MALANG - Ada hikayat atau kisah yang disertakan Syekh Muhammad bin Abu Bakar dalam hadis ketiga belas dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah. Yang pertama, hikayat yang diriwayatkan dari Abu Bakar al-Ismaili dengan sanadnya dari Usman bin Affan.
Menurutnya, jika mendengar tentang neraka, Usman tidak menangis. Begitu pula ketika disebutkan perihal tentang kiamat kepadanya.
Barulah ketika disebutkan perihal kuburan kepadanya, ia menangis. Orang-orang pun bertanya, “Mengapa Anda demikian itu wahai Amirul Mukminin?”
Usman menjawab, “Sesungguhnya ketika aku berada di neraka maka aku akan bersama orang lain. Ketika aku berada di Hari Kiamat maka aku juga akan bersama mereka. Tetapi ketika aku berada di kuburan maka aku akan sendirian. Tidak ada seorang pun yang akan bersamaku di sana. Sesungguhnya kunci kuburan berada di tangan Malaikat Israfil. Ia akan membuka kuburan nantinya di Hari Kiamat.”
Usman melanjutkan, “Barang siapa merasa dunia adalah penjara baginya maka kuburan adalah surganya. Barang siapa merasa dunia adalah surga baginya maka kuburan adalah penjaranya.
Barang siapa merasa kehidupan di dunia adalah belenggu baginya maka kematian akan melepaskan belenggunya. Barang siapa meninggalkan kemewahan dunia maka ia akan mendapati kemewahan itu di akhirat.”
Usman berkata lagi, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, dan yang membuat Tuhan meridhoinya sebelum ia bertemu dengan-Nya, dan yang meramaikan kuburannya sebelum ia memasukinya.”
Hikayat ini semakin menguatkan isi hadis ketiga belas dalam kitab ini tentang gambaran alam kubur. Di alam ini, segala perbuatan kita di dunia sudah mulai mendapatkan balasannya.
Jika di dunia lebih banyak berbuat kebaikan, alam kubur akan terasa lebih lapang dan membahagiakan. Begitu pula sebaliknya. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : A. Nugroho