Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Beras Fortifikasi vs Beras Biasa: Kenali Fakta, Kandungan, hingga Proses di Baliknya

A. Nugroho • Selasa, 16 September 2025 | 21:10 WIB
BERGIZI: Beras fortifikasi sebagai strategi mengatasi kekurangan gizi dan stunting
BERGIZI: Beras fortifikasi sebagai strategi mengatasi kekurangan gizi dan stunting

RADAR MALANG - Beras adalah makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hampir tiap hari kita mengonsumsi nasi. 

Kandungan dalam beras juga membawa manfaat baik untuk kesehatan, seperti vitamin dan mineral. Namun, dalam proses penggilingan dan pengolahannya ada banyak zat gizi yang justru hilang. Sehingga muncul ide untuk memperkaya kembali produk pangan pokok seperti beras agar kandungan gizinya lebih maksimal.

Dari sinilah kemudian muncul konsep beras fortifikasi. Beras ini adalah beras yang diberi vitamin dan mineral tambahan agar asupan gizinya semakin meningkat tanpa harus merubah kebiasaan makan. 

Jadi ketika kamu mencuci beras dan menemukan beras yang punya bentuk berbeda, jangan parno dulu. Coba cek kembali kemasannya apakah itu termasuk beras fortifikasi atau bukan. Nah supaya kamu semakin paham, yuk simak penjelasan mengenai beras fortifikasi berikut. 

 

Apa Itu Beras Fortifikasi?

Beras fortifikasi sebenarnya adalah beras biasa namun telah diperkaya dengan nutrisi tambahan seperti vitamin dan mineral. Melalui penambahan nutrisi tambahan ini juga tidak mengubah rasa, bentuk, atau cara memasak nasi tersebut. 

Pada prinsipnya, beras fortifikasi ini bertujuan untuk mengatasi kekurangan gizi dengan menambahkan nutrisi pada makanan pokok. Kekurangan zat gizi tersebut seperti kekurangan zat besi, vitamin A, asam folat, atau zinc. Jika ini dibiarkan tentu akan menyebabkan gangguan perkembangan dan daya tahan tubuh pada anak. 

Ciri-ciri yang bisa dikenal dari beras fortifikasi ini sebenarnya tidak banyak berbeda dari biasa. Mulai dari warna, cara memasaknya, hingga teksturnya juga hampir sama sehingga sulit dibedakan secara visual. Namun jika kamu mencuci beras ini dan melihatnya secara teliti, kamu akan bisa melihat perbedaannya dengan beras biasa meskipun hampir tak tampak. 

 

Kandungan dari Beras Fortifikasi

Beras fortifikasi sendiri mengandung mikronutrien tambahan yang biasanya berkurang dalam proses penggilingan beras biasa. Beberapa unsur gizi yang ditambahkan seperti zat besi (Fe), zinc (Zn), vitamin B kompleks seperti B1, B3, B6, vitamin B9 (asam folat), serta vitamin A. 

Salah satu contoh produk beras fortifikasi adalah merek beras Fortivit di Indonesia. Beras ini terbukti memiliki kandungan zinc (Zn) yang jauh lebih tinggi dibanding beras biasa menurut berbagai penelitian. Selain itu, kandungan vitamin-vitamin seperti B1, B3, B6, B9 dan juga zat besi dalam beras fortifikasi juga efektif mampu mengurangi anemia dan stunting pada anak-anak. 

Penting juga diketahui bahwa kandungan tersebut bisa sedikit berkurang oleh faktor-faktor seperti pencucian beras dan proses memasak. Namun secara keseluruhan kandungan dari beras fortifikasi masih lebih tinggi dibandingkan beras biasa.

 

Proses Produk Beras Fortifikasi 

Produksi beras fortifikasi dimulai dari pembuatan FRK (Fortified Rice Kernel). Kernel ini dibuat dengan cara mencampur tepung beras dengan vitamin dan mineral sesuai standar gizi, kemudian diolah agar butirannya menyerupai beras. 

Setelah kernel fortifikasi siap, tahap berikutnya adalah mencampurkannya dengan beras biasa dalam proporsi tertentu. Misalnya, pada merek beras “Fortivit” di Indonesia, satu kernel fortifikasi dicampur ke dalam 99 bagian beras biasa (rasio 1:99). Hal ini agar distribusi zat gizinya merata.

Setelah pencampuran, beras fortifikasi harus melalui kontrol mutu berat agar setiap porsi nasi yang dimasak memiliki kandungan yang cukup. Jika telah lolos kontrol, beras akan dikemas dan didistribusikan. Proses ini juga melibatkan serangkaian uji laboratorium untuk memastikan kandungan vitamin/mineral sesuai standar dan bahwa tidak ada efek samping yang signifikan.

Di Indonesia, salah satu tantangan dalam produksinya adalah memastikan bahwa kernel fortifikasi dapat didistribusikan secara merata. Selain itu biaya tambahan produksi juga menjadi perhatian agar harga jual tetap terjangkau bagi masyarakat luas. Terakhir adalah perlu adanya regulasi dan pengawasan supaya standar fortifikasi, label gizi, dan keamanan pangan terpenuhi.


Beras fortifikasi adalah inovasi pangan yang praktis dan efektif untuk meningkatkan asupan gizi mikro masyarakat. Terutama di negara yang sangat tergantung pada konsumsi beras seperti Indonesia. Jadi sekarang jika kamu menjumpai beras dengan bentuk yang sedikit berbeda tidak perlu panik lagi ya! (kdk)

Editor : A. Nugroho
#indonesia #Gizi #beras fortifikasi #anemia #beras fortivit