RADAR MALANG - Sebelas kali jarum menembus kulit belum membuat Kheyla Tevinya Sheva jera. Perempuan asal Kota Malang itu justru masih berencana menambah tindikan di telinganya. Baginya, piercing bukan sekadar aksesori, melainkan bagian dari proses membangun kepercayaan diri, terutama dalam pekerjaannya sebagai model foto.
Kheyla pertama kali mencoba piercing pada 2021. Pilihan awalnya adalah tindik loops di telinga kiri. Pengalaman pertama tersebut diakuinya cukup berat karena rasa sakit yang muncul. Namun seiring waktu, tubuhnya mulai beradaptasi. ”Awalnya sakit sekali, tapi lama-lama jadi terbiasa,” ujarnya.
Sejak saat itu, piercing menjadi bagian dari gaya personalnya. Hingga kini, Kheyla telah melakukan tindik sebanyak sebelas kali. Sebagian besar berada di area telinga, sementara satu titik lainnya berada di bagian perut. Meski sudah cukup banyak, ia mengaku belum merasa cukup. Dalam waktu dekat, ia masih ingin menambah tindikan di area telinga.
Dari seluruh pengalaman yang dijalaninya, Kheyla menilai tindik di area helix atau tulang rawan telinga sebagai yang paling menantang. Lokasinya berada di tepi atas telinga luar, sehingga proses penyembuhannya terasa lebih lama. ”Yang paling sakit itu helix. Setelah ditindik saya langsung migrain,” katanya.
Selain rasa sakit, ketidaknyamanan juga muncul pada masa awal pemakaian. Area helix mudah tersenggol, terutama saat tidur, sehingga membuatnya harus ekstra berhati-hati selama sekitar satu bulan pertama. Menurutnya, fase ini menjadi ujian tersendiri bagi mereka yang baru mencoba piercing di tulang rawan.
Kesadaran akan risiko kesehatan membuat Kheyla cukup disiplin dalam perawatan. Ia rutin membersihkan area tindik menggunakan cairan NaCl untuk membantu penyembuhan dan mengurangi nyeri. Pada kondisi tertentu, ia juga menggunakan alkohol di beberapa titik piercing. Langkah tersebut ia lakukan untuk meminimalkan risiko infeksi.
Meski demikian, ia mengingatkan agar tren tersebut tidak diikuti secara gegabah. Perawatan dan kesiapan mental tetap menjadi hal utama. ”Boleh FOMO, tapi tetap bertanggung jawab terhadap kesehatan diri,” tandasnya. (zan/adn)
Disunting kembali oleh: Satya Eka Pangestu
Editor : Aditya Novrian