RADAR MALANG - Kental dengan mitos dan kearifan lokal, Pamali: Tumbal kembali hadir mengguncang layar lebar Indonesia melalui atmosfer horor yang menyatu dengan kepercayaan masyarakat.
Film ini, disutradarai oleh Bobby Prasetyo dan terinspirasi dari game populer Pamali: The Little Devil, mengajak penonton menyelami kengerian yang mengakar dalam tradisi budaya, khususnya dunia pesugihan dan pantangan lokal.
Plot dan Tema Budaya
Tokoh utama, Putri Dewi Kuncoro (Keisya Levronka), hidup mencekam setelah ibunya menghilang misterius setelah mengambil “uang tumbal” praktik pesugihan yang konon membawa konsekuensi fatal.
Bersama sahabatnya, Kiki dan Cecep, Putri nekat masuk ke dunia gaib untuk mencari sang ibu, dihantui makhluk seperti tuyul dan kuntilanak hitam.
Film ini mengangkat pamali larangan budaya seperti tidak keluar rumah di malam hari atau jangan ambil foto bertiga sebagai inti cerita yang menguatkan nuansa mistis dan pesan moralnya.
Atmosfer dan Sinematografi
Lokasi syuting seperti hutan, rumah kosong, dan pabrik tua menciptakan atmosfer angker yang nyata. Tata suara seperti bisikan samar dan langkah bergema juga sukses menambah ketegangan.
Meski adegan horor visual cukup kuat, beberapa efek dirasa kurang intens dan hampir terasa klise.
Akting dan Dinamika Karakter
Keisya Levronka tampil kuat sebagai Putri, memancarkan emosi yang pas antara takut, sedih, dan berani. Duo Kiki dan Cecep tak hanya sebagai sampingan mereka membawa warna komedi yang cukup efektif meredam ketegangan film.
Interaksi mereka memberi keseimbangan yang menyentuh di tengah suasana seram.
Pamali: Tumbal adalah sajian horor lokal yang berhasil meramu unsur budaya dalam paket sinematik yang menegangkan dan emosional. Film ini tepat untuk kamu yang mencari horor dengan akar tradisi dan nilai moral, bukan sekadar jump scare.
Meski beberapa aspek seperti cerita dan efek visual masih bisa lebih dikembangkan, atmosfer dan pesan budaya yang dibawanya tetap terasa kuat dan menyita perhatian.
Bagi penggemar horor Indonesia atau mereka yang ingin merasakan ketegangan budaya lokal dalam bentuk film Pamali: Tumbal layak dijadikan pilihan. (fie)
Editor : A. Nugroho