Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Update! Tujuh Merek Fast Fashion Jadi Penyumbang Utama Pencemaran Lingkungan, Brand Zara Tetap Nomor 1

Aditya Novrian • Kamis, 22 Mei 2025 | 18:15 WIB

7 merek fast fashion yang sangat berpengaruh mencemari lingkungan. (freepik)
7 merek fast fashion yang sangat berpengaruh mencemari lingkungan. (freepik)

RADAR MALANG - Sebuah laporan terbaru dari Earth.org yang dirilis pada Senin, 19 Mei 2025, mengungkapkan bahwa setidaknya tujuh merek fast fashion global masih menjadi kontributor utama pencemaran lingkungan.

Industri ini tidak hanya menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar, melainkan juga menyumbangkan emisi karbon dan limbah air secara signifikan.

Setiap tahun, industri fast fashion memproduksi sekitar 92 juta ton limbah tekstil, dan angka ini diprediksi akan melonjak menjadi 134 juta ton pada tahun 2030.

Baca Juga: Rumah Katun Malang: Pilihan Tepat untuk Belanja Baju Anak dan Dewasa

Selain limbah tekstil, industri fast fashion juga bertanggung jawab atas sekitar 10% emisi karbon global dan 20% limbah air dunia.

Meskipun beberapa merek telah mengklaim menerapkan praktik berkelanjutan, faktanya upaya tersebut dinilai masih sangat terbatas dan belum mampu mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan.

Berikut adalah tujuh merek fast fashion yang paling banyak berkontribusi pada kerusakan lingkungan:

1. ZARA

Brand asal Spanyol ini dikenal sebagai pelopor fast fashion dengan produksi lebih dari 450 juta produk per tahun.

Meski telah berkomitmen menggunakan material berkelanjutan dan menargetkan netral karbon pada 2040, jejak karbon Zara masih tinggi dan belum ada bukti nyata pelambatan laju produksi.

Baca Juga: Rekomendasi Toko Pakaian Wanita ala Pinterest di Malang: Bernuansa Bumi dan Pastel

2. H&M

Sebagai peritel fesyen terbesar kedua di dunia, H&M kerap dikritik karena limbah tekstil yang besar dan dugaan pelanggaran hak pekerja.

Program keberlanjutan seperti koleksi "Conscious" dan daur ulang dianggap kurang transparan, bahkan ada tudingan greenwashing.

Baca Juga: Inspirasi Tema Pakaian Buka Bersama yang Unik dan Kompak

3. Forever 21

Perusahaan asal Amerika Serikat ini menggunakan bahan sintetis yang sulit terurai.

Pekerja garmennya juga dibayar di bawah upah minimum, dan Forever 21 belum bergabung dengan inisiatif keselamatan kerja Bangladesh Accord.

4. Uniqlo

Populer karena harga terjangkau, Uniqlo masih banyak menggunakan bahan sintetis seperti rayon dan poliester.

Selain itu, perusahaan ini pernah menahan pembayaran pesangon kepada pekerja di Indonesia. Target pengurangan karbon Uniqlo dinilai belum jelas.

Baca Juga: Makin Pede dan Cepat Pilih Pakaian, Personal Color Test di Malang

5. Shein

Dikenal di kalangan Gen Z, Shein merilis ratusan produk baru setiap hari dan menjual lebih dari 36 juta pon pakaian per tahun.

Shein sering dituding melanggar hak cipta dan belum menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan.

Baca Juga: Tak Perlu Risau Memiliki Kulit Sawo Matang, Berikut Pilihan Warna Pakaian yang Pas Dikenakan 

6. Mango

Mango pernah terlibat dalam tragedi runtuhnya pabrik di Bangladesh pada 2013.

Meski kini menggunakan 44% material berkelanjutan, perusahaan belum menetapkan target pengurangan emisi di rantai pasoknya.

Baca Juga: Mau Shopping Pakaian? Tanya Sabrina Saja untuk Rekomendasi Merchant Terbaik!

7. ASOS

ASOS menambah ribuan produk baru setiap minggu, namun kualitasnya sering dipertanyakan.

Janji pengurangan emisi karbon pada 2020 belum diikuti bukti nyata, dan belum ada inisiatif jelas terkait pengurangan penggunaan air.

Dengan kondisi ini, industri fast fashion masih menjadi tantangan besar bagi upaya pelestarian lingkungan global.

Baca Juga: Bingung Cari Pakaian Berkualitas? Ini 5 Toko Hits di Kota Malang yang Dapat Kamu Kunjungi  

Konsumen diimbau untuk lebih bijak dalam memilih produk fashion agar tidak memperparah kerusakan lingkungan.(NR)

Editor : Aditya Novrian
#tekstil #fast fashion #pencemaran lingkungan