MALANG - Ramadan saatnya meningkatkan kualitas keimanan setiap muslim. Salah satu yang sering dikaji di dunia pesantren adalah Kitab Ushfuriyah alias Kitab Burung Pipit alias Burung Emprit. Judul aslinya Al Mawaidzul Usfhuriyah alias Nasihat-Nasihat Burung Pipit.
Dinamai demikian karena kitab ini berisi tentang hikayat burung pipit dikaitkan dengan salah satu hadis Nabi Muhammad SAW. Total berisi 40 hadis-hadis pendek yang muaranya adalah perbaikan kualitas diri setiap muslim.
Penyusunnya, Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Alias Syekh Al Ushfuri alias Syekh Burung Pipit. Ia menisbatkan namanya pada burung yang dikasihi Sayyidina Umar bin Khattab itu karena begitu terkesannya terhadap hikayat tersebut.
Baca Juga: Tak Sekadar Melepas Dahaga dan Rasa Lapar, Ini Adab Berbuka Puasa Menurut Sunah Rasulullah SAW
Dalam pengantarnya, Syekh Muhammad bin Abu Bakar mengaku menyusun kitab itu setelah mendapatkan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa: “Barangsiapa mengumpulkan 40 hadis niscaya ia berada dalam maaf dan ampunan.”
Syekh Muhammad bin Abu Bakar merasa sebelumnya telah bergelimang dosa dan kedurhakaan. Dan, menyusun kitab ushfuriyah adalah caranya untuk menebusnya untuk mendapat ampunan dari Allah SWT.
Di dunia pesantren, sebenarnya kitab ini tergolong “kitab pinggiran” alias bukan kitab utama yang menjadi pelajaran pokok para santri. Meski demikian, isinya tidak bisa disebut sebagai pinggiran.
Biasanya, kitab ini dibaca saat senggang. Seperti saat menjelang berbuka puasa setiap Ramadan. Sebagai selingan dari kajian terhadap kitab-kitab utama yang lebih berat menyangkut ilmu Alquran, hadits, tauhid, maupun fikih.
Di pesantren, kitab ini tidak harus diajarkan langsung oleh seorang kiai. Tapi, bisa diwakili oleh santri-santri senior. Ini karena isinya yang tergolong ringan.
Baca Juga: Bolehkan Minum Obat Saat Puasa? Simak Aturan dan Waktu yang Tepat
Para kiai di kampung, biasanya mengajarkan kitab ini sebagai pedoman moral untuk para awam. Selain dibaca di sela-sela Ramadan, biasanya juga diselipkan di sela-sela ceramah atau pengajian.
Disebut ringan karena setiap hadis dalam kitab ini diselingi dengan kisah-kisah yang menarik dalam kehidupan sehari-hari. Kisah-kisah itulah yang menjadi daya pikat masyarakat awam untuk mendengarkan.
Di antara isi kitab ini adalah ajaran tentang pentingnya mengasihi sesama makhluk, jangan pernah berputus asa terhadap rahmat Allah, keutamaan menghormati orang tua, keutamaan mencari ilmu, keutamaan salat Jumat, dan keutamaan kalimat tauhid.
Ada juga tentang pahala untuk ahli Jumat, keutamaan sedekah, rezeki Allah yang tidak akan ke mana, penyesalan yang sia-sia, hikmah sakit, ancaman riya’, dan tipu daya dunia.
Selain itu, ada amalan-amalan di hari Jumat, amalan-amalan sebelum tidur, dan keutamaan ayat-ayat tertentu.
Karena itu, bagi kalangan awam, kitab ini bisa menjadi panduan dalam amalan hidup sehari-hari. (*)
Editor : Aditya Novrian