RADAR MALANG - Tagar #KaburAjaDulu, yang awalnya muncul di platform X (Twitter), kini memicu gelombang diskusi nasional. Budaya digital ini mencerminkan rasa frustrasi generasi muda Indonesia terhadap situasi sosial ekonomi domestik, dengan banyak yang mulai mempertimbangkan melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri.
Fenomena ini sempat meroket pada Februari 2025; banyak pengguna sosial media, terutama kaum muda. Membagikan kisah dan motivasi mereka untuk “kabur” sebagai cara mencari kehidupan yang lebih baik, peluang profesi, atau kestabilan ekonomi yang mungkin tidak tersedia di dalam negeri. Diskusi itu kemudian berkembang melibatkan berbagai topik dari kondisi mental yang lelah, lingkungan kerja yang kurang sehat, hingga biaya pendidikan yang dipandang makin membebani, sehingga banyak memilih peluang di luar negeri .
Tren ini mendapat respons beragam. Beberapa pihak menganggapnya sebagai bentuk “brain drain” yang perlu diwaspadai, karena talenta muda Indonesia bisa saja memilih tidak kembali. Sebaliknya, sejumlah pemikir menyarankan agar memilih “kabur” bukan sekadar membelakangi negara, tetapi juga bisa menjadi strategi belajar di luar untuk kembali memberi kontribusi lebih besar.
Tagar #KaburAjaDulu bukan hanya sekadar tren online, tapi refleksi nyata dari keresahan kaum muda terhadap tantangan hidup di tanah air. Diskusi ini menghadirkan dilema, apakah kabur adalah bentuk keputusasaan atau langkah strategis?
Di tengah perdebatan itu, satu hal jelas sistem sosial, pendidikan, dan ekonomi Indonesia mendapat sorotan dan tentu saja diharapkan diperbaiki, agar generasi muda merasa punya alasan kuat untuk tinggal dan berkembang di tanah air. (fie)
Editor : A. Nugroho