MALANG - Hikayat atau kisah kedua dari hadis keenam Kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar bercerita tentang dua orang bersaudara pemeluk Majusi pada masa Malik bin Dinar (ulama tabi’in pada masa Bani Umayyah yang berasal dari Bashrah, Iraq). Kisahnya cukup panjang, seperti ini:
Sang kakak telah menyembah api selama 73 tahun, sedangkan adiknya selama 35 tahun. Pada suatu ketika, si adik kemudian berkata, “Kakak, kemarilah! Mari kita coba apakah api yang kita sembah itu akan memuliakan kita atau membakar kita sebagaimana api membakar benda-benda lain yang tidak menyembahnya.”
Baca Juga: Mengenal Kitab Ushfuriyah, Biasa Dibaca saat Ramadan, Ada Amalan-Amalan yang Dianjurkan
“Kalau api memuliakan kita maka kita tetap akan menyembahnya. Tetapi apabila api membakar kita, maka kita tidak akan menyembahnya lagi,” lanjutnya.
Sang kakak menjawab, “Baiklah. Aku setuju.” Kemudian keduanya menyalakan api.
“Kakak, kamu dulu atau aku dulu yang meletakkan tangan di atas api?,” tanya si adik.
“Kamu dulu saja,” jawab si kakak.
Kemudian si adik pun meletakkan tangannya di atas api dan ternyata api membakar jari jarinya. “Aaah,” teriaknya sembari menarik tangan menjauh dari api.
“Hai api! Aku telah menyembahmu selama 35 tahun dan kamu telah membuatku sakit terbakar!,” seru si adik.
Ia melanjutkan, “Hai kakak! Mari kita menyembah Tuhan Yang Esa yang apabila kita berbuat dosa dan meninggalkan perintah-Nya selama misalnya 500 tahun maka Dia akan mengampuni dan memaafkan kita dengan kita melakukan ketaatan sebentar saja dan meminta ampun sekali saja.”
Sang kakak pun setuju. Lalu, adiknya berkata, “Mari kita pergi menemui seseorang yang bisa memberikan petunjuk kepada kita pada jalan yang lurus dan mengajari kita tentang agama yang mengajarkan penyerahan diri.”
Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 5 Kisah 1 tentang Kunci Surga Laa Ilaaha Illallah
Keduanya lantas bersepakat menemui Malik bin Dinar (yang ketika itu sudah menjadi ulama terkenal) di Bashrah, Iraq. Saat itu, mereka menjumpai Malik sedang dikelilingi banyak orang di suatu tanah lapang. Malik sedang menyampaikan nasihat-nasihat kepada mereka.
Namun, entah mengapa, tiba-tiba sang kakak berubah pikiran, “Aku tidak jadi masuk Islam. Rasanya sudah terlambat. Umurku sudah habis untuk menyembah api. Jika aku menjadi Islam dan masuk ke dalam agama Muhammad, maka keluarga dan tetangga-tetanggaku akan mencemooh aku. Biarlah, menyembah api lebih baik bagiku daripada mendapat celaan dari mereka.”
“Jangan kakak! Celaan mereka bisa hilang tetapi api neraka tidak bisa hilang,” cegah si adik. Tetapi sang kakak tetap tidak memedulikannya.
Hingga si adik pun mempersilakannya. “Ya sudah! Kembali sana dengan kepercayaanmu menyembah api. Kamu adalah orang yang celaka dan anak dari orang celaka pula. Sungguh orang yang celaka di dunia dan akhirat!,” katanya.
Sang kakak lalu pergi, tidak jadi menemui Malik bin Dinar. Sedangkan si adik kembali untuk mengajak istri dan anak-anaknya yang masih kecil untuk menemui ulama tersebut. Mereka ikut berkumpul bersama orang-orang untuk mendengarkan pengajian dari Malik bin Dinar hingga selesai.
Kemudian, di tengah majelis itu si adik itu berdiri dan menceritakan kisahnya. Ia meminta Malik bin Dinar menuntun dirinya dan keluarganya untuk masuk Islam. Malik bin Dinar lalu menuntun orang itu dan keluarganya masuk Islam, agama yang mengajarkan tentang penyerahan diri total kepada Allah.
Orang-orang pun menangis karena sangat senang dan terharu.
Beberapa saat kemudian, si adik yang telah berislam hendak pulang. Tetapi Malik bin Dinar berkata: “Duduklah sebentar! Aku hendak mengumpulkan harta bersama santri-santriku untukmu.”
“Aku tidak ingin menjual agamaku dengan harta dunia,” jawabnya. Kemudian ia dan keluarganya pergi. Di perjalanan, mereka menemukan bekas pemukiman yang sudah tak berpenghuni. Di salah satu bekas rumah, mereka lantas bermalam dan tinggal.
Pagi hari, setelah salat Subuh, sang istri berkata, “Pergilah ke pasar! Carilah pekerjaan! Dan belilah makanan dari upah kerjamu itu untuk kita.”
Kemudian ia bergegas dan pergi ke pasar mencari pekerjaan. Tapi, ternyata, tak ada seorang pun yang memiliki lowongan pekerjaan.
“Baiklah, kalau tidak ada kerjaan yang aku dapati, aku akan bekerja kepada Allah,” katanya dalam hati. Ia lalu masuk ke dalam masjid yang sudah tidak terpakai dan beribadah hingga malam. Lalu pulang dengan tangan kosong.
“Bagaimana ini, apakah kamu tidak dapat pekerjaan? Kita kan butuh makan?,” tanya sang istri gundah.
Orang itu menjawab, “Sabarlah. Aku sedang bekerja untuk Raja dan Ia belum menggajiku hari ini. Mungkin besok.” Akhirnya, mereka sekeluarga tidur dalam keadaan lapar.
Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 4 dan Kisah tentang Kecerdasan Ali Melawan 10 Orang Khawarij
Besok paginya, orang itu kembali ke pasar dan lagi-lagi tak berhasil mendapatkan pekerjaan meski telah mencarinya seharian. Ia pun kembali masuk ke dalam masjid dan beribadah hingga malam di dalamnya. Lalu, pulang.
“Belum juga dapat pekerjaan agar kita bisa makan?,” tanya istrinya yang semakin gundah.
“Wahai Istriku, Aku sudah bekerja kepada Raja yang sama seperti kemarin dan ia belum menggajiku. Barangkali ia akan menggajiku besok,” jawabnya. Mereka kembali tidur dalam keadaan lapar. Sudah dua malam tanpa makan.
Besoknya adalah hari Jumat. Si lelaki kembali pergi ke pasar dan keadaan yang sama berulang. Tidak ada satu pun pekerjaan yang berhasil didapatnya hingga tengah hari. Ia lalu pergi ke masjid dan salat dua rakaat, lalu mengangkat tangannya dan berdoa:
“Ya Tuhanku, Junjunganku, Pemimpinku. Engkau telah memuliakan aku dengan Islam, telah memberiku mahkota Islam, memberiku petunjuk dengan mahkota petunjuk. Maka dengan kemuliaan agama-Mu yang telah Kau berikan kepadaku, dan demi kemuliaan hari yang penuh berkah yang merupakan hari agung di sisi-Mu, yaitu hari Jumat, aku meminta kepada-Mu agar menghilangkan kesulitanku dalam menafkahi keluarga dan agar memberiku rizki dari arah-arah yang tidak aku sangka-sangka.
Demi Allah! Aku malu dengan keluargaku dan anak-anakku, dan aku takut mereka akan keluar dari Islam karena kondisi mereka seperti ini.”
Kemudian ia berdiri dan khusyuk melaksanakan salat dua rakaat. Setelah setengah hari terlewati, ia pergi menuju salat Jumat. Sedangkan istri dan anak-anaknya di rumah dalam keadaan menahan lapar berat.
Saat itulah, tiba-tiba terdengar ketukan pintu rumah. Sang istri bergegas membuka. Begitu terbuka, terlihat seorang lelaki tampan membawa suatu kantung emas yang tertutup kain yang ditenun dengan emas pula.
Laki-laki itu berkata, “Ambillah kantung ini! Dan katakan kepada suamimu kalau ini adalah upah pekerjaannya selama dua hari sebelumnya. Katakan kepadanya pula untuk lebih bekerja keras, karena kami akan mengupahinya, terutama pada hari ini, yaitu hari Jumat, karena bekerja sedikit di hari ini akan dinilai sangat besar di sisi Allah Yang Maha Merajai dan Perkasa.”
Kemudian si istri pun menerima kantung emas itu. Ketika ia buka, ternyata di dalamnya terdapat 1.000 keping dinar emas. Kemudian ia mengambil satu dinar dan pergi ke tempat penukaran uang. Saat itu, pemilik toko penukaran uang adalah seorang Nasrani.
Sesampai di toko, si istri memberikan satu keping dinar yang dibawanya kepada pemilik toko. Saat ditimbang, ternyata dinar itu tidak sama dengan dinar yang lain. Beratnya dua kali lipat dibanding dinar biasa.
Ketika diperiksa bentuk dan ukirannya, si pemilik toko sadar bahwa dinar itu bukan berasal dari dunia. Melainkan dari akhirat.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?,” tanyanya.
Kemudian istri lelaki Majusi yang telah masuk Islam itu menceritakan kisahnya saat diberi kantung emas berisi uang dinar tersebut.
“Tuntun aku masuk Islam,” pinta si pemilik toko yang lantas masuk Islam. Ia kemudian memberikan 1.000 dirham kepada perempuan tersebut. “Pakai saja uang ini. Jika habis, katakan saja kepadaku, aku akan memberimu lagi.”
Sementara, pada saat bersamaan, sang suami yang selesai beribadah dari masjid bermaksud pulang. Kembali dengan tangan hampa. Namun, untuk melipur duka, di perjalanan ia membuka kainnya dan mengisinya dengan pasir. “Kalau nanti istriku bertanya, akan kujawab bahwa isinya tepung (gandum),” gumamnya.
Sesampainya di depan rumah, ia mencium bau masakan sedap. Di dalam sudah tergelar tikar. Ia lantas meletakkan bungkusan kain berisi pasir yang dibawanya di dekat pintu agar istrinya tidak tahu.
“Apa yang telah terjadi?,” tanyanya. Istrinya lalu menceritakan semua yang baru saja dialaminya. Hingga, membuat lelaki itu langsung bersujud, bersyukur kepada Allah atas semua anugerah tersebut.
“Lalu, apa yang kamu bawa di dalam kain itu?,” tanya sang istri.
“Tidak usah bertanya,” jawab lelaki itu tersipu. Namun, sungguh ajaib, begitu bungkusan kain itu dibuka oleh sang istri, ternyata isinya bukan pasir. Melainkan gandum.
Melihat kejadian itu, si suami kembali bersujud kepada Allah, bersyukur atas segala nikmat yang diterimanya. Ia pun tak pernah lepas dari ibadah hingga akhir hayatnya.
Atas hikayat itu, Al Faqih sebagaimana dikutip Syekh Muhammad bin Abu Bakar berkata, “Angkatlah kedua tangan kalian dan ucapkan, “Dengan kemuliaan hari Jumat, ampunilah kami dan dosa-dosa kami! Hilangkanlah kesusahan-kesusahan kami!”
Karena begitulah si lelaki Majusi yang telah masuk Islam itu berdoa meminta kepada Allah. Ia menggunakan kata-kata “bihurmatil Jum’at (dengan perantara kemuliaan hari Jumat)” hingga Allah memenuhi kebutuhannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.
Begitu juga dengan kita, tulis Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Ketika berdoa pada hari Jumat, maka kita sebaiknya mengucapkan kata-kata “bihurmatil Jum’at (dengan perantara kemuliaan hari Jumat).” Semoga Allah memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita karena sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Tuhan Yang Maha Mulia.” (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian