Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Produktivitas Kunniklan Studio Menghasilkan Art Toys: Sempat Digandeng Vendor Thailand, Singapura, dan Filipina

Bayu Mulya Putra • Jumat, 16 Mei 2025 | 17:29 WIB

KREATIF: Rino Ardi Onirvora (tengah) bersama dua rekannya menunjukkan produk art toys di studionya di Jalan Bantaran Indah, Kelu rahan Tulusrejo, Lowokwaru, beberapa hari lalu.
KREATIF: Rino Ardi Onirvora (tengah) bersama dua rekannya menunjukkan produk art toys di studionya di Jalan Bantaran Indah, Kelu rahan Tulusrejo, Lowokwaru, beberapa hari lalu.

Kunniklan Studio baru resmi berdiri awal 2024. Namun, pendirinya, Rino Adi Onirvora, aktif berkarya sejak 2020. Dari menghasilkan action figure, kini mereka fokus memproduksi art toys. Dua band lokal tengah berkolaborasi dengan mereka.

INDAH MEI YUNITA

DARI Ruangan berukuran sekitar 12 meter persegi, Rino Adi Onirvora menciptakan puluhan bahkan ratusan art toys.

Ruangan itu merupakan studionya yang diberi nama Kunniklan.

Di dalamnya ada berbagai action figure koleksinya dan art toys karyanya.

Puluhan cat dengan berbagai warna tertata rapi di sebuah rak kecil yang menempel di dinding.

Studio Kunniklan resmi dibentuk pada awal 2024.

Studio itu dibentuk untuk kerja sama maupun kolaborasi dengan pihak lain supaya lebih profesional.

Sebelumnya, kerja sama yang dia lakukan hanya berbentuk gentlemen agreement atau berkontrak namun tidak resmi.

Dengan adanya studio tersebut, Rino bersama timnya bisa bekerja sama secara lebih profesional dengan pihak lainnya.

Seperti kolaborasinya dengan dua band lokal asal Malang.

Yakni Dazzle dan Tani Maju.

”Sebenarnya, sejak 2020 lalu studionya sudah ada, dan kami membuat macam-macam action figure. Sekarang, kami fokus membuat art toys. Kami ingin memperkenalkan ini ke masyarakat luas. Salah satunya dengan berkolaborasi dengan band lokal,” ujar Rino saat ditemui di studionya beberapa hari lalu.

Desain art toys tersebut merupakan karyanya sendiri, dan telah melewati tahap diskusi bersama tim dari band yang bekerja sama dengannya.

Untuk karakter band Dazzle, dia terinspirasi dari album band tersebut.

Sementara untuk Tani Maju, dia terinspirasi dari kostum yang biasa dikenakan personel band.

Studio yang berlokasi di Jalan Bantaran Indah, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru itu berawal dari kegemaran Rino menggambar dan mengoleksi mainan.

Dia kemudian bergabung dengan komunitas yang juga gemar mengoleksi mainan.

Di komunitas tersebut, dia mulai belajar membuat mainan secara otodidak.

Mulai dari membentuk hingga mewarnainya.

Saat pandemi Covid-19 pada 2020 lalu, dia mulai fokus mengembangkan studio.

”Saat itu, saya dan teman-teman masih sekadar membuat mainan saja, yang baru ini kami beri nama Kunniklan,” ucap pria berusia 32 tahun tersebut.

Berbeda dengan action figure yang biasanya diproduksi oleh pabrik, art toys merupakan barang seni yang diproduksi langsung oleh seniman.

Produksinya terbatas, sesuai dengan pesanan atau persetujuan kerja sama dengan brand tertentu.

Produk tersebut menyerupai patung, namun ukurannya kecil.

Di Kunniklan, art toys diproduksi dengan ukuran sekitar 8 sentimeter.

Proses pembuatannya cukup rumit.

Untuk membuat desain, biasanya butuh waktu sekitar satu sampai dua pekan, tergantung dengan hasil diskusi bersama brand.

Untuk membuat masternya, butuh waktu sekitar satu pekan.

Produksi badan art toys bisa lebih cepat.

Satu hari bisa dua kali cetak.

Pencetakannya menggunakan metode resin casting.

Yakni metode pengecoran menggunakan resin cair.

Bahan resin tersebut bakal mengeras menjadi bentuk yang diinginkan setelah dipadatkan dalam cetakan.

”Semua art toys kami buatan tangan.

Jadi sekali produksi mungkin 20 sampai 50 mainan, tergantung permintaan,” kata pria berusia sekitar 33 tahun itu.

Proses produksinya pun sesuai jumlah permintaan.

Khususnya saat proses pewarnaan.

Jika produksi satuan, pewarnaan bisa selesai dalam satu atau dua hari.

Namun, jika produksi massal, pewarnaan dilakukan secara bertahap.

Sebab, pewarnaannya dilakukan per bagian.

”Kami ada tim untuk pewarnaan. Misalnya yang bertugas mewarnai bagian mata, ya puluhan pesanan itu dia akan mewarnai bagian mata saja,” imbuhnya.

Itu untuk menghindari adanya perbedaan produk.

Sebab, hasil karya dari tangan satu dapat berbeda dengan tangan lainnya.

Untuk melanjutkan ke bagian lain, harus menunggu catnya kering terlebih dahulu.

Karena itu membutuhkan waktu lebih banyak untuk pewarnaan.

Jika membutuhkan blok warna seperti bagian badan, bisa menggunakan air brush.

Sedangkan bagian-bagian detail seperti warna mata atau hiasan baju dapat menggunakan kuas biasa.

Rumitnya proses produksi itu membuat harga art toys cukup mahal.

Untuk merchandise band, dijual dengan harga antara Rp500 ribu sampai Rp600 ribu.

Biasanya, produk-produk art toys melalui pameran.

Seperti acara Band of Toys yang digelar pada 18 sampai 25 Januari 2025 lalu di Parmuse Creative Space, Kota Malang.

”Kami sudah beberapa kali membuat pameran di Malang. Selain itu juga pameran di luar kota, seperti Jakarta dan Surabaya,” ucap pria dengan latar belakang Desain Komunikasi Visual itu.

Selain itu, dia juga sempat berpartisipasi dalam pameran di luar negeri.

Salah satunya saat acara TOYCON Evolution 2024 SMX Manila di Mall of Asia Complex, Seashell Ln, Pasay, Filipina pada 14–16 Juni 2024.

Saat itu, dia merupakan vendor produksi untuk salah satu tenant di acara tersebut.

”Kalau di luar negeri, kami sempat jadi vendor produksi dari produk mereka. Sejauh ini mereka dari Thailand, Singapura, dan Filipina,” pungkasnya. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#kunniklan studio #produktivitas #malang kota