Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 31 dan Kisah tentang Fudhail, Perampok Bengis yang Terkena Panah Allah 

A. Nugroho • Rabu, 18 Maret 2026 | 03:59 WIB
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 31 dan Kisah tentang Fudhail, Perampok Bengis yang Terkena Panah Allah 
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 31 dan Kisah tentang Fudhail, Perampok Bengis yang Terkena Panah Allah 

 

MALANG - Hadis ke-31 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah diambil berdasar riwayat Ibnu Abbas. Menurutnya, Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai berikut:


“Dengan beberapa orang saja yang mau salat, Allah menjauhkan bencana dari umatku yang tidak salat. Andaikan mereka semua meninggalkan salat niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih.


Dengan beberapa orang saja yang mau berzakat, Allah menjauhkan bencana dari umatku yang tidak mau mengeluarkan zakat. Andaikan mereka semua tidak mau berzakat niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih. 


Dengan beberapa orang saja yang mau berpuasa, Allah menjauhkan bencana dari umatku yang tidak berpuasa. Andaikan mereka semua tidak mau berpuasa niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih. 


Dengan beberapa orang saja yang mau berhaji, Allah menjauhkan bencana dari umatku yang tidak mau berhaji. Andaikan mereka semua tidak berhaji niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih. 


Dengan beberapa orang saja yang mau salat Jumat, Allah menjauhkan bencana dari umatku yang tidak salat Jumat. Andaikan mereka semua meninggalkan salat Jumat niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih.”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 30 dan Kisah tentang Penipu yang Mati pun Tetap Menipu 


Hadis ini adalah penjelasan dari Firman Allah (QS Al Baqarah: 251): “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah memiliki karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” Karunia-Nya adalah memaafkan dan mengampuni orang yang tidak mau salat dengan perantara adanya orang yang salat.


Dari hadis ini, ada hikayat yang disertakan oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Yakni, hikayat Fudhail bin Iyad. Dikisahkan, dulu dia adalah seorang perampok yang ditakuti. Aksinya melintang dari satu tempat ke tempat yang lain. 


Pada suatu malam, di tengah penantian mangsanya, ia berbaring di pangkuan pelayannya. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat segerombolan orang. Ketika mulai dekat dengan Fudhail, mereka berhenti dan berkata: “Fudhail ada di sana bersama para anak buahnya. Apa yang harus kita lakukan?”


Kafilah itu terbagi menjadi tiga kelompok. Salah satu dari mereka menjawab: “Aku akan memanahnya dari sini. Jika anak panah mengenainya maka kita akan meneruskan perjalanan dan jika tidak mengenainya maka kita akan kembali pulang.”


Kemudian orang pertama dari mereka memanah sambil membaca firman Allah (QS Al Hadiid: 16): “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah…”


Tiba-tiba Fudhail menjerit keras dan jatuh tersungkur pingsan. Pelayannya mengira kalau Fudhail terkena anak panah. Kemudian si pelayan segera memeriksanya untuk memastikan. Setelah Fudhail tersadar dari pingsan, ia berucap, “Panah Allah telah mengenaiku.”


Kemudian orang kedua dari kafilah ganti melesatkan anak panah ke arah Fudhail sambil membaca firman Allah (QS Adz Dzariyat: 49): “Maka segeralah kembali (menaati) kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untuk kalian.”


Fudhail kembali menjerit lebih keras daripada sebelumnya. Pelayannya pun segera memeriksa apakah Fudhail benar-benar terkena anak panah. Kemudian Fudhail berkata: “Hai pelayanku! Panah Allah telah mengenaiku.”


Lalu, giliran orang ketiga dari kafilah melesatkan anak panah ke arah Fudhail sambil membaca firman Allah (QS Az Zumar; 54): “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 19 dan Kisah tentang Berhala yang Bisa Bicara tentang Kenabian Muhammad 


Lagi-lagi Fudhail menjerit, lebih keras daripada yang pertama dan kedua. Kemudian ia berkata kepada pelayan dan para anak buahnya: 


“Sadarlah dan bertaubatlah kalian semua! Pulanglah! Sesunggguhnya aku menyesali semua kedzaliman yang telah aku perbuat. Rasa takut kepada Allah telah masuk ke dalam hatiku. Aku tidak akan merampok lagi.”


Kemudian Fudhail bin Iyad pergi menuju arah Makkah. Ketika ia telah sampai di tempat yang dekat dengan Nahrawan, Harun al-Rasyid menemuinya dan berkata: 


“Hai Fudhail! Aku telah melihat dalam mimpi, seseorang memangggilmu dan menyerukan: ‘Sesungguhnya Fudhail telah takut kepada Allah. Ia telah memilih mengabdikan dirinya kepada-Nya. Terimalah ia!”


Fudhail tak mampu menahan perasaannya dan menjerit lagi kepada Allah sambil berseru: “Ya Allah! Demi kemulian-Mu dan kemahabesaran-Mu, Engkau mencintai seorang hamba pendosa yang telah jauh dari-Mu selama 40 (empat puluh) tahun.”


Hadis dan kisah ini kembali mengingatkan kepada kita tentang betapa Pemurah-nya Allah SWT kepada hamba-Nya. Tanpa kemurahan-Nya, niscaya bumi sudah luluh lantak oleh ulah manusia. Karena kemurahan-Nya pula, seorang pendosa, perampok nan ditakuti seperti Fudhail, mendapatkan hidayah sehingga bertaubat dan memilih jalan kebaikan di sisa hidupnya. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#ushfuriyah #Ngaji #Ramadan #rasulullah