MALANG - Selain latar belakang turunnya surat Al Ikhlash sebagai wahyu, pada hadis keenam belas dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah Syekh Muhammad bin Abu Bakar juga menyertakan sebuah hikayat.
Yaitu, kisah ketika suatu saat Rasulullah SAW duduk di gerbang kota Madinah. Bersamaan dengan itu ada iring-iringan jenazah seorang lelaki lewat. Nabi pun bertanya, “Apakah jenazah itu masih memiliki kewajiban utang?”
Orang-orang menjawab, “Ia masih memiliki kewajiban membayar utang empat dirham.”
Nabi lalu berkata, “Salatilah sendiri jenazah itu. Karena aku tidak mau menyalati orang yang ketika meninggal masih mempunyai tanggungan utang.”
Kemudian Malaikat Jibril turun menemui Rasulullah dan berkata, “Hai Muhammad! Allah menitipkan salam untukmu. Dia (Allah) berfirman: ‘Aku mengutus Jibril dengan menjelma seorang manusia dan membayarkan utang jenazah itu. Karena itu, berdirilah dan salatilah jenazah ini karena ia telah diampuni.
Barang siapa menyalati jenazah itu maka Allah akan mengampuninya.”
Rasulullah SAW lalu bertanya, “Hai saudaraku, Jibril! Dari mana jenazah itu mendapat kemuliaan ini?”
Jibril menjawab, “Karena ia setiap hari membaca surat Al Ikhlas 100 kali. Surat itu mengandung sifat-sifat Allah dan pujaan-pujaan untuk-Nya.”
Nabi kemudian bersabda, “Barang siapa membaca surat Al Ikhlas satu kali seumur hidup maka ia tidak akan keluar dari dunia kecuali ia akan melihat tempatnya di surga.
Terutama, barang siapa membacanya di salat-salat lima waktu setiap hari berkali-kali maka surat itu akan memberi syafaat nanti di hari kiamat, termasuk syafaat untuk kerabatnya yang seharusnya masuk neraka.”
Hikayat atau kisah ini memberikan gambaran tentang betapa besar keutamaan membaca surat Al Ikhlash dalam hidup sehari-hari. Bahkan, dikisahkan, seorang lelaki yang melaksanakan amalan ini dilunasi utangnya oleh Allah lewat perantara malaikat Jibril.
Sehingga ia diampuni oleh Allah setelah meninggal dunia.Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : A. Nugroho