MALANG - Hadis kedua puluh dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar didasarkan riwayat Abdullah ibn Mas’ud. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Merasa malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu!”
Kemudian kami berkata, lanjut Abdullah ibn Mas’ud, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami merasa malu.”
Rasulullah menjawab, “Demikian itu bukanlah rasa malu. Tetapi barang siapa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu maka ia harus menjaga kepala dan isinya, perut dan isinya, serta mengingat kematian dan busuknya jasad.”
“Barang siapa menginginkan akhirat,” kata Rasulullah, “Maka ia meninggalkan perhiasan kehidupan di dunia dan lebih memilih akhirat daripada dunia. Maka barang siapa melakukan hal demikian itu maka ia merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.”
Rasulullah kemudian menegaskan, “Merasa malu adalah sebagian dari iman.”
Atas hadis ini, Syekh Muhammad bin Abu Bakar menyertakan sebuah hikayat. Bahwa dulu ada seorang wanita mendatangi Rasulullah. Ia berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya. aku telah melakukan suatu dosa besar. Berilah aku solusi!”
Rasulullah menjawab, “Bertaubatlah kepada Allah!”
Wanita berkata, “Sesungguhnya bumi telah mengetahui dosaku karena aku melakukan dosa itu di atasnya. Bumi pastinya akan menjadi saksi terhadapku kelak di Hari Kiamat.”
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya bumi tidak akan memberikan kesaksian atasmu. Allah berfirman pada hari di mana bumi diganti dengan selain bumi.” (QS Ibrahim: 48)
Wanita itu berkata lagi, “Sesungguhnya langit telah mengetahui dosaku dari atas. Pastinya ia akan memberikan kesaksian terhadapku di Hari Kiamat.”
Rasulullah menjawab “Sesungguhnya Allah akan melipat langit sebagaimana firman-Nya: Pada hari di mana Kami akan melipat langit seperti halnya para malaikat melipat buku-buku catatan amal.” (QS Al Anbiya: 104)
Wanita itu melanjutkan, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya para malaikat pencatat amal telah menulis dosaku di buku catatan amal.”
Rasulullah menjawab, “Allah berfirman: sungguh kebaikan-kebaikan dapat menghapus kejelekan-kejelekan.” (QS Hud: 144). “Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.”
Kemudian wanita itu berkata, “Sesungguhnya para malaikat melihat perbuatan-perbuatan dosaku. Pastinya mereka akan memberikan kesaksian atas keburukan perbuatan- perbuatanku.”
Rasulullah menjawab “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan membuat lupa para malaikat pencatat amal di Hari Kiamat (seperti yang disebutkan dalam dalam kitab Rubai al-Abror bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika seorang hamba bertaubat kepada Allah maka Allah akan menerima taubatnya dan membuat lupa para malaikat pencatat amal atas apa yang pernah hamba lakukan.”)
Wanita itu berkata, “Allah berfirman: Pada hari di mana lisan manusia, tangan mereka dan kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang pernah mereka lakukan.” (QS An Nur: 24)
Rasulullah menjawab, “Allah akan berkata kepada bumi dan anggota-anggota tubuh hamba: ‘Sembunyikanlah kesalahan-kesalahannya dan jangan kalian perlihatkan selamanya.'"
Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah! Benar apa yang Anda katakan. Itu semua adalah untuk orang yang benar-benar taubat. Tetapi bukankah di Hari Kiamat, rasa malu kepada Allah itu ada, lantas bagaimana hamba akan berkata?”
“Padahal Anda, wahai Rasulullah,” lanjutnya, “Pernah mengatakan bahwa ketika Hari Kiamat telah terjadi maka para pendosa akan menyebutkan dosa-dosa mereka, kemudian mereka malu kepada Allah. Keringat mereka bercucuran karena rasa malu itu. Sebagian dari mereka ada yang keringatnya menetes sampai lutut. Sebagian dari mereka ada yang keringatnya menetes sampai pusar dan sebagian dari mereka ada yang keringatnya menetes sampai leher.”
Kemudian Rasulullah berkata, “Hai orang-orang yang beriman! Ingatlah pada Hari itu (Kiamat)! Janganlah kalian melupakannya! Bertaubatlah kepada Allah! Dan beribadahlah kalian kepada-Nya! Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Penerima taubat dan Yang Maha Pengasih.”
Hadis dan hikayat ini memberikan pelajaran kepada kita tentang pentingnya merasa malu dan bertaubat kepada Allah atas segala kesalahan yang kita perbuat. Perasaan malu yang kuat akan mendatangkan rasa bersalah lalu membawa pada pertaubatan yang sempurna. Itulah yang bisa menjadi jalan pengampunan Allah. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)