Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Melacak Asal-usul Tradisi THR dari Dinar hingga e-Wallet

A. Nugroho • Kamis, 3 April 2025 | 00:00 WIB
ilustrasi angpao lebaran yang biasa diberikan sebagai tradisi THR (pch.freepik)
ilustrasi angpao lebaran yang biasa diberikan sebagai tradisi THR (pch.freepik)

TRADISI THR yang kita kenal hari ini sebenarnya menyimpan petualangan sejarah panjang? 

Bermula dari kebiasaan Khalifah Umayyah yang membagikan dinar kepada rakyat jelang hari raya, melewati budaya angpao merah masyarakat Tionghoa Muslim, hingga transformasi digital dalam bentuk e-Wallet. 

Pada abad ke-7 Masehi, Dinasti Umayyah telah mempelopori konsep "THR" dengan membagikan hadiah berupa uang dan bahan pokok kepada rakyatnya. 

Praktik ini bukan sekadar kedermawanan, melainkan strategi politik cerdas untuk memperkuat legitimasi kekuasaan. 

Baca Juga: Satu Perusahaan Dilaporkan karena Tidak Bayar THR

Berabad-abad kemudian, di Nusantara, tradisi serupa muncul dalam bentuk angpao merah, di mana masyarakat Tionghoa Muslim mengadaptasi kebiasaan memberi uang dalam amplop merah sebagai simbol keberkahan.  

Lompatan besar terjadi tahun 1950-an ketika Indonesia yang masih bayi memformalkan konsep THR. 

Awalnya hanya untuk PNS dengan nominal Rp125 (setara Rp1,1 juta kini), protes buruh tahun 1952 memaksa pemerintah memperluas hak ini ke sektor swasta. 

Perjuangan kelas pekerja ini akhirnya dikukuhkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja tahun 1994, menjadi fondasi sistem THR modern yang kita kenal.  

Baca Juga: Pemdes Gampingan Bagi THR untuk Ratusan Warga

Era digital membawa revolusi baru. 

Jika dulu THR dibagikan dalam amplop fisik atau transfer bank, kini e-wallet. 

Survei tahun 2023 menunjukkan 67% milenial lebih memilih THR digital karena kepraktisannya. 

Namun di balik kemudahan ini tersimpan ironi - makin cairnya makna sakral THR yang seharusnya lebih dari sekadar transaksi digital belaka.  

Fakta mengejutkan terungkap dari riset antropologis: tradisi THR ternyata memiliki DNA yang sama di berbagai budaya. 

Mulai dari "Eidi" di Pakistan, "Bónus de Navidad" di Spanyol, hingga "13th Month Pay" di Filipina, semua membuktikan bahwa berbagi kebahagiaan hari raya adalah naluri universal umat manusia.  

Kini, ketika kita menerima notifikasi "THR telah masuk ke e-Wallet kamu", ingatlah bahwa itu bukan sekadar angka di layar ponsel. 

Ia adalah warisan peradaban yang telah melalui perjalanan epik, dari tangan ke tangan di pasar Damaskus abad pertengahan, melalui perjuangan buruh Indonesia era 1950-an, hingga akhirnya mendarat di dompet digital kita. (sai)

Editor : A. Nugroho
#hari raya #lebaran #tradisi #asal usul #idul fitr #THR #syawal