Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tren Graffiti Old School hingga Shuvit Tetap Eksis di Kota Malang

A. Nugroho • Minggu, 28 September 2025 | 17:55 WIB
TRANSFORMASI: Teguh Hari tengah menggambar di salah satu tembok di Kota Batu beberapa waktu lalu
TRANSFORMASI: Teguh Hari tengah menggambar di salah satu tembok di Kota Batu beberapa waktu lalu

DUNIA graffiti memang tidak pernah berhenti bergerak. Setiap beberapa tahun sekali, gaya dan tren yang digandrungi para bomber selalu berubah. Pergeseran itu dipengaruhi banyak hal. Mulai dari musik, mode, hingga situasi sosial yang sedang ramai.

 

Belakangan, gaya old school kembali jadi primadona. Font besar dengan warna kontras mendominasi tembok-tembok kosong di Kota Malang. Nuansa era 90-an yang lekat dengan musik hip-hop dan fashion lawas membuat gaya ini terasa segar lagi.

 

”Banyak musik dan style fashion era lama yang kembali dinikmati. Tren itu ternyata berpengaruh besar pada artwork teman-teman writer,” ungkap Andis Fairuz, anggota Conneight Studio.

 

Tak hanya font, nostalgia juga merambah ke karakter. Salah satunya gaya Shuvit yang terinspirasi dari trik skateboard berputar 180 derajat di udara. Visualnya biasanya berupa tokoh kartun bergaya skater, lengkap dengan pakaian longgar atau aksi melompat sambil memutar papan. Gaya ini sedang banyak dihidupkan kembali oleh para bomber muda.

 

Meski begitu, setiap style punya tingkat kesulitan masing-masing. Writer dengan karakter semprot berbeda akan menghadapi tantangan saat mencoba gaya baru. Menggarap font misalnya, butuh ketelitian dalam menyamakan ukuran huruf dan menegaskan goresan.

 

Sementara efek tiga dimensi memaksa mereka berlama-lama di depan tembok. Kadang sampai berjam-jam bahkan lebih dari sehari.

 

Menurut Andis, tren juga sering muncul karena momentum. Misalnya, situasi politik yang panas, event graffiti bergengsi, hingga pameran seni jalanan. Dari sana lahir gaya dekoratif yang belakangan mulai banyak dilirik. Gaya ini lebih menonjolkan sisi estetika, bukan hanya pesan protes.

 

”Awalnya graffiti jadi wadah menyalurkan keresahan pribadi. Sekarang juga bisa jadi medium untuk menunjukkan karya estetik,” ujarnya. Hasilnya tak melulu di tembok. Banyak karya dibuat di kanvas, stiker, bahkan benda sehari-hari.

 

Dari old school yang nostalgis, Shuvit yang enerjik, hingga dekoratif yang artistik, graffiti terus berevolusi. Namun satu hal yang tetap sama. Ia selalu menjadi cermin zaman, suara jalanan, sekaligus ruang ekspresi anak muda yang tak habis ide. (zan/adn)

Editor : A. Nugroho
#tren #old school #Kota Malang #graffiti