Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Seniman di Losmen Kawi, Kamar Nomor Dua Kerap Ditempati Affandi Koesoema

A. Nugroho • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 20:47 WIB

 

SISA SEJARAH: Syamsu Soeid, cucu pendiri Losmen Kawi menunjukkan papan penanda yang pernah terpajang di fasad pembangunan.
SISA SEJARAH: Syamsu Soeid, cucu pendiri Losmen Kawi menunjukkan papan penanda yang pernah terpajang di fasad pembangunan.

RADAR MALANG -  Sebuah bangunan kuno bercat putih itu terlihat masih kokoh di lorong gang Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu. Sebagian temboknya dihiasi lumut tipis yang menempel seperti ukiran waktu.

Catnya mulai pudar, jendelanya masih bergaya klasik, dan nomor kamar tua masih melekat di atas pintu kayu. Itulah yang tersisa dari Losmen Kawi, penginapan legendaris di Kota Batu. Bangunan yang dulu ramai oleh seniman besar, kini hanya sunyi menyimpan cerita.

Losmen Kawi didirikan oleh Hardjosikin, seorang perantau asal Madiun yang menikah dengan perempuan asli Batu. Sejak resmi beroperasi pada 1960, losmen ini menjadi salah satu tempat penginapan favorit di Batu.

Bangunan seluas 600 meter persegi itu mulanya hanya memiliki sepuluh kamar. Lalu ber kembang hingga 23 kamar. Uniknya, kamar bernomor 13 tidak pernah ada. Losmen Kawi dulunya tercatat di Jalan Trunojoyo Nomor 43, Ibukota Asistenan Batu, Kawedanan Pudjon, Kabupaten Malang.

Setelah Batu lepas dari daerah Kabupaten Malang pada 2001, secara administrasi, losmen berada di Jalan Panglima Sudirman Nomor 19, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu.

”Dulu bentuk bangunannya letter U, dua sisi berhadapan dengan ruang terbuka hijau di tengah. Sampai sekarang halamannya masih sama, terbuka dan sejuk,” kenang cucu pendiri Losmen Kawi Syamsu Soeid.

Kamar Kamar di losmen itu memang menyimpan cerita. Salah satunya kamar nomor dua di bagian depan. Kamar berukuran 4x4 meter itu selalu menjadi pilihan maestro lukis Affandi Koesoema setiap kali singgah di Kota Apel.

Alasannya sederhana, yakni pintu dan jendela kamar menghadap timur. Begitu pagi datang, cahaya matahari masuk cukup terang. Cahayanya bisa menerangi kanvas yang sudah disiapkan. Affandi terkenal gemar berjemur di halaman sebelum mulai melukis. Kudapan favoritnya pun sederhana, dua butir telur rebus setengah matang dengan taburan garam dan merica.

”Beliau biasanya baru mulai melukis sekitar jam 09.00 atau 10.00. Saya pernah mengintip dari pintu kamar yang terbuka, melihat beliau melukis ditemani asistennya,” cerita Syamsu sambil tersenyum.

Kala itu, Syamsu masih duduk di bangku SMP. Ia belum tahu siapa sebenarnya tamu yang sering menginap itu. ”Baru setelah SMA sekitar tahun 1975, saya mengintip beliau melukis,” ujarnya.

Dari balik pintu, ia terpesona melihat tangan Affandi lincah menggoreskan kuas. Ia teringat saat Affandi menggigit semangka dan muncul bayangan, tangannya langsung lihai melukis di kanvas.

Affandi bukan satu-satunya tamu istimewa. Lima album foto keluarga Hardjosikin masih menyimpan bukti bahwa Losmen Kawi pernah menjadi persinggahan banyak nama besar.

Ada wajah pedangdut Rita Sugiarto, grup Soneta beserta Rhoma Irama, presenter kondang Koes Hendratmo, hingga Ketua Mahkamah Agung era 1981–1984 Mudjono SH. Bahkan grup ludruk legendaris Cak Kancil kerap menginap hingga sebulan penuh setiap kali pentas di Batu.

Pada masa jayanya, Losmen Kawi bersaing dengan dua penginapan lain. Yakni Losmen Panderman dan Losmen Arjuno. Lokasinya strategis, berada tepat di jantung kota Batu yang saat itu masih berstatus sebagai bagian dari Kabupaten Malang.

Harga sewa nya pun sangat terjangkau. ”Waktu saya kecil, tarifnya Rp 1.500 per malam. Bahkan sering gratis, karena konsep losmen ini memang kekeluargaan. Bapak saya, Soeid Hardjo sikin, senang berbaur dengan tamu,” kata Syamsu.

Tak heran bila banyak tamu betah menginap. Tarif kamar perlahan naik, hingga pada awal 2000an mencapai Rp 50 ribu per malam. Namun era losmen keluarga perlahan meredup. Munculnya hotel hotel baru dengan fasilitas kamar mandi dalam membuat penginapan sederhana seperti Losmen Kawi sulit bertahan.

Pada 2005, pintu losmen akhir nya ditutup. ”Kami tak bisa bersaing. Operasionalnya sudah berat sekali,” ungkap Syamsu. Kini bangunan itu sudah banyak berubah. Bagian depan dirombak menjadi pertokoan dan pujasera yang dikelola cucu cicit Hardjo Sikin.

Namun beberapa jejak lama tetap di biar kan, seperti fasad tinggi, jendela kayu, serta satu kamar di belakang bernomor 17 yang masih utuh. Kamar itu kini dijadikan gudang keluarga. Sementara tiga kamar lain di bagian belakang disulap menjadi kafe bernama Askara Park.

Konsepnya menyatu dengan alam, mempertahankan halaman tengah yang lapang, lengkap dengan pintu, jendela, dan keramik abu-abu tua yang asli sejak puluhan tahun silam. Dari luar, bangu nan itu tetap tampak lebih tinggi dibanding jalan raya, seolah menolak ditelan zaman.

Meski sudah tak lagi beroperasi sebagai penginapan, Losmen Kawi tetap menyimpan kisah tentang Batu di masa lalu. Kisah tentang tamu tamu istimewa, suasana keke luar gaan yang hangat, dan sebuah bangunan putih yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarah Kota Wisata Batu. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#losmen kawi #affandi koesoema #Kota Malang