RADAR MALANG-Musik "keras," atau hardcore, telah menjadi bagian integral dari identitas budaya Kota Malang. Genre ini, yang dulunya dipandang sebagai minoritas, telah berkembang pesat dan menjadi salah satu skena musik yang paling berpengaruh di Indonesia.
Pertama kali musik hardcore masuk ke Kota Malang pada tahun 1990-an. Pada saat itu, genre ini masih relatif baru dan minim peminat. Namun, para "hardcore kids" di Malang yang peduli dan bersemangat, seperti Today Is Struggle dan Mutant, mulai menunjukkan potensi besar dari musik ini.
Dengan gigs-gigs sederhana yang diadakan oleh komunitas, musik hardcore mulai menarik perhatian publik dan menciptakan komunitas yang solid.
Awal dekade 2000-an, musik hardcore di Kota Malang mengalami peningkatan drastis. Nama "Malang City Hardcore" (MCHC) mulai populer, menandai lahirnya sebuah komunitas yang berdedikasi untuk memajukan musik keras di kota tersebut.
Komunitas ini tidak hanya menciptakan suasana hangat bagi para penggemar musik hardcore, tetapi juga melahirkan band-band ternama seperti Today Is Struggle, Mutant, Direction for Use, Public of Noise, SATCF (Snicker And The Chicken Fighter)
Namun, pada tahun-tahun berikutnya, musik hardcore di Kota Malang mengalami kemunduran. Genre lain seperti melodic dan screamo mulai dominan, sehingga musik hardcore tampaknya akan lenyap dari panggung.
Tetapi, para hardcore kids tidak menyerah. Mereka percaya bahwa musik keras masih memiliki ruang dan makna yang signifikan dalam skena musik modern.
Pada awal tahun 2009, suatu revolusi terjadi dalam skena musik hardcore di Kota Malang. Kelompok East Coast Empire, yang artinya "Kerajaan Timur," diluncurkan untuk membangunkan kembali semangat musik keras.
Misi utama mereka adalah menunjukkan bahwa skena MCHC belum mati dan masih memiliki potensi besar untuk berkembang. Dengan kerja keras dan dedikasi, East Coast Empire berhasil menggalang kembali interesi masyarakat terhadap musik hardcore.
Setelah kebangkitan barunya, skena musik hardcore di Kota Malang terus berkembang. Salah satu contoh nyata adalah munculnya band One Word After, yang beraliran melodic hardcore/hardcore punk.
Dengan gaya unik dan lirik yang emosional, mereka berhasil menarik perhatian audiens yang lebih luas. Selain itu, kegiatan rutin seperti gigs dan festival musik semakin memperkuat eksistensi MCHC, menjadikannya salah satu skena musik hardcore terbesar di Indonesia.
Melalui platform digital yang semakin canggih, musik hardcore dari Kota Malang mulai menjangkau audiens internasional. Lirik-lirik yang mengangkat tema persaudaraan, loyalitas, dan cinta damai selaras dengan karakteristik musik hardcore global.
Band-band seperti One Word After dan TANHAD mulai mendapatkan perhatian dari komunitas musik internasional, membantu meningkatkan reputasi MCHC di kancah global.
Pada tahun 2021, band hardcore Malang Ravage mulai mengepakkan sayapnya di kancah global dengan melakukan rekaman di London Inggris. Selain berhasil melakukan rekaman di London, Ravage juga berhasil melawan stigma feminisme di dunia musik yang di dominasi oleh laki-laki.
Ravage menjadi salah satu representasi penting dari musisi perempuan dalam skena hardcore di Malang. Mereka tidak hanya menghibur tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk melihat bahwa perempuan dapat berperan aktif dalam genre yang sering dianggap maskulin.
Dengan kehadiran Ravage, hal ini dapat merubah persepsi negatif tentang musik rock dan hardcore, menunjukan bahwa genre ini dapat menjadi wadah ekspresi positif dan konstruktif.
Selanjutnya ada band Sharbite yang memiliki kontribusi serta pengaruh yang besar dalam skena musik Malang. Mereka sering tampil dalam festival lokal, termasuk acara yang diadakan untuk promosikan musik rock di kota tersebut.
Kehadiran Sharkbite juga menjadi faktor penting dalam regenerasi musik rock di Malang, mereka dapat mendorong generasi muda untuk terlibat dalam dunia musik.
Dengan berkembangnya skena musik hardcore di Malang yang makin pesat, lahirnya band baru seperti Dazzle, Devil Despize, Limbo, dan Interadd tentunya dapat menjadi pendobrak untuk MCHC saat ini. (Adrian Irfan Pratama)
Editor : Aditya Novrian