Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 22 Kisah 2 tentang Lelaki Pendosa yang Diusir Nabi lalu Diselamatkan Jibril

A. Nugroho • Jumat, 13 Maret 2026 | 04:00 WIB

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 22 Kisah 2 tentang Lelaki Pendosa yang Diusir Nabi lalu Diselamatkan Jibril
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 22 Kisah 2 tentang Lelaki Pendosa yang Diusir Nabi lalu Diselamatkan Jibril

MALANG - Ada dua hikayat dari hadis ke-22 yang disertakan Syekh Muhammad bin Abu Bakar dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karyanya. Kisah yang diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW mendapat tamu seorang lelaki.


Kepada Nabi, lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan maksiat. Sucikanlah aku!”


Rasulullah bertanya, “Apa perbuatan maksiatmu?”


“Aku malu mengatakannya!,” jawab laki-laki itu.
Rasulullah bertanya lagi, “Apakah kamu malu memberitahukan dosamu? Lantas mengapa kamu tidak malu kepada Allah padahal Dia melihatmu?”


Nabi lalu mengusirnya, “Berdiri! Dan pergi dari sini agar bencana tidak menimpa kami.”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 22 Kisah 1 tentang Salman yang Selalu Mengkhawatirkan Nasib Keluarganya


Kemudian laki-laki itu keluar pergi meninggalkan Rasulullah dengan keadaan kecewa, putus asa, dan menangis.
Kemudian Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Hai Muhammad! Mengapa kamu membuat laki-laki bermaksiat itu putus asa padahal ia memiliki pelebur atas dosa-dosanya meskipun itu banyak?”


“Apa pelebur dosa-dosanya?,” tanya Rasulullah.
Jibril menjelaskan, “Laki-laki itu memiliki seorang anak yang masih kecil. Ketika ia masuk ke dalam rumah, anak itu menyambutnya. Kemudian laki-laki itu memberinya sesuatu makanan atau sesuatu lain yang membuatnya bahagia. Ketika anak kecil itu bahagia maka kebahagiaan itu menjadi pelebur dosa-dosanya.”


Dapat diketahui, tulis Syekh Muhammad bin Abu Bakar, kisah di atas menjelaskan bahwa kebahagiaan anak-anak kita adalah pelebur dosa dan penyelamat dari neraka, sebagaimana firman Allah dalam QS Al Anfal: 28 yang artinya: “Harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah sebuah ujian. Dan sesungguhnya Allah memiliki pahala yang besar di sisi-Nya.”


Seperti kisah pertama dari hadis ke-22, kisah ini menguatkan pesan tentang pentingnya menjaga dan membahagiakan keluarga. Jika pada kisah pertama mengkhawatirkan kondisi keluarga saja sudah bisa menjadi pelebur dosa, pada kisah ini lebih dikhususkan lagi terhadap anak.


Membahagiakan anak dapat menjadi pelebur dosa bagi orang tuanya. Sampai-sampai, Nabi pun diingatkan oleh Malaikat Jibril ketika membuat putus asa seorang pendosa yang di rumah selalu dinanti anaknya dengan bahagia. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#ushfuriyah #Ngaji #hadis #jibril #nabi #kitab