SURABAYA - Basket yang masuk dalam kategori olahraga berintensitas tinggi ternyata masih bisa dilakukan oleh warga lanjut usia (lansia). Di kawasan Surabaya Timur, bahkan ada pertemuan rutin untuk berlatih bersama. Namun, tentu ada penyesuaian dan tetap harus waspada terhadap risiko cedera.
Seperti yang terlihat di Mayasi Basketball Court, Kalijudan, Mulyorejo, kemarin (29/6). Puluhan warga yang merupakan lansia terlihat penuh antusias saat bermain basket bersama. Salah satunya berasal dari komunitas Naga Sakti Reborn. Komunitas yang berdiri sejak 40 tahun lalu itu punya 52 anggota aktif. Bahkan, mereka kerap mengikuti turnamen resmi dari Persatuan Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) di kelas veteran.
”Hampir setiap tahun ikut kelas veteran. Dan tentu saja itu turnamen resmi,” terang Afandi Tata Tjhi, ketua Naga Sakti Reborn saat ditemui kemarin.
Pegiat basket lansia yang juga dokter spesialis bedah digestif dr Iwan Kristian SpB KBD, menjelaskan, basket memang bukan olahraga ringan bagi lansia. Bahkan, semua otot dipaksa bekerja penuh. ”Karena basket itu ada lari, loncat, dan putar,” ujarnya. Karena itu, untuk lansia yang memang belum pernah main basket, dirinya menyarankan untuk berhati-hati.
Iwan juga menjelaskan bahwa secara medis, basket memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung karena meningkatkan denyut jantung dalam waktu singkat. Namun, setiap pemain wajib memantau batas detak jantung.
”Rumusnya, denyut maksimal 220 detak per menit (bpm) dikurangi usia. Idealnya bermain di 80 persen dari angka itu. Misal saya umur 60 tahun, maka maksimal 160 bpm. Jadi main di kisaran 140-an sudah cukup,” jelasnya. (dho/ama/adn)
Editor : A. Nugroho