RADAR MALANG - Setelah Hari Raya Idulfitri, masyarakat di beberapa daerah di Indonesia.
Terutama di Jawa, merayakan tradisi Kupatan.
Kupatan dilakukan pada hari ketujuh setelah Lebaran dan identik dengan hidangan ketupat, yakni olahan nasi yang dibungkus anyaman janur (daun kelapa muda) dan dimasak hingga padat.
Namun, lebih dari sekadar makanan, ketupat menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan dan nilai-nilai kebersamaan.
Dalam budaya Jawa, kata ketupat memiliki makna simbolis yang berasal dari frasa "ngaku lepat", yang berarti mengakui kesalahan.
Tradisi ini menjadi momen bagi masyarakat untuk saling memaafkan setelah menjalani ibadah Ramadan.
Ketupat juga melambangkan kesucian hati dan kembalinya seseorang ke keadaan yang lebih baik setelah berpuasa selama sebulan penuh.
Selain itu, bentuk ketupat yang dianyam dari janur memiliki arti tersendiri.
Baca Juga: Produsen Peci di Gresik Banjir Pesanan Jelang Lebaran
Janur dalam bahasa Jawa diartikan sebagai "jatining nur" atau cahaya hati.
Artinya, ketupat melambangkan kebersihan hati dan keikhlasan.
Sementara itu, anyaman rumit pada ketupat mencerminkan kerumitan hidup manusia, sedangkan nasi putih di dalamnya melambangkan kesucian setelah menjalani Ramadan
Meski zaman terus berkembang, tradisi Kupatan tetap bertahan dan menjadi bagian dari budaya Lebaran.
Makna mendalam di balik ketupat mengajarkan tentang keikhlasan, kebersamaan, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.
Sebagai bagian dari warisan budaya, Kupatan bukan hanya tentang menikmati hidangan khas Lebaran, tetapi juga tentang merenungkan perjalanan spiritual dan mempererat tali silaturahmi.
Dengan memahami filosofi di baliknya, perayaan ini menjadi lebih bermakna dan tak sekadar tradisi turun-temurun. (rsy)
Editor : A. Nugroho