Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 19 dan Kisah tentang Jin Abdullah yang Bunuh Setan Musfir

A. Nugroho • Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 19 dan Kisah tentang Jin Abdullah yang Bunuh Setan Musfir
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 19 dan Kisah tentang Jin Abdullah yang Bunuh Setan Musfir

MALANG - Ada sebuah hikayat yang disertakan dalam hadis kesembilan belas pada kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Hikayat itu diambil berdasar cerita dari Ali bin Abi Thalib.


Ali mengatakan sebagai berikut: “Orang yang pertama kali masuk Islam setelah turunnya wahyu adalah Khadijah, kemudian Abu Bakar, kemudian Ali bin Abi Thalib, kemudian Zaid bin Haritsah, kemudian Qomariah yang berubah nama menjadi Jariah, kemudian Hamzah, kemudian Usman.


Kemudian Zuhair, kemudian Abu Ubaidah bin al Jarrah, kemudian Thalhah, kemudian Zubair. Semoga ridha Allah selalu tercurahkan kepada mereka semua. Mereka telah masuk Islam dan menyembunyikan keislamannya dari orang-orang kafir.”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 19 dan Kisah tentang Berhala yang Bisa Bicara tentang Kenabian Muhammad


Kemudian Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW dan berkata: “Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menitipkan salam untukmu dan Dia memerintahkanmu mengajak orang-orang masuk Islam.”


Kemudian Rasulullah berdiri dan naik ke atas gunung Abu Qubais dan berseru dengan suara lantang: “Hai kalian! Katakanlah tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”


Begitu mendengar seruan itu, orang-orang kafir berkumpul di Darun Nadwah, balai pertemuan di perkampungan Abu Jahal. Mereka memperbincangkan seruan dari Nabi Muhammad.


Salah seorang di antara mereka berkata: “Sesungguhnya Muhammad telah mencela tuhan-tuhan kita dan mengajak kita menyembah Tuhan yang sama sekali masih asing bagi kita. Sungguh mustahil ini!

Muhammad mengatakan kepada kita jangan menyembah tuhan-tuhan kita (yang berjumlah 360 berhala) kecuali hanya menyembah Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.”


Di antara yang hadir dalam pertemuan itu adalah Syaibah bin Rabiah, Walib bin al Haris, Sofwan bin Umayyah, Ka’ab bin Asyraf, Aswad bin Abdu Yaghuts, Shohr bin Harits, Kinanah bin Robi’. Mereka adalah orang-orang kafir Mekah. Mereka itu adalah para pembesar orang-orang kafir.


Di antara mereka ada yang mengatakan, “Muhammad mengajak kita menyembah Tuhan yang tidak kita ketahui dan mengapa ia mencela tuhan-tuhan kita?”


Lalu, salah satu dari mereka berdiri dan menjawab, “Muhammad mengatakan itu karena ia menginginkan harta.” Tetapi pernyataan itu tidak ada yang merespons.


Beberapa saat kemudian, di antara mereka ada yang menyahut, “Muhammad adalah tukang sihir dan penipu.”


Orang-orang itu lalu bertanya kepada Al Walid, “Apa pendapatmu tentang Muhammad?” Tapi Al Walid menjawab, “Aku tidak ingin mengatakan apa-apa tentangnya.”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 15 dan Kisah tentang Penghuni Kubur yang Bersedih karena Tak Ada Kerabat yang Mendoakan


Karena Al Walid tidak memberikan pendapat, orang-orang menganggap kalau ia telah terpengaruh oleh Muhammad. Atas anggapan ini, Al Walid marah besar. Ia lantas berkata, “Tunggulah tiga hari lagi!”


Pada saat itu, Al Walid memiliki dua berhala yang terbuat dari mutiara serta emas dan perak dengan berbagai macam intan. Dua berhala itu diletakkannya di atas kursi dan dihias dengan berbagai warna pakaian.


Kemudian Al Walid menyembah dua berhala itu selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Ia tidak makan dan tidak minum dan juga tidak pulang ke rumah menemui anak-anaknya. Ia tirakat beribadah kepada dua berhala itu.


Pada hari ketiga, Al Walid berkata, “Demi kebenaran ibadahku kepada kalian berdua selama tiga hari, bicaralah dan beritahu aku tentang perihal Muhammad!”


Kemudian setan masuk ke dalam mulut berhala dan menggerak-gerakkannya: “Sesungguhnya Muhammad bukanlah seorang nabi. Janganlah kamu membenarkannya!”


Mendengar jawaban dua berhalanya, Al Walid merasa senang. Kemudian ia keluar dan memberitahukan orang-orang kafir tentang perkataan berhala itu. Mereka pun berkumpul di dekat Al Walid. Salah seorang di antara mereka bicara, “Sebaiknya kita menyampaikan (ucapan berhala itu) di dekat Muhammad!”


Mendengar kabar itu, Rasulullah bersedih. Kemudian Malaikat Jibril datang dan berkata, “Hai Muhammad! Celakalah orang yang membuat pernyataan itu (yaitu Al Walid).”
Mendengar perkataan Jibril, Al Walid hanya tertawa dan menjawab, “Aku tidak peduli!”


Kemudian orang-orang kafir berkumpul dan meletakkan berhala di depan mereka. Berhala itu mereka beri nama Hubal. Mereka menghiasinya dengan aneka macam pakaian dan bersujud padanya.


Al Walid lantas mengundang Rasulullah untuk ikut hadir. Ditemani Abdullah bin Mas’ud, Rasul pun datang. Keduanya berbaur dengan orang-orang kafir Quraisy yang sudah duduk di depan berhala mereka.


Saat itulah setan datang dan masuk ke dalam perut patung Hubal. Nama setan itu adalah setan Musfir. Di dalam perut berhala Hubal, setan Musfir menertawakan Rasulullah.
Mendengar suara itu, Abdullah bin Mas’ud bingung. “Wahai Rasulullah! Berhala ini bisa bicara.”


“Hai Abdullah! Jangan takut dengan berhala ini. Karena sebenarnya yang tertawa itu adalah setan,” jawab Rasulullah.


Kemudian Rasulullah pergi. Di jalan, beliau bertemu dengan seorang pengendara kuda yang berpakaian hijau-hijau. Kemudian pengendara itu turun dan mengucapkan salam kepada Rasulullah.


Kemudian Rasulullah menjawab salamnya, “Siapa kamu, wahai pengendara kuda? Ucapan salammu kepadaku bagus sekali.”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 6 Kisah 1 tentang Abu Bakar yang Bermimpi Memeluk Matahari dan Rembulan


Penunggang kuda itu menjawab, “Aku termasuk salah satu keturunan jin. Aku telah masuk Islam sejak zaman Nabi Nuh as. Sebelumnya, aku telah lama meninggalkan tempat tinggalku. Kemudian suatu saat aku kembali ke sana dan melihat istriku menangis.


Lantas aku bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Ia menjawab, ‘Apa kamu tidak tahu kalau setan Musfir telah menertawakan Muhammad?’. Mendengar penjelasan istriku, aku pun mengejar setan Musfir. (Setelah bertemu dengannya), aku membunuhnya di tempat antara bukit Shafa dan bukit Marwa.


Darah yang di pedangku ini adalah darahnya. Kepalanya aku masukkan ke dalam kantong. Sedangkan tubuhnya terkapar di tempat antara bukit Shafa dan bukit Marwa. Bentuknya seperti anjing yang kehilangan kepalanya.”
Rasulullah pun senang mendengarnya. Beliau lalu mendoakan kebaikan untuk si pengendara kuda sambil bertanya tentang identitasnya:

“Siapa namamu?”


“Namaku adalah Muhair bin ‘Abhar. Tempat tinggalku berada di Gunung Thursina. Apakah Anda berkenan memerintahku untuk masuk ke dalam mulut berhala-berhala orang-orang kafir kemudian menertawakan mereka sebagaimana setan Musfir menertawakan Anda?” tanyanya.


“Boleh saja,” jawab Rasulullah.


Esoknya, para kafir Quraish kembali berkumpul untuk menyembah berhala mereka. Rasulullah kembali diundang. Adapun patung Hubal tetap dihias dengan aneka warna pakaian. “Hai Hubal, gembirakanlah kami hari ini dengan ejekanmu kepada Muhammad!”


Tapi, jawaban yang keluar dari patung Hubal ternyata tak seperti sebelumnya: “Hai penduduk Makkah! Ketahuilah, sesungguhnya Muhammad adalah nabi yang benar.

Agamanya adalah benar. Muhammad mengajak kalian pada kebenaran. Kalian dan berhala-berhala kalian adalah batil.


Apabila kalian tidak beriman kepada Muhammad dan tidak membenarkannya maka kalian akan masuk ke dalam neraka Jahanam dan kekal di sana. Oleh karena itu, ikutilah Muhammad dan yakini kebenaran ajarannya. Ia adalah nabi Allah dan makhluk terbaik-Nya.”


Mendengar suara Hubal yang demikian, Abu Jahal spontan berdiri. Lalu mengambil berhala Hubal dan membantingnya ke tanah hingga pecah berkeping-keping, kemudian membakarnya.


Setelah itu, Rasulullah pulang ke rumah dengan perasaan gembira. Kemudian beliau mengubah nama jin Muhair bin ‘Abhar menjadi Abdullah bin ‘Abhar.


Jin Abdullah lalu mendendangkan sebuah syair tentang kemenangannya melawan setan Musfir:


Akulah Abdullah bin ‘Abhar// Telah kubunuh si lacur bernama Musfir// Kukuntit dia dengan pedangku, si ingkar// Di antara Shafa dan Marwa// si durjana berlagak sombong// Ditolaknya kebenaran// dikeluarkannya omongan munkar// Dicacimakinya Nabi Allah yang muthahar (suci)//


Demi Allah tidak bakal aku beruntung// sampai Allah memberikan pertolongan// sampai kebenaran Islam diakui// atau sampai orang-orang yang mengingkari Islam dihinakan// yaitu orang Yahudi dan Nasrani// tentaraku adalah Kisra (sebutan raja Persia)// raja-raja dan para kaisar//


Seperti kisah sebelumnya, hikayat ini semakin menguatkan pesan tentang kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Meskipun setan sempat membuat tipu daya lewat berhala yang disembah kafir Quraisy, kebenaran tetap muncul dengan caranya sendiri –yang dalam kisah ini melalui jin Abdullah. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#Musfir #ushfuriyah #hadis #setan #kitab