Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sejarah dan Filosofi Batik, Malang Ikut Merayakan Hari Batik Nasional

A. Nugroho • Kamis, 2 Oktober 2025 | 20:38 WIB

 

Hari Batik Nasional jadi momentum mengenang sejarah dan filosofi batik. Warga Malang pun turut merayakan warisan budaya ini.
Hari Batik Nasional jadi momentum mengenang sejarah dan filosofi batik. Warga Malang pun turut merayakan warisan budaya ini.

 

RADAR MALANG – Setiap tanggal 2 Oktober, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan ini ditetapkan sejak UNESCO mengakui batik sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2 Oktober 2009. Sejak itu, batik bukan hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga simbol kebanggaan bangsa.

Bagi masyarakat Malang, Hari Batik Nasional menjadi momentum untuk semakin mencintai warisan budaya leluhur. Tak sedikit instansi pemerintah, sekolah, hingga perguruan tinggi di Malang yang mengajak warganya mengenakan batik sebagai bentuk apresiasi dan rasa bangga. Tradisi ini sekaligus memperkuat posisi Malang sebagai kota yang turut menjaga nilai budaya nasional.

Lebih dari sekadar pakaian, batik menyimpan sejarah panjang, filosofi mendalam, dan teknik pembuatan yang khas. Keindahan motif batik mencerminkan kekayaan budaya Indonesia yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.

Pengertian Batik dan Teknik Pembuatan

Secara etimologis, kata batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis atau lebar, serta “titik” yang merujuk pada proses penempatan titik untuk membentuk motif. Batik dibuat dengan teknik perintang warna, yaitu menggunakan malam atau lilin untuk menutupi bagian kain tertentu sebelum dicelup ke dalam pewarna.

Proses pembuatannya bisa dilakukan dengan cara batik tulis yang menggunakan canting, batik cap dengan stempel tembaga, atau batik printing dengan mesin cetak. Setiap teknik menghasilkan karakter berbeda, baik dari segi nilai seni, kerumitan, maupun harga.

Sejarah Batik di Indonesia

Jejak batik di Nusantara sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit dan berkembang pesat pada masa Mataram, Solo, dan Yogyakarta. Dahulu, batik hanya dipakai kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan sebagai simbol status sosial. Seiring waktu, batik menyebar ke masyarakat umum hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pada abad ke-19, batik mulai dikenal luas di dunia internasional melalui perdagangan Belanda. Puncaknya, pada 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai warisan dunia. Penetapan ini disambut dengan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 yang menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Ragam Motif Batik

Setiap daerah memiliki ciri khas batik masing-masing. Misalnya, batik Parang melambangkan kekuatan dan pantang menyerah, batik Mega Mendung dari Cirebon menggambarkan kesabaran, sementara batik Sidomukti kerap dipakai dalam pernikahan sebagai simbol kebahagiaan. Ada pula batik Pesisir yang cerah dan dinamis, serta batik Madura yang dikenal berani dengan warna-warna mencolok.

Batik di Malang

Sebagai salah satu kota budaya, Malang juga memiliki corak batik khas. Motif yang terinspirasi dari Gunung Arjuna, bunga apel, hingga ikon kota lainnya menjadi daya tarik tersendiri. Kehadiran batik Malangan menambah kekayaan batik Nusantara, sekaligus menjadi identitas lokal yang patut dilestarikan.

Momentum Hari Batik Nasional

Hari Batik Nasional bukan hanya perayaan seremonial, tetapi juga ajakan untuk mencintai karya bangsa. Di Malang, peringatan ini dimaknai dengan mengenakan batik di sekolah, kantor, hingga ruang publik. Lebih dari itu, masyarakat juga diajak mengenal filosofi di balik motif batik serta pentingnya menjaga kelestariannya.

Batik tidak sekadar kain bermotif indah, melainkan warisan budaya yang mencerminkan jati diri bangsa. Dengan menjaga dan melestarikan batik, Malang ikut berperan dalam memastikan warisan luhur ini tetap hidup untuk generasi mendatang. (id)

Editor : A. Nugroho
#sejarah #hari batik #batik