Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 15 dan Kisah tentang Penghuni Kubur yang Bersedih karena Tak Ada Kerabat yang Mendoakan

A. Nugroho • Sabtu, 7 Maret 2026 | 04:00 WIB

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 15 dan Kisah tentang Penghuni Kubur yang Bersedih karena Tak Ada Kerabat yang Mendoakan
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 15 dan Kisah tentang Penghuni Kubur yang Bersedih karena Tak Ada Kerabat yang Mendoakan

MALANG - Hadis kelima belas dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Usfhuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat Sufyan, dari orang yang mendengar cerita Anas bin Malik.


Anas mengungkapkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya amal-amal orang yang hidup akan diperlihatkan kepada teman-teman bergaul dan bapak-bapak mereka yang sudah mati.


Apabila amal yang diperlihatkan adalah baik maka mereka akan memuji Allah dan senang. Apabila amal yang diperlihatkan buruk maka mereka berkata, ‘Ya Allah! Jangan Engkau cabut nyawa mereka (yang beramal) hingga Engkau memberi mereka hidayah terlebih dahulu.’”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 14 dan Kisah tentang Anjing yang Berbicara kepada Nabi Muhammad


Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Mayit akan menerima rasa sakit di kuburannya sebagaimana ia menerima rasa sakit ketika masih hidup.”


Sahabat lalu bertanya, “Apa yang bisa menyakiti mayit itu?”


Rasulullah pun menjawab, “Sesungguhnya mayit tidak lagi bisa melakukan suatu dosa, tidak bisa saling berselisih, tidak bisa memusuhi siapa pun, dan juga tidak bisa menyakiti tetangga.


Hanya saja, ketika kamu berselisih dengan orang lain, sudah barang tentu ia akan berbicara kotor tentangmu dan kedua orang tuamu. (Saat itulah) kedua orang tuamu ikut merasa disakiti. Begitu juga mereka berdua akan senang ketika diperlakukan baik sesuai dengan hak mereka.”


Syekh Muhammad kemudian menyertakan sebuah hikayat dalam hadis ini. Yaitu hikayat atau kisah tentang Tsabit al Banani.

Dikisahkan, Tsabit selalu berziarah ke kuburan setiap malam Jumat. Di sana ia biasa bermunajat kepada Allah sampai Subuh.


Suatu saat, ketika sedang dalam munajatnya, ia merasa mengantuk dan bermimpi kalau seluruh penghuni kuburan itu keluar dengan mengenakan pakaian paling bagus dan wajah-wajah berseri.


Kemudian ada hidangan makanan beraneka warna untuk masing-masing dari mereka.


Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 12 tentang Orang Durhaka yang Diperlihatkan Balasan Kenikmatan bagi Orang Saleh


Tiba-tiba di antara mereka ada sesosok mayit pemuda yang pucat wajahnya, amburadul rambutnya, sedih hatinya, usang pakaiannya, menundukkan kepala dan meneteskan air mata. Tidak ada satu hidangan pun didatangkan untuknya.


Para penghuni kuburan kembali ke kuburan mereka dengan perasaan senang dan bahagia. Sedangkan pemuda itu kembali dengan putus asa, susah dan bersedih hati.


Kemudian Tsabit al Banani menanyainya, “Hai pemuda! Apa statusmu di kalangan para penghuni kuburan lainnya? Mereka mendapatkan hidangan enak dan kembali ke kuburan dengan perasaan senang sedangkan kamu tidak mendapati satu hidangan pun dan kembali dengan perasaan putus asa dan bersedih hati.”

Pemuda itu menjawab, “Wahai Imam muslimin! Sesungguhnya aku adalah orang asing di kalangan mereka. Tidak ada seorang pun (dari orang-orang yang masih hidup) mengingatku dengan melakukan kebaikan dan mendoakanku.


Sedangkan mereka para penghuni kuburan lain memiliki anak-anak, kerabat-kerabat dan teman-teman bergaul yang mengingat dengan mendoakan mereka, berbuat kebaikan dan bersedekah untuk mereka di setiap malam Jumat. Kebaikan dan pahala sedekah-sedekah itu sampai kepada mereka.


Dulu semasa hidup, aku pergi berhaji bersama ibuku. Tapi, di perjalanan, Allah mencabut nyawaku. Lalu ibu menguburkan jasadku di tempat penguburan ini.


Setelah kematianku, ibuku menikah dengan laki-laki lain hingga ia lupa kepadaku dan tidak mengingatku lagi dengan cara mendoakan dan bersedekah karenaku. Karena itu aku merasa putus asa dan bersedih hati setiap waktu.”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 9 Kisah 2 tentang Saudagar yang Diberi Makan Burung Gagak


Atas cerita itu, kemudian Tsabit al Banani berkata, “Hai pemuda! Beritahu aku di mana ibumu tinggal. Aku akan memberitahunya tentangmu dan keadaanmu.”


Pemuda itu lalu memberitahukan tempat di mana ibunya tinggal. “Wahai Imam muslimin! Beritahu ibuku tentangku dan keadaanku. Jika ia tidak mempercayaimu, maka katakan kepadanya bahwa di saku bajunya terdapat seratus keping uang perak yang merupakan peninggalan dari ayahku untuk warisan anaknya. Maka ia nanti akan memercayaimu.”


Di hari kemudian, Tsabit al Banani mendatangi kampung yang dimaksudkan dan mencari ibu pemuda itu. Tidak lama kemudian, ia menemukannya dan memberitahunya tentang keadaan anaknya dan tentang 100 keping uang perak yang berada di saku bajunya.


Si ibu itu pun jatuh pingsan. Setelah tersadar, ia menyerahkan 100 keping uang perak itu kepada Tsabit dan berkata: “Aku wakilkan kepadamu untuk bersedekah dengan uang-uang dirham ini sebagai kiriman untuk anakku yang telah mati."


Kemudian Tsabit menerima 100 keping uang perak itu dan menyedekahkannya.


Baca juga: Mengenal Kitab Ushfuriyah, Biasa Dibaca saat Ramadan, Ada Amalan-Amalan yang Dianjurkan


Pada malam Jumat berikutnya, Tsabit seperti biasa kembali menziarahi saudara-saudaranya di area pemakaman itu. Dan, lagi, ia merasa mengantuk lalu tertidur. Dalam tidur itulah ia kembali bermimpi seperti sebelumnya. Tapi, dilihatnya pemuda penghuni kubur itu telah mengenakan pakaian yang bagus dan wajah yang cerah riang gembira.


Pemuda itu berkata, “Wahai Imam muslimin! Semoga Allah mengasihimu sebagaimana kamu telah mengasihiku.”


Syekh Muhammad bin Abu Bakar memberikan catatan, dari cerita di atas, sudah jelas bahwa orang yang sudah mati akan merasa tersakiti karena perlakuan buruk orang yang masih hidup dan akan senang karena perlakukan baik dari orang yang masih hidup. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#Ngaji #hadis #hidangan #kitab