Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 6 Kisah 1 tentang Abu Bakar yang Bermimpi Memeluk Matahari dan Rembulan

Aditya Novrian • Selasa, 24 Februari 2026 | 04:00 WIB

Sampul Kitab Ushfuriyah
Sampul Kitab Ushfuriyah

MALANG - Hadis keenam dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar didasarkan riwayat dari Abu Nashr al Wasithi. Ia mengatakan bahwa dirinya mendengar dari Abu Roja’ al-Athoridi tentang riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa ada seorang Baduwi mendatangi Rasulullah SAW.

Kemudian, si Baduwi berkata, “Saya pernah mendengar ya Rasulullah, bahwa Anda pernah mengatakan bahwa dari salat Jumat ke salat Jumat berikutnya merupakan kafarat (pelebur dosa) bagi mereka yang tak melakukan dosa besar. Benarkah?”

Rasulullah SAW menjawab, “Benar.” Lalu menambahkan, “Mandi pada hari Jumat adalah pelebur dosa dan berjalan menuju salat Jumat adalah pelebur dosa. Setiap langkah dari berjalan menujunya adalah seukuran amal selama 20 tahun. Ketika seseorang telah selesai dari salat Jumat maka ia dibalas dengan amal 200 tahun.”

Hadis ini diriwayatkan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 5 Kisah 1 tentang Kunci Surga Laa Ilaaha Illallah

Ada dua hikayat yang disertakan Syekh Muhammad bin Abu Bakar dari hadis keenam ini. Yang pertama, dikisahkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq pada masa jahiliah adalah seorang pedagang besar.

Ketika berdagang ke Syam (Syuriah dan sekitarnya), ia bermimpi seakan matahari dan bulan ada di dalam biliknya. Dua benda itu dipungutnya, didekapkan ke dadanya, dan diikat dengan selendangnya.

Ketika bangun, ia serta merta menuju seorang rahib Nasrani di negeri itu. Ia ingin menanyakan arti dari mimpinya.

“Tuan dari mana?,” tanya sang rahib.

“Dari Makkah.”

“Dari kabilah apa?”

“Tayyim.”

“Apa pekerjaan Tuan?”

“Berdagang.”

Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 4 dan Kisah tentang Kecerdasan Ali Melawan 10 Orang Khawarij

Lalu berkata sang rahib, “Akan muncul pada masa Tuan ini seorang lelaki dari Bani Hasyim yang dikenal dengan nama Muhammad Al Amin. Dia akan menjadi nabi akhir zaman. Tanpa dia, sebenarnya Tuhan tidak menciptakan langit dan bumi dan segenap isinya. Juga tidak menciptakan Adam, para nabi, dan para rasul.

Dialah pemuka para nabi dan rasul. Nabi terakhir. Tuan akan masuk ke dalam agamanya, akan menjadi pembantu setianya, dan pengganti pertamanya setelah ia wafat. Inilah arti dari mimpi Tuan.”

Lalu, si rahib melanjutkan, “Sifat dan perangai lelaki itu sudah tertera dalam Injil, Taurat, dan Zabur. Saya sendiri berislam kepadanya, namun terpaksa saya menyembunyikan keislaman saya. Takut kepada orang-orang Nasrani yang lain.”

Ketika Abu Bakar mendengar penjelasan sang rahib, luluhlah hatinya. Dan besar keinginannya untuk segera bertemu dengan Nabi. Berangkatlah ia kembali ke Makkah, mencari Nabi, dan menemukannya. Lalu, tumbuh kecintaan yang mendalam. Tak bisa lepas rasanya menatap orang mulia itu.

Baca Juga: Mengenal Kitab Ushfuriyah, Biasa Dibaca saat Ramadan, Ada Amalan-Amalan yang Dianjurkan

Suatu saat –selang beberapa waktu kemudian, Nabi SAW bertanya, “Abu Bakar, Anda setiap hari datang kepadaku dan duduk bersamaku. Mengapa tidak juga menjadi Islam?”

“Jika Anda seorang Nabi, tentunya Anda memiliki mukjizat,” jawab Abu Bakar.

Nabi menjawab, “Tidakkah cukup mimpimu waktu di Syam dulu yang dita’birkan seorang rahib yang masuk Islam?”

Mendengar jawaban itu, Abu Bakar langsung mengucapkan kalimat syahadat, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Anda adalah utusan Allah.” Akhirnya Abu Bakar masuk Islam dan bersungguh-sungguh dengan keislamannya.

Melalui hikayat ini, pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa ucapan Nabi selalu terjaga kebenarannya. Bahkan, Abu Bakar yang sempat meragukan kenabian beliau langsung dijawab dengan mengingatkannya tentang mimpi yang pernah didapatnya. Padahal, Abu Bakar belum pernah menceritakannya. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : Aditya Novrian
#ngaji ramadan #Kitab Ushfuriyah