RADAR MALANG – Hidup sebagai mahasiswa perantau identik dengan perjuangan mengatur keuangan. Biaya kos, transportasi, kuota internet, hingga kebutuhan kuliah sudah cukup menguras dompet, sehingga urusan makan sehari-hari harus benar-benar diperhitungkan.
Tidak heran jika banyak mahasiswa di Malang memilih untuk berbelanja langsung ke pasar tradisional yang ada di sekitar kampus. Selain harganya lebih ramah kantong dibandingkan swalayan modern, belanja di pasar juga memberikan banyak keuntungan, mulai dari pilihan bahan segar hingga kesempatan untuk belajar menawar harga.
Kota Malang sendiri memiliki sejumlah pasar tradisional yang cukup dekat dengan area kampus besar. Misalnya, mahasiswa Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang kerap berbelanja di Pasar Dinoyo, sedangkan mereka yang tinggal di kawasan sekitar Politeknik Negeri Malang atau Universitas Muhammadiyah Malang punya akses mudah ke Pasar Blimbing dan Pasar Besar. Pasar Oro-oro Dowo bahkan menjadi destinasi favorit untuk berburu bahan segar dengan suasana bersih dan tertata. Dari sinilah mahasiswa bisa mulai belajar berhemat sambil tetap menjaga kualitas makanan sehari-hari.Namun, belanja hemat di pasar bukan sekadar soal mencari harga murah. Ada tips dan trik yang perlu diperhatikan agar uang yang dikeluarkan benar-benar efektif.
Pertama, mahasiswa perlu membuat daftar belanja sebelum berangkat. Daftar ini sederhana saja sayur, lauk, bumbu, atau camilan yang memang dibutuhkan. Dengan begitu, mahasiswa tidak akan kalap membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu penting. Belanja tanpa daftar sering kali membuat pengeluaran membengkak, apalagi jika tergoda jajanan pasar yang beraneka ragam.
Kedua, pilih waktu belanja yang tepat. Pasar tradisional biasanya paling ramai di pagi hari, sekitar pukul 05.00–08.00 WIB. Pada jam tersebut, pilihan bahan masih lengkap, kualitasnya segar, dan harga relatif lebih stabil. Mahasiswa yang punya jadwal kuliah siang bisa memanfaatkan waktu pagi untuk berbelanja lebih tenang.
Namun, ada juga trik lain datang menjelang siang atau sore, ketika beberapa pedagang mulai menurunkan harga agar dagangannya cepat habis. Risiko bahan tidak terlalu segar memang ada, tapi untuk kebutuhan tertentu, cara ini bisa menjadi solusi hemat.
Ketiga, jangan sungkan untuk menawar harga. Di pasar, tawar-menawar adalah hal yang wajar. Mahasiswa bisa mulai dengan bertanya harga ke beberapa penjual untuk membandingkan. Jika merasa harga terlalu tinggi, cobalah menawar dengan sopan.
Pedagang biasanya memberikan harga yang lebih ramah jika pembeli membeli dalam jumlah agak banyak atau menjadi langganan tetap. Dengan keterampilan menawar, selisih Rp 2.000–Rp 3.000 bisa terkumpul menjadi penghematan besar dalam sebulan.
Selain itu, mahasiswa juga bisa menerapkan strategi belanja mingguan. Daripada berbelanja setiap hari, lebih hemat jika kebutuhan pokok seperti beras, minyak, telur, dan bumbu dapur dibeli dalam jumlah cukup untuk seminggu. Untuk sayuran dan lauk segar, bisa dijadwalkan 2–3 kali belanja dalam seminggu. Pola ini tidak hanya menghemat ongkos transportasi, tetapi juga membantu mahasiswa mengatur pola makan lebih teratur.
Beberapa mahasiswa bahkan memilih untuk patungan belanja dengan teman sekos. Cara ini cukup efektif, misalnya membeli sayur, ayam, atau ikan dalam jumlah besar lalu dibagi rata. Harga grosir biasanya lebih murah, sehingga per orang bisa mendapat bagian lebih hemat dibandingkan membeli sendiri-sendiri. Selain itu, patungan belanja juga bisa jadi ajang mempererat hubungan antar teman kos, sekaligus belajar mengatur dapur bersama.
Di sisi lain, jangan remehkan potensi jajanan pasar yang murah meriah namun mengenyangkan. Di Pasar Dinoyo, misalnya, mahasiswa bisa menemukan lontong sayur, nasi pecel, hingga gorengan dengan harga mulai Rp 3.000–Rp 10.000. Camilan tradisional seperti lupis, klepon, atau onde-onde juga bisa menjadi alternatif sarapan hemat. Bagi mahasiswa yang sering terburu-buru, membeli makanan matang di pasar bisa menjadi jalan tengah antara hemat dan praktis.
Selain aspek penghematan, belanja di pasar juga memberi pengalaman sosial yang berharga. Mahasiswa belajar berinteraksi dengan pedagang, mengenal jenis-jenis bahan masakan, hingga memahami dinamika ekonomi lokal. Banyak pedagang di pasar yang ramah dan senang berbagi tips memasak sederhana, sesuatu yang mungkin tidak bisa ditemui jika belanja di minimarket modern. Bagi mahasiswa perantau, pengalaman ini tak hanya soal memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memperkaya kehidupan sosial di perantauan.
Jadi, bagi mahasiswa perantau, jangan ragu untuk menjadikan pasar tradisional sebagai “ruang belajar” kedua setelah kelas. Di sanalah keterampilan mengatur keuangan, berinteraksi sosial, dan mengelola kebutuhan sehari-hari benar-benar ditempa. Dengan begitu, hidup hemat bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang menemani perjalanan kuliah di Kota Malang. (mkp)
Editor : A. Nugroho