TAK semua bomber atau seniman graffiti di Malang Raya lahir dari dunia seni rupa. Sebagian besar justru belajar otodidak yang hanya bermodal rasa penasaran. Dari sekadar coret-coret iseng, kini banyak di antara mereka yang justru rutin kebanjiran project mural di berbagai lokasi.
Salah satunya dialami Teguh Hari, bomber asal Kota Batu. Pria yang akrab disapa Tui itu pertama kali mengenal graffiti ketika masih SMP pada 2007. Saat itu medianya hanya kertas dengan gambar sederhana. ”Baru pas SMA mulai coba pakai cat semprot,” kenangnya.
Awalnya, aksinya sering dianggap vandalisme. Tembok yang ia coret-coret tak jarang menuai protes. Apalagi ruang untuk belajar graffiti di Malang kala itu sangat terbatas.
Tui tak kehabisan akal. Ia mencari referensi di media sosial, mengamati karya bomber internasional seperti 123klan hingga komunitas lokal Tembok Bomber. Dari situlah ia makin serius menekuni graffiti.
Sejumlah nama besar juga ikut menginspirasinya. ”Saya banyak belajar dari bomber seperti Tutugraff, Wormo, dan Darbotz,” ujar alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu.
Tui lebih senang menggarap font ketimbang karakter. Menurutnya, mengeksplorasi huruf memberi ruang lebih luas untuk berkreasi. Perlahan, peluang datang. Ia mulai ditawari project, dari kafe hingga tempat wisata.
Puncaknya pada 2011, Tui dipercaya menggarap gedung untuk acara televisi Dahsyat di RCTI. Sejak itu, ia kian matang. Selain aktif memopulerkan graffiti di Kota Batu, ia juga membuka toko perlengkapan cat semprot dan menjual desain karya sendiri.
Kisah serupa juga dialami Muhammad Prasetyo Lanang. Tyo, sapaan akrabnya, lahir dari keluarga seniman. Dorongan itu membuatnya mencoba banyak bidang seni, termasuk graffiti. Ia mulai belajar pada 2017 dengan bantuan YouTube. Coretan pertamanya lahir di tembok belakang rumah.
Dari situ, Tyo rajin mencari komunitas. Project pertamanya datang dari sebuah tempat laundry di Kota Malang. Tak lama, ia dipercaya membuat karya di kampung saat peringatan HUT RI.
Job terbesar datang pada 2022, ketika ia mengerjakan mural berukuran 10 meter di lapangan basket salah satu sekolah di Lawang. ”Waktu itu butuh dua minggu untuk selesai sendirian,” kenangnya.
Berbeda dengan Tui, Tyo lebih nyaman menggarap karakter. Baginya, font memang menarik, tapi jauh lebih tricky. ”Kalau karakter, saya bisa lebih bebas bereksperimen,” tuturnya. (ori/adn)
Editor : A. Nugroho