MALANG - Tentang latar belakang turunnya surat Al Ikhlas seperti disebut dalam penjelasan hadis keenam belas dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar, ada riwayat lain yang menjelaskannya.
Dijelaskan, suatu ketika Rasulullah keluar rumah untuk pergi ke Madinah. Orang-orang kafir Makkah pun berkumpul di pintu darun nadwah, balai pertemuan kelompok Abu Jahal.
Mereka kemudian berkata, “Barang siapa membawa Muhammad atau kepalanya kepada kita maka kita akan memberinya 100 unta merah yang hitam biji matanya.”
Kemudian ada seorang laki-laki bernama Suraqah bin Malik berdiri dan berkata, “Aku akan membawa Muhammad kepada kalian.” Orang-orang lalu patungan untuk membeli unta sebanyak yang mereka janjikan jika Suraqah berhasil menunaikan misinya.
Adapun Suraqah bergegas menunggang kuda mengejar Nabi SAW hingga berhasil menyusulnya. Begitu sudah dekat, ia menghunus pedang dan bersiap menebaskannya ke arah Nabi.
Tapi, (atas doa Nabi) tiba-tiba kuda yang ditunggangi Suraqah terperosok ke dalam tanah hingga sedalam lutut. Suraqah pun nyaris terjatuh. Ia lalu mengiba, “Wahai Rasulullah, damai..! Damai..! Ampuni aku..!”
(Atas belas kasihnya) Nabi kemudian kembali berdoa hingga kuda Suraqah terbebas dari benaman tanah dan bisa kembali berjalan. Tapi, bukannya berterima kasih, Suraqah malah kembali mengejar Rasulullah.
Setelah dekat, ia kembali menghunus pedang dan bermaksud menebaskannya ke tubuh Nabi. Tapi, tiba-tiba kuda Suraqah kembali terperosok ke dalam tanah. Bahkan, tidak lagi sebatas lutut, tapi sampai sedalam perut hingga tak dapat bergerak.
Lagi-lagi, Suraqah yang nyaris celaka kembali mengiba. “Ampuni aku! Ampuni aku! Aku tidak akan melakukannya lagi.”
(Atas belas kasihnya) kemudian Nabi mendoakannya kembali sehingga kuda Suraqah bisa terbebas dari benaman tanah. Adapun Suraqah turun dari kudanya dan bersimpuh di depan unta yang ditunggangi Nabi.
Ia berkata, “Wahai Rasulullah! Beritahu aku, siapakah Tuhanmu yang memiliki kekuasaan semacam ini? Apakah terbuat dari emas atau perak?”
Rasulullah menundukkan kepala dan diam sebentar. Kemudian Jibril turun dan membawa wahyu berupa surat Al Ikhlash itu.
“Katakanlah Muhammad! Allah adalah Dzat Yang Maha Esa. Allah adalah Dzat yang dibutuhkan (tempat bergantung) oleh semua makhluk. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Tidak ada satupun yang menyamai-Nya.”
Jibril juga membawa wahyu yang berupa QS Asy Syura: 11 berikut:
“Katakanlah Muhammad! Allah adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi. Dia telah menciptakan pasangan-pasangan dari kalian dan untuk kalian dan juga menciptakan pasangan-pasangan dari binatang-binatang ternak. Tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya. Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”
Mendengar penjelasan Rasulullah, Suraqah berkata, “Wahai Rasulullah! Tuntun aku masuk Islam!”
Kemudian Rasulullah menuntunnya masuk Islam. Dan Suraqah pun masuk Islam dan keislamannya menjadi baik. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian