MALANG - Lebih jauh tentang gambaran surga dari hadis ke-25 dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah’ karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar, dijelaskan oleh Abdus Shomad bin al Hisan yang membawa riwayat ini dari Sufyan ats Tsauri.
Dikatakan Sufyan, atas gambaran surga yang demikian (dihuni bidadari dengan bangunan yang terbuat dari emas, perak, dan intan dengan adonan semen dari minyak wangi, Red.), seorang ahli kitab lalu datang kepada Nabi Muhammad dan bertanya, “Wahai Abal Qasim, yakinkah Anda bahwa penduduk surga makan dan minum?”
Nabi menjawab, “Demi Allah yang menggenggam hidupku, benar. Mereka makan dan minum. Mereka diberi kekuatan setara 100 orang dalam hal makan dan minum, jimak (berhubungan suami-istri), dan syahwat pada umumnya.”
Ahli kitab itu bertanya lagi, “Bukankah surga itu suci? Padahal orang yang makan dan minum akan buang hajat. Bukankah itu menodai surga?”
Rasulullah SAW menjawab, “Buang air besar penduduk surga itu adalah dengan cara mengeluarkan cairan yang keluar dari kulit seperti cairan misik (minyak wangi).”
“Sesungguhnya,” lanjut Rasulullah, “Penduduk surga terdiri dari 120 barisan. 80 barisan adalah barisan umatku dan 40 barisan adalah barisan umat-umat yang lain.”
Ada yang mengatakan panjang setiap barisan adalah jarak antara arah timur dan arah barat. Sedangkan lebarnya adalah selebar dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah akan memanggil para penduduk surga: ‘Hai penduduk surga!’”
Ahli surga pun menjawab, ‘Kami patuh dengan semua perintah-Mu!’
‘Apakah kalian ridha?’ tanya Allah.
‘Bagaimana kami tidak ridha? Sedangkan Engkau telah memberikan kami apa yang tidak Engkau berikan kepada makhluk lain,’ jawab mereka.
‘Aku akan memberi kalian sesuatu yang lebih utama daripada itu semua,’ kata Allah.
‘Apa itu ya Rabbi?,’ tanya mereka.
‘Aku berikan ridha-Ku untuk kalian semua sehingga aku tidak akan murka terhadap kalian selamanya,’ jawab Allah.
Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 13 tentang Kuburan yang Salami Orang-Orang Saleh yang Meninggal
Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Akan ada seruan ketika para penduduk surga telah masuk: ‘Tiba waktunya bagi kalian untuk hidup dan tidak akan pernah mati selamanya, sehat dan tidak akan pernah sakit selamanya, muda dan tidak akan pernah tua pikun selamanya, dan merasakan kenikmatan dan tidak akan pernah merasa kesulitan selamanya.’”
Demikian itu adalah Firman Allah: Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepada kalian sebagai balasan dari apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS Al A’raf: 43)
Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan, “Allah akan berfirman, ‘Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah mata lihat, telinga dengar, dan tersirat dalam hati manusia.
Baca juga: Mengenal Kitab Ushfuriyah yang Biasa Dibaca saat Ramadan, Ada Amalan-Amalan yang Dianjurkan
Bacalah firman Allah berikut: ‘Maka tak seorang pun tahu apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’ (QS As Sajdah: 17)
Rasulullah bersabda, “Tempat terburuk kalian di surga sungguh lebih baik dibandingkan dunia dan seluruh isinya. Bacalah jika kalian mau: ‘Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.’” (QS Ali Imran: 185).
Nabi bersabda lagi, “Di surga terdapat sebuah pohon, yang seandainya seseorang melewati teduhan bayang-bayang rindangnya selama seratus tahun, ia tetap belum bisa tuntas melewatinya. Kalian boleh membaca jika mau: ‘Dan naungan yang terbentang luas. Dan air yang tercurah. Dan buah-buahan yang banyak yang tidak terhenti buahnya dan tidak terlarang mengambilnya. Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.’” (QS Al Waqiah: 30-34)
Kelanjutan penjelasan hadis ke-25 dalam kitab ini memberi gambaran lanjutan tentang suasana surga. Bukan hanya bidadari dan rumah mewah berhias emas, intan, permata, tapi ada yang jauh lebih berharga dari itu semua. Yaitu, ridha Allah SWT. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)