MALANG - Hadis ke-28 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat Asma binti Umais al Khats-‘amiyah. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Seburuk-buruk hamba adalah yang selalu menyombongkan diri, suka menerjang kebenaran, bangga diri, serta lupa akan Allah yang Maha Besar dan Maha Tinggi.
Seburuk-buruk hamba adalah yang suka takabur, melampaui batas, dan melupakan Allah yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi.
Seburuk-buruk hamba adalah yang melupakan kuburnya dan busuknya jasad.
Seburuk-buruk hamba adalah yang bertindak sewenang-wenang, melampaui batas, dan lupa akan asal dan kembalinya.
Seburuk-buruk hamba adalah yang memilih dunia dengan cara mengatasnamakan agama.
Seburuk-buruk hamba adalah yang memanipulasi dunia dengan hal-hal syubhat.
Seburuk-buruk hamba adalah yang rakus, yang kerakusannya memimpin dia ke neraka.
Seburuk-buruk hamba adalah yang diperbudak oleh hawa nafsu yang menyesatkan.
Seburuk-buruk hamba adalah yang diperbudak oleh kesenangan yang dapat menghinakannya dan jauh dari kebenaran.”
Dari hadis ini, ada hikayat yang disertakan seperti berikut: Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz, pada masa kekhalifahannya, mengutus para sahabat ke tanah Roma untuk berperang. Kemudian mereka kalah dan 20 kelompok dari mereka ditawan.
Kaisar Roma memerintahkan seorang sahabat dari mereka masuk ke agamanya dan menyembah berhala. Kaisar berkata, ”Apabila kamu masuk ke dalam agamaku dan bersujud pada berhala maka aku akan menjadikanmu pemimpin di kota besar dan aku akan memberimu bendera pemerintahan, harta, gelas emas, dan terompet (wewenang).
Tetapi apabila kamu tidak masuk ke dalam agamaku maka aku akan membunuhmu dan memenggal kepalamu.”
Sahabat itu menjawab, “Aku tidak akan menjual agamaku dengan harga dunia.”
Kemudian Kaisar memberi perintah untuk membunuh sahabat itu. Ia dibunuh di lapangan, dipenggal kepalanya.
Sesaat setelah terputus, kepalanya menggelinding memutari lapangan sebanyak tiga kali sambil membaca ayat ini (QS Al Fajr: 27-30):
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga."
Melihat kejadian itu, Kaisar menjadi marah besar dan memerintahkan prajurit untuk mendatangkan sahabat yang kedua.
Kaisar pun kembali bertitah, “Masuklah ke dalam agamaku! Aku akan menjadikanmu seorang kepala di kota ini. Jika kamu tidak mau maka aku akan memenggal kepalamu sebagaimana aku telah memenggal kepala temanmu.”
Sahabat kedua menjawab, “Aku tidak menjual agamaku dengan harga dunia. Jika Anda memiliki kuasa memenggal kepalaku maka sesungguhnya Anda tidak punya kuasa memotong keimananku.”
Kemudian Kaisar memberi perintah untuk memenggal kepala sahabat kedua itu. Setelah kepalanya terpenggal, kepala itu menggelinding tiga kali memutari lapangan sambil membaca ayat QS Al Haaqqah: 21-23:
“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang penuh ridha. Dalam surga yang tinggi. Buah-buahnya bergelayut dekat.” Setelah itu kepala tersebut diam.
Berhenti di sisi kepala sahabat pertama.
Kaisar semakin bertambah marah dan memerintahkan prajurit untuk mendatangkan sahabat yang ketiga. Kaisar bertanya, “Apa yang akan kamu katakan? Apakah kamu akan masuk ke dalam agamaku? Kalau mau, aku akan menjadikanmu gubernur.”
Nahasnya, sahabat ketiga ini terbujuk. Ia mengatakan, “Baiklah. Aku masuk ke dalam agamamu dan memilih dunia daripada akhirat."
Kemudian Kaisar berkata kepada perdana menterinya, “Tulislah ia dalam daftar! Beri ia harta, gelas emas, dan bendera pemerintahan.”
Perdana menteri itu bilang, “Wahai Kaisar! Bagaimana kita bisa memberinya kalau belum kita tes apakah dia itu serius atau tidak. Wahai Kaisar! Katakan kepadanya, ‘Kalau kamu benar-benar serius dengan pernyataanmu maka bunuhlah salah satu temanmu! Jika kamu melakukannya maka kami akan percaya dengan pernyataanmu.’”
Kemudian sahabat ketiga yang terlaknati itu membawa salah satu temannya. Ia membunuh temannya. Melihat kejadian itu, Kaisar memerintahkan perdana menteri untuk menulisnya dalam daftar.
Kemudian perdana menteri itu berkata kepada Kaisar, “Ini tidak masuk akal dan bukan keputusan yang bijaksana untuk mempercayai pernyataannya. Ia saja tidak bisa menjaga hak temannya sendiri yang lahir dan tumbuh besar bersamanya. Lantas apakah ia nanti bisa menjaga hak kita?”
Akhirnya, Kaisar memerintahkan prajurit untuk membunuhnya dan memenggal kepalanya. Setelah dipenggal, kepala sahabat ketiga itu menggelinding memutari lapangan tiga kali dan membaca ayat (QS Az Zumar: 19) berikut:
“Apakah (kamu hendak mengubah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?”
Kemudian kepala sahabat ketiga ini berhenti di tepi lapangan dan tidak berdekatan dengan kedua kepala sahabat pertama dan kedua. Ia akan kembali pada siksa Allah. Naudzubillah.
Hadis dan kisah di atas mengingatkan kepada kita tentang bahayanya tipu daya dunia. Jika tidak waspada, kita bisa terjebak di dalamnya dan rugi besar akibatnya. Seperti sahabat yang ditawari jabatan dalam kisah tersebut. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)