Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Nekat Naik Gunung Tanpa Latihan? Kuat Niat Belum Tentu Kuat Fisik!

Aditya Novrian • Selasa, 15 April 2025 | 21:30 WIB

Ilustrasi pendaki (mdjaff/freepik.com).
Ilustrasi pendaki (mdjaff/freepik.com).

RADAR MALANG - Mendaki gunung bukan sekadar urusan pamer foto di puncak atau mengejar tren biar "gaul" di sosial media. Sayangnya, masih banyak yang beranggapan mendaki hanya soal keberanian dan semangat, tanpa memperhitungkan kesiapan fisik. Ujung-ujungnya, baru setengah jalur sudah ngos-ngosan, ketinggalan rombongan, bahkan menyusahkan teman karena harus sering-sering berhenti.

Baca Juga: Petualangan Makin Seru! Berikut 4 Rekomendasi Tempat Sewa Alat Mendaki dan Camping Terlengkap di Malang

Modal nekat dan rasa FOMO (Fear of Missing Out) memang sering kali jadi pemicu seseorang memutuskan mendaki gunung. Padahal, medan menanjak, jalur terjal, dan cuaca ekstrem bukan urusan iseng. Tanpa persiapan fisik yang matang, perjalanan bisa berubah dari liburan jadi bencana.

Sebelum Anda jadi ‘pendaki beban’, yuk kenali dulu latihan fisik yang wajib dilakukan biar tubuh siap menghadapi jalur pendakian. Karena tubuh yang kuat dan bugar adalah tiket utama menuju puncak, bukan sekadar motivasi atau keinginan pamer.

Salah satu latihan olahraga kardiovaskular yaitu berlari di jalur menanjak (bublikhaus/freepik.com).
Salah satu latihan olahraga kardiovaskular yaitu berlari di jalur menanjak (bublikhaus/freepik.com).

Pertama, latihan kardiovaskular. Aktivitas ini akan melatih jantung dan paru-paru agar lebih tahan menghadapi perjalanan panjang yang menanjak. Lari di jalur menanjak, treadmill dengan kemiringan, atau berlari di jalur bervariasi bisa jadi pilihan efektif.

Baca Juga: Kaum Mageran Wajib Tahu! 5 Olahraga Ini Bisa Dilakukan Sambil Rebahan

Latihan beban (Freepik.com).
Latihan beban (Freepik.com).

Kedua, jangan sepelekan latihan beban. Mendaki gunung bukan cuma urusan kaki, tapi juga punggung dan otot inti yang harus kuat menopang tas carrier berat berjam-jam. Latihan seperti squat, lunges, hingga deadlift wajib masuk dalam daftar rutinitas.

Salah satu latihan daya tahan tubuh yaitu lari jarak jauh (jcomp/freepik.com).
Salah satu latihan daya tahan tubuh yaitu lari jarak jauh (jcomp/freepik.com).

Ketiga, fokus pada daya tahan tubuh. Mendaki bukan sprint, tapi maraton yang menguji mental dan fisik. Kombinasikan berjalan jauh, lari jarak jauh, renang, hingga bersepeda dalam jadwal latihan rutin agar tubuh terbiasa dengan aktivitas jangka panjang.

Baca Juga: Tetap Fit dan Fresh, Ini Lima Rekomendasi Spot Jogging di Malang

Latihan keempat, interval training. Teknik ini melatih ketahanan jantung dan kecepatan pemulihan. Dengan metode latihan intensitas tinggi yang diselingi waktu istirahat singkat, tubuh lebih siap menghadapi perubahan ritme selama pendakian. Contoh interval training yang dapat dilakukan yaitu :

  1. Berlari dengan intensitas tinggi selama 1 menit, kemudian dilanjut berjalan pelan selama 2 menit,
  2. Atau, berlari selama 90 detik dengan intensitas tinggi, kemudian dilanjut jogging selama 3 menit dengan intensitas yang rendah.
  3. Atau, bisa juga melakukan 4 gerakan, seperti jumping jack, squat, push up, dan plank, masing-masing selama 20 detik dengan diselingi 10 detik istirahat.

Salah satu contoh gerakan stretching (freepik.com).
Salah satu contoh gerakan stretching (freepik.com).

Kelima, jangan lupa stretching. Fleksibilitas yang baik akan mencegah cedera saat harus melompat, melangkah di jalur berbatu, atau turun di medan curam. Lakukan peregangan sebelum dan sesudah latihan agar otot tidak kaku dan lebih lentur.

Baca Juga: Kota Malang Gali Potensi Sport Tourism lewat Ajang Lari Nasional

Salah satu contoh gerakan single leg balance (yanalya/freepik.com).
Salah satu contoh gerakan single leg balance (yanalya/freepik.com).

Latihan keenam, single-leg balance. Keseimbangan sangat krusial saat melangkah di jalur licin atau berbatu. Latihan ini membantu memperkuat stabilitas sendi dan mencegah risiko keseleo yang bisa bikin petualangan berakhir prematur.

Olahraga naik turun tangga (Arthurhidden/freepik.com).
Olahraga naik turun tangga (Arthurhidden/freepik.com).

Terakhir, naik turun tangga. Latihan sederhana ini efektif menguatkan otot-otot yang paling sering bekerja saat mendaki, seperti paha, betis, dan glutes. Lakukan minimal tiga hingga empat kali seminggu agar tubuh terbiasa dengan gerakan tanjakan.

Baca Juga: Trek Mudah dan Pemandangan Menawan, Ini Destinasi Pendakian di Malang yang Cocok untuk Pemula, dari Ranu Kumbolo hingga Budug Asu

Jadi, sebelum buru-buru packing dan update status "see you on top", pastikan fisik Anda tidak sekadar modal semangat. Latihan teratur, pola makan seimbang, dan hidrasi yang cukup adalah kunci agar pendakian tak berakhir dengan drama kelelahan, kram otot, atau bahkan dievakuasi turun gunung.

Mendaki gunung bukan tentang siapa paling nekat, tapi siapa yang paling siap. Jadi, jangan jadi beban teman, jadilah pendaki yang bertanggung jawab! (my)

Editor : Aditya Novrian
#naik gunung #tips pendakian gunung pertama #pendaki #Olahraga #Outdoor lifestyle