Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 2, Kisah 3 tentang Pendosa yang Jenazahnya Dibuang di Tempat Sampah

Aditya Novrian • Sabtu, 21 Februari 2026 | 16:00 WIB

Sampul Kitab Ushfuriyah
Sampul Kitab Ushfuriyah

MALANG - Ada tiga kisah yang disertakan dalam hadis kedua dalam Kitab Al Mawa’idhul ‘Usfhuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Yakni, hadis tentang pentingnya tidak pernah berputus asa atas rahmat dan ampunan dari Allah SWT.

Hadis itu diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Hamba yang penuh dosa tetapi selalu mengharap ampunan Allah lebih baik daripada hamba yang selalu beribadah tetapi berputus asa terhadap rahmat-Nya.”

Jika kisah pertama dan kedua bercerita tentang ahli ibadah yang putus asa dan pendosa yang takut kepada Allah, kisah ketiga terkait dengan cerita seorang lelaki yang meninggal pada masa Nabi Musa as.

Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 1, Kisah 2 tentang Niat Sedekah Bani Israil yang Langsung Diganjar Pahala 

Dikisahkan, ketika lelaki itu meninggal, tidak ada seorang pun yang mau memandikan dan mengafani jenazahnya mengingat perangainya yang penuh kedurhakaan semasa hidup. Bukannya mengubur, orang-orang malah menyeret kaki jenazah itu dan membuangnya ke tempat sampah.

Allah lantas mewahyukan kepada Nabi Musa: “Wahai Musa, ada seorang lelaki yang telah mati di kampung ini dan jenazahnya dibuang di tempat sampah. Dia adalah salah satu kekasih-Ku. Orang-orang enggan memandikan, mengafani, dan menguburkan. Pergilah! Mandikanlah dia! Kafanilah dia! Sholatkanlah dia! Dan kuburkanlah dia dengan kemuliaan!”

Maka, berangkatlah Musa ke kampung tersebut dan menanyakan keberadaan jenazah si lelaki kepada penduduk sekitar.

“Benar, di sini telah meninggal seorang durhaka,” jawab mereka. Kisah kedurhakaan lelaki itu kemudian meluncur dari mulut para penduduk yang menunjukkan raut kebencian.

“Di mana ia kini?” tanya Musa. “Aku kemari semata-mata karena diutus Allah untuk lelaki yang kalian anggap durhaka itu.”

Diantar penduduk kampung, Musa menjenguk mayat di tempat sampah itu. Setelah melihat jenazah itu, Musa pun heran terhadap perintah Allah yang diterimanya.

“Ya Allah, Engkau mengutusku menguburkan dan menyolati lelaki ini. Padahal, kaumnya menyaksikan dia sebagai seorang yang durhaka. Hidupnya hanya melakukan perbuatan tercela. Hanya Engkau Yang Maha Tahu daripada mereka soal puji dan cela.”

Allah lalu menjawab: “Hai, Musa! Benar apa yang telah dikatakan penduduk tentang keburukan perbuatan lelaki itu. Hanya saja, lelaki itu meminta syafaat dari-Ku pada waktu kematiannya dengan merayu-Ku melalui tiga hal yang mana andai seluruh pendosa meminta-ku dengan rayuan tiga hal tersebut, niscaya Aku akan memberikannya.

Lantas bagaimana Aku tidak mengasihi lelaki itu padahal dia meminta kepada-Ku dengan hatinya. Sedangkan Aku adalah Allah, Dzat Yang Maha Paling Mengasihi.”

“Apakah ketiga hal itu, Ya Allah?”, tanya Musa.

Allah menjelaskan, “(Pertama) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia mengadu kepadaku: Ya Allah, Engkau mengetahui segala maksiat yang aku perbuat, padahal sebenarnya aku sangat membenci maksiat itu. Mengapa kulakukan juga padahal aku membencinya, itu karena tiga hal, wahai Tuhanku.

 

Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 1, Kisah 2 tentang Niat Sedekah Bani Israil yang Langsung Diganjar Pahala 

Pertama adalah hawa nafsu. Kedua adalah teman buruk. Ketiga adalah Iblis, semoga laknat Allah menimpanya. Tiga hal ini telah menjerumuskanku ke dalam lubang kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang mengetahui apa yang aku ucapkan. Oleh karena itu, ampunilah aku.

(Kedua) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia berkata, ‘Sesungguhnya Engkau mengetahui kalau aku telah melakukan kemaksiatan-kemaksiatan di mana posisiku saat itu adalah bersama orang-orang fasik. Akan tetapi aku senang berteman dengan orang-orang sholih dan aku menyukai kezuhudan meraka. Posisiku bersama mereka adalah lebih aku sukai daripada bersama orang-orang fasik’.

(Ketiga) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia berkata, ‘Ya Allah! Sesungguhnya Engkau tahu daripadaku kalau orang-orang sholih adalah lebih aku sukai daripada orang-orang fasik hingga andai ada dua orang, yang satu adalah orang sholih dan yang satunya adalah orang buruk mendatangiku, maka aku akan mendahulukan memenuhi hajat orang satu yang sholih dan mengakhirkan hajat orang satunya yang buruk.

(Dalam riwayat Wahab ibn Munabbah, perkataan yang ketiga dari lelaki itu adalah): “Ya Allah, Andai Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku maka para wali dan para nabi-Mu akan senang. Sedangkan setan, musuhku dan musuh-Mu, akan bersedih.

Tetapi apabila Engkau menyiksaku, maka setan dan teman-temannya akan senang. Sementara, para nabi dan para wali-Mu akan bersedih. Dan aku tahu kalau rasa senang para wali kepada-Mu adalah lebih Engkau sukai daripada rasa senang setan dan teman-temannya. Oleh karena itu ampunilah aku, Ya Allah. Sungguh Engkau mengetahui apa yang aku ucapkan. Kasihilah aku! Dan maafkanlah aku!”

 

Baca Juga: Mengenal Kitab Ushfuriyah, Biasa Dibaca saat Ramadan, Ada Amalan-Amalan yang Dianjurkan

Kemudian Allah berkata, “Aku telah mengasihinya, memaafkannya dan mengampuninya. Sesungguhnya Aku adalah Dzat Yang Pengasih dan Penyayang, terutama kepada orang yang mengakui dosanya di hadapan-Ku.

Oleh karena laki-laki ini telah mengakui dosanya maka Aku mengampuni dan memaafkannya.

Hai, Musa! Lakukanlah apa yang telah Aku perintahkan! Sesungguhnya Aku akan mengampuni orang-orang yang mau mensholati jenazah laki-laki itu dan menghadiri penguburannya dengan perantara kemuliaannya.

Hikayat atau kisah ketiga ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa seburuk apa pun kita, bahkan sampai dikucilkan oleh masyarakat, sepanjang kita mau meminta ampun kepada Allah dan mengakui dosa-dosa kita, maka Allah mau mengampuni.

Ini selaras dengan hadis Nabi Muhammad di atas yang memerintahkan kita agar tidak putus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah SWT. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah).

Editor : Aditya Novrian
#ngaji ramadan #Kitab Ushfuriyah