Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengenal Kupatan di Malang, Tradisi Unik Pascalebaran yang Masih Dilestarikan

Aditya Novrian • Selasa, 25 Februari 2025 | 17:10 WIB

Ketupat dan Lepet hidangan sebelum lebaran (nanda.decoration).
Ketupat dan Lepet hidangan sebelum lebaran (nanda.decoration).

RADAR MALANG - Lebaran Ketupat menjadi tradisi yang masih lestari di berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Malang, Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek. 

Tidak seperti di Jakarta dan sekitarnya, di mana ketupat biasanya disajikan pada hari pertama Idul Fitri, di beberapa daerah Jawa Timur, ketupat baru dinikmati seminggu setelah Lebaran. 

Baca Juga: Idul Fitri, Umat Hindu dan Buddha di Desa Ngadas pun Ikut Buat Ketupat

Tradisi ini dikenal sebagai Lebaran Ketupat atau Kupatan.

Tradisi Lebaran Ketupat berakar dari ajaran Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. 

Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah penting, yaitu Bada Lebaran dan Bada Kupat. 

Bada Lebaran mengacu pada perayaan setelah Idul Fitri, di mana umat Islam saling bermaaf-maafan. 

Sementara itu, Bada Kupat atau Lebaran Ketupat, yang digelar seminggu setelahnya, menjadi momen untuk merayakan kemenangan spiritual setelah menjalankan ibadah puasa. 

Menurut para sesepuh Jawa, tradisi ini juga mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan dan kebersamaan.
Ketupat tidak sekadar hidangan, tetapi juga melambangkan filosofi hidup yang mendalam.

Lebaran Ketupat memiliki makna simbolis yang mendalam dalam budaya masyarakat Jawa. 

Beberapa filosofi ketupat yang dipercaya adalah bentuk ketupat yang segi empat melambangkan hati yang suci setelah menjalankan ibadah puasa. 

Baca Juga: Warna Bold Dominasi Tren Busana Ramadan dan Idul Fitri

Bahan utama ketupat, yaitu nasi, mencerminkan nafsu manusia yang harus dikendalikan. 

Daun kelapa muda (janur) yang digunakan sebagai pembungkus melambangkan nurani yang bersih. 

Anyaman janur kuning dianggap sebagai simbol perlindungan dan penolak bala. 

Dengan filosofi ini, masyarakat diajak untuk selalu menahan hawa nafsu, menjaga kebersihan hati, dan mempererat tali persaudaraan.

Setiap tahunnya, Lebaran Ketupat dirayakan dengan berbagai cara di daerah-daerah yang masih melestarikan tradisi ini. 

Beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan antara lain kumpul keluarga sebagai momentum untuk mempererat tali silaturahmi dengan sanak saudara.

Baca Juga: 15 Camilan Lebaran yang Wajib Ada saat Hari Raya Idul Fitri

Lebaran Ketupat bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga cerminan nilai-nilai budaya, agama, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. 

Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya memaafkan, bersyukur, dan menjaga persatuan dalam masyarakat. 

Sebagai warisan budaya yang berharga, menjaga dan melestarikan tradisi Lebaran Ketupat adalah tugas bersama, agar generasi mendatang tetap dapat memahami makna mendalam dari perayaan ini.(fd)

Editor : Aditya Novrian
#kupatan #tradisi unik #lebaran 2025 #PascaLebaran #budaya indonesia #adat istiadat #malang #tradisi lebaran #kuliner tradisional