MALANG - Hikayat ketiga dari hadis kesepuluh dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar kisah dari Manshur bin Ammar. Ia bercerita sebagai berikut:
Aku tinggal di sebuah gang di kota Kuffah, dalam sebuah perjalanan berhaji. Pada suatu malam yang gelap, aku keluar menyusuri jalanan karena ada keperluan mendesak.
Tiba-tiba, saat melewati sebuah rumah, aku mendengar seseorang berkata demikian:
“Wahai Tuhanku, dengan kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu, sungguh aku tidak bermaksud menentang-Mu dengan kemaksiatanku. Aku juga tidak lalai dari-Mu ketika melakukan kemaksiatan.
Namun, suatu kesalahan telah menimpaku. Aku terkelabui oleh ampunan-Mu yang luas kepadaku. Maka aku bergelimang maksiat karena kebodohanku. Kini dengan anugerah-Mu aku memohon kepada-Mu menerima penyesalanku. Bila Engkau tidak menerima penyesalanku maka aku berada dalam kesedihan yang panjang dalam siksaan.”
Ketika dia sudah berhenti mengadu kepada Tuhan, aku membacakan sebuah ayat Al Quran berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6).
Lalu aku mendengar jeritan keras dengan suara bergetar, yang kemudian berhenti. Setelah itu senyap. Dan aku melanjutkan keperluanku untuk kemudian kembali ke tempatku.
Esok paginya, ketika aku kembali ke tempat yang malam sebelumnya aku lewati, tiba-tiba terdengar tangisan. Di sana terlihat banyak orang bertakziah. Tampak satu orang tua sedang menangis dan ternyata dia adalah ibu si mayit.
Perempuan itu berucap, “Semoga Allah tidak membalas pembunuh anakku dengan kebaikan. Dia telah membacakan pada anakku sebuah ayat yang menyebutkan siksaan, sedangkan anakku dalam keadaan berdiri salat. Begitu mendengar bacaan ayat itu, anakku jatuh tersungkur dan meninggal.”
Malamnya, aku (Manshur bin Ammar) bermimpi bertemu si anak yang meninggal. Lalu Manshur bertanya kepadanya, “Apa yang Allah lakukan padamu?”
Dia menjawab, “Allah memperlakukanku seperti Dia memperlakukan syuhada perang Badar.”
“Bagaimana bisa begitu?,” tanyaku.
Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 5 Kisah 2 tentang Nabi Musa yang Memanen Seluruh Tanamannya
Kembali dia menjawab, “Karena mereka (syuhada Badar) terbunuh oleh pedang orang-orang kafir, sedangkan aku terbunuh oleh pedang Al Ghaffar (Allah Yang Maha Pengampun).”
Dari hikayat Manshur bin Ammar di atas, kita kembali bisa mengambil pelajaran tentang betapa mengerikannya neraka sebagaimana disebutkan dalam QS At Tahrim: 6. Sampai-sampai seorang saleh yang menyadari dosa-dosanya langsung tersentak saat mendengar ayat itu dan meninggal dunia.
Ini semakin memperkuat isi hadis kesepuluh yang berisi tentang perintah mengejar surga dan menjauhi neraka. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian