Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dapat Tawaran Manggung di Hongkong dan Taiwan

Bayu Mulya Putra • Sabtu, 21 Desember 2024 | 00:10 WIB

 

AKTIF LATIHAN: Muhammad Chilmi (tiga dari kiri) bersama rekan-rekannya dari Grup Gambus Hasyimi berkumpul di Ponpes Salafiyah, Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare, kemarin.
AKTIF LATIHAN: Muhammad Chilmi (tiga dari kiri) bersama rekan-rekannya dari Grup Gambus Hasyimi berkumpul di Ponpes Salafiyah, Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare, kemarin.

TOTAL ada 11 personel di Grup Gambus Hasyimi.

Muhammad Chilmi, foundernya, bertindak sebagai vokalis sekaligus gitaris.

Posisi gitaris selanjutnya ditempati Hana Aulidiansyah.

Sementara yang menjadi drummer adalah Hikam Putra.

Eka Irawan bertindak sebagai bassist.

Lalu ada dua keyboardist, yakni Agus Junaidi dan M Aghis.

Selanjutnya ada Yunus Kurniawan yang bermain darbuka.

Selanjutnya ada empat vokalis lainnya.

Yakni Siti Maisaroh, Fitrotin, Hela Juliani, dan Irene Yenitasari.

Kebanyakan dari mereka berasal dari Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang.

Hanya satu yang asal Kecamatan Kepanjen. Yakni Hikam.

Grup musik tersebut berdiri sejak 25 September 2021 lalu.

Awalnya, grup tersebut di inisiasi Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah, Sukowilangun.

Tujuannya untuk mewadahi kegiatan keagamaan remaja di wilayah Kalipare.

”Dulunya kami grup salawat tanpa musik. Tapi lama-lama saya kepikiran bikin band musik,” ucap Chilmi.

Karena membawa nama ponpes, keputusan untuk membuat grup musik itu harus dibawa ke tingkat pengurus.

Khususnya ayah Chilmi.

Selama awal-awal pembentukannya, mereka hanya grup pengisi acara keagamaan di ponpes dan kecamatan.

Pendengar lantunan mereka juga lebih banyak yang berusia lanjut.

Namun di luar dugaan, keputusan melagukan salawat itu disetujui.

Di satu sisi, meski mengusung nama gambus, grup Hasyimi tidak serta merta membawanya dalam bermusik.

Mereka cenderung mengusung musik rock dan metal.

Dengan sedikit sentuhan pop dan ala timur tengah pada umumnya.

Namun, bukan berarti semua 11 personel itu adalah anak metal hijrah.

”Yang punya background metal itu Eka (drummer) dan Eka all genre. Dua vokalis perempuan Siti dan Fitrotin itu dari Banjari. Saya sendiri pendengar semua genre,” sebut Chilmi.

Inspirasi mereka membawa musik seperti itu datang dari banyak band.

Salah satu band yang banyak men-influence mereka yakni Wali Band.

Awalnya, keputusan untuk memakai melodi gahar itu di lakukan untuk menggaet minat kawula muda.

Namun kenyataannya, malah lebih banyak para jamaah yang menikmatinya.

Selama tiga tahun pembentukan, mereka sudah menggarap sekitar 100 an lagu.

Baik cover maupun karya dari mereka sendiri.

Kebanyakan dengan melodi lembut ala musik pop dan gambus. Hanya tujuh yang musiknya full cadas.

”Tapi biar begitu, kami tetap pakai distorsi gitar, beat drum dan notasi bass yang lebih ke arah progresif,” tambah Chilmi.

Pemilihan syair dan melodi keras itu tidak dipilih secara spesifik oleh satu orang.

Melainkan mengalir saat latihan.

Termasuk lagu ‘Ya Badrotim’ , yang viral akhir-akhir ini.

Instrumental syair dari awal sampai akhir, dengan durasi 5 menit 25 detik berasal dari lagu Hysteria milik Band Muse.

”Itu sempat di-repost akun Instagram Indomusicgram. Jumlah view-nya lebih banyak sana,” kata Chilmi.

Viralnya lagu tersebut memiliki dampak yang signifikan.

Undangan untuk manggung makin banyak datang ke mereka.

Permintaan itu tidak hanya datang dari Jatim saja.

Namun juga datang dari berbagai daerah.

Salah satunya dari Jawa Barat.

Bahkan ada beberapa tawaran manggung sampai ke luar negeri seperti Taiwan, Hongkong, dan Korea Selatan.

”Kalau ke luar negeri itu dari sebelum viral juga ada yang mengundang. Umumnya dari perantauan Kalipare di sana. Setelah viral, masih banyak undangan untuk ke sana (luar negeri),” sebut Chilmi.

Sayangnya, undangan tersebut belum bisa dipenuhi mereka.

”Kami belum bisa menuruti itu. Apalagi kalau ke luar negeri, belum siap paspor dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Walau semuanya bersifat mengalir, keputusan mereka mengolaborasikan musik cadas dan salawat bukan hal yang mudah.

”Syair sudah ditentukan, tapi nanti rock atau metalnya yang seperti apa? Menemukan lagu yang pas setidaknya butuh dua pertemuan untuk latihan. Satu pertemuan itu setidaknya berlangsung dua jam,” imbuh Hikam. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Hongkong #Manggung #Malang Raya #Taiwan #personel band #vokalis