MALANG - Ada satu hikayat yang disertakan Syekh Muhammad bin Abu Bakar dalam hadis ke-12 dari kitabnya, Al Mawa’idhul ‘Usfhuriyah. Hikayat ini diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
Ketika berkumpul para penduduk neraka, termasuk di dalamnya orang-orang muslim, bertanya orang-orang kafir kepada orang-orang muslim: “Bukankah kalian ini orang-orang muslim?”
“Iya! Kami orang-orang muslim,” jawab mereka.
“Apakah Islam kalian belum mencukupi kok kalian bersama kami di neraka?” tanya orang- orang kafir.
“Kami memiliki dosa-dosa yang menyebabkan kami disiksa,” jawab orang-orang muslim.
Allah pun marah kepada orang-orang kafir itu karena mengetahui ada orang-orang muslim di neraka. Allah lalu mengampuni orang-orang muslim itu dan memerintahkan mereka untuk keluar dari neraka. Pada saat itulah orang-orang yang kafir tersebut ingin menjadi muslim.
Ibnu Abbas berkata, “Kelak di hari kiamat akan digiring dari umat ini satu kelompok di atas shirath (titian). Umat yang pertama kali masuk ke dalam surga, selain para nabi, adalah umat Muhammad. Sedangkan yang terakhir masuk surga adalah orang-orang yang seharusnya masuk neraka, tapi Nabi SAW kemudian melihatnya.
Nabi mengenali mereka berkat tanda cemerlang pada anggota tubuhnya karena terkena wudu. Nabi lalu bertanya kepada malaikat Jibril.
“Hai Jibril! Mengapa ada umatku yang ditahan di atas shirath?”
Yang menjawab adalah Allah, yang memerintahkan Jibril, “Singkirkan mereka ke jurang-jurang kiamat hingga Muhammad masuk surga lebih dulu.”
Saat Rasulullah memandang ke arah kiamat, beliau menyangka umatnya telah digiring semua ke surga. Karena itu beliau melangkah masuk surga.
Saat itulah Allah memerintahkan Malaikat Zabaniah (malaikat penyiksa): “Bawa mereka (umat Muhammad) ke neraka dan serahkan kepada Malik (malaikat penjaga neraka).”
Malaikat Malik pun bertanya kepada orang-orang itu: “Wahai golongan yang celaka, siapa kalian dan dari umat siapa kalian ini? Aku menyangka kalau sudah tidak akan ada lagi orang yang masuk neraka.
Biasanya, yang masuk kemari tubuhnya terikat, dibelenggu dengan rantai, bersama para setan, diseret dengan kondisi telungkup, wajah-wajah hitam dan mata-mata yang melotot. Tetapi kalian tidak. Dari umat siapa kalian ini sebenarnya?”
Orang-orang dari umat Nabi Muhammad itu menjawab, “Jangan bertanya siapa kami, wahai Malik! Kami malu memberitahumu. Tetapi, kami ini termasuk umat yang hafal Al Qur’an, yang berpuasa di bulan Ramadan, yang berhaji dan berperang, yang menunaikan zakat, yang memuliakan anak-anak yatim, yang mandi wajib dari jinabat, dan yang mendirikan salat lima waktu.”
Malaikat Malik bertanya, “Apakah Al Quran belum mencegah kalian bermaksiat kepada Allah agar kalian tidak jatuh ke neraka?”
Orang-orang itu menjawab, “Jangan mengejek kami, wahai Malik! Kami ini sekarang sudah selamat dari ejekan Allah dan para malaikat-Nya.”
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar seruan dari arah ‘Arsy, “Hai Malik! Masukkan mereka ke pintu neraka yang teratas!” Kemudian Malik berkata, “Hai golongan yang celaka! Apakah kalian mendengar seruan itu dan memahaminya?”
Orang-orang menjawab, “Ya! Kami mendengar dan paham. Tetapi Malik, tunggu sebentar! Kami ingin meratapi diri kami sendiri. ”
Malik berkata, “Tidak ada kesempatan bagi kalian untuk meratap.”
Kemudian terdengar seruan dari arah ‘Arsy, “Hai Malik! Biarkan mereka menangisi diri mereka sendiri dulu!”
Kemudian orang-orang itu terpisah-pisah. Para ahli Al Quran berada dalam golongan sendiri. Para ahli haji berada dalam golongan sendiri. Para ahli perang berada dalam golongan sendiri. Para wanita berada dalam golongan sendiri.
Kemudian mereka semua meratapi diri mereka sendiri sambil berkata:
“Bagaimana bisa kami kuat di neraka padahal sebelumnya kami tidak kuat dengan panas matahari. Bagaimana bisa kita kuat memakai rantai-rantai timah padahal kita dulu biasa memakai pakaian-pakaian bagus. Bagaimana bisa kita kuat makan pohon duri dan meminum air panas padahal kita dulu biasa makan makanan enak dan air segar.”
Pada saat itu, mereka meratapi diri mereka sendiri. Tiba-tiba terdengar seruan dari arah ‘Arsy: “Hai Malik! Masukkan mereka ke pintu neraka teratas!”
Malik berkata kepada mereka, “Hai golongan yang celaka! Apakah kalian mendengar seruan itu dan memahaminya?”
Orang-orang itu menjawab, “Ya, kami mendengar dan paham.”
Malik bertanya lagi, “Dari umat mana kalian ini sebenarnya?”
Mereka menjawab, “Kami malu mengatakannya.”
Kemudian Malik pun menggiring mereka. Mereka yang tua berada di depan. Mereka yang masih muda berada di belakangnya. Mereka yang perempuan berada di belakang mereka yang muda hingga mereka semua sampai di tepi Jahanam.
Kemudian keluarlah para malaikat yang keras dan kuat yang diciptakan tanpa memiliki hati. Mereka tidak memiliki rasa belas kasih. Setiap orang dari umat Muhammad itu dikepung oleh seribu malaikat Zabaniah. Kemudian mereka semua dibawa ke neraka.
Sebagian dari mereka ada yang dibakar sampai mata kaki. Sebagian dari mereka ada yang dibakar sampai kedua lutut. Sebagian dari mereka ada yang dibakar sampai setengah badan. Sebagian dari mereka ada yang dibakar sampai dada.
Ketika api hendak membakar wajah dan hati mereka, kemudian terdengar seruan dari arah ‘Arsy: “Hai Malik! Jauhkan api dari wajah dan hati mereka karena mereka sudah lama sekali mengakui-Ku dengan lisannya dan mengetahui-Ku dengan hatinya. Dan juga sudah lama sekali mereka sujud dengan wajah mereka kepada-Ku ketika hidup di dunia.”
Ketika umat Muhammad yang di neraka mendengar seruan itu, mereka semua berteriak keras, “Wahai Muhammad! Wahai Abu Qosim! Wahai Muhammad! Wahai orang yang berbuat baik kepada para janda dan anak-anak yatim!
Wahai penggembira di Hari Kiamat! Wahai pembuka para umat! Wahai pembuka pintu-pintu surga! Wahai penutup pintu-pintu neraka dari umatmu! Wahai pemberi syafaat para umat! Kami adalah orang-orang lemah dari kalangan umatmu, yang tidak kuat dengan panas api. Tolonglah kami dengan syafaatmu untuk masuk ke dalam surga-surga.”
Salah satu dari mereka meletakkan kedua tangannya di kedua telinga seperti orang yang adzan dan menyeru dengan suaranya yang paling keras, “Kami adalah umat Muhammad.”
Mendengar pengakuan mereka, Malik pun menghadap ke arah surga. Ia berkata kepada Muhammad yang tengah menikmati surga:
“Wahai Muhammad! Anda telah bersenang-senang di surga sedangkan umatmu yang lemah meminta tolong kepadamu. Tolonglah mereka karena mereka adalah orang-orang yang lemah yang tidak kuat dengan api.”
Mendengar itu, Nabi SAW langsung beranjak dari ranjangnya dan segera naik Buraq. “Hai Buraq, cepat! Cepat! Umatku adalah orang-orang yang lemah yang tidak kuat dengan panas api.”
Kemudian Nabi Muhammad mendarat di dekat tepi Jahanam. Begitu mendengar suara umatnya di neraka, seketika Nabi menangis. Umatnya pun menangis.
Nabi berkata, “Hai Malik, keluarkan umatku dari neraka.”
“Duh Muhammad! Aku tidak bisa mengeluarkan mereka selama aku tidak diberi perintah,” jawab malaikat Malik.
Kemudian Nabi menghadap ke arah tiang ‘Arsy. Lalu turun dari Buraq dan bersujud. Dalam sujudnya, ia berdoa: “Ya Allah! Bukankah Engkau telah berjanji kepadaku untuk tidak membakar umatku di neraka?”
Allah menjawab, “Hai Muhammad! Mereka telah melupakanmu dan meninggalkan syariatmu di dunia. Oleh karena itu Aku membuat mereka lupa dengan syafaatmu untuk mereka. Sekarang berilah mereka syafaat!”
Kemudian Nabi Muhammad segera memberi mereka semua syafaat dan mengeluarkannya dari neraka. Sementara itu, orang- orang kafir masih tetap berada di sana. Pada saat itulah, orang-orang kafir berkata, “Andai dulu kita adalah orang-orang muslim, niscaya kita dikeluarkan dari neraka seperti mereka.”
Ibnu Abbas berkata, “Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) berandai-andai sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.” Ini seperti disebutkan dalam QS Al Hijr: 2.
Dari hikayat di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap perbuatan kita di dunia akan dibalas di akhirat. Walaupun kita muslim, jika berbuat dosa, akan ada balasannya di neraka, sekalipun di level paling ringan. Namun, sebagai umat Nabi Muhammad, kita selalu berharap bisa mendapatkan syafaat dari beliau. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)