangat terbuka untuk berdiskusi. Bila ini memang ilegal tentu akan kami hentikan. Terima kasih atas semua responsnya," tutup penjelasan Marjin Kiri pada akhirnya.

Beberapa waktu lalu, seniman Indonesia menaikkan tagar menolak penggunaan AI (#TolakGambarAI). Gerakan ini merupakan wujud keresahan seniman dan pekerja kreatif atas penggunaan AI yang semakin bebas, terutama di bidang seni. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika warganet menyayangkan sikap Marjin Kiri ini. (Mahija)

Editor : Aditya Novrian
#tolak gambar AI #penerbit buku #Generative AI