Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 32 dan Kisah tentang Abu Bakar dan Ali yang Menangis dalam Salatnya 

A. Nugroho • Rabu, 18 Maret 2026 | 15:34 WIB
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 32 dan Kisah tentang Abu Bakar dan Ali yang Menangis dalam Salatnya 
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 32 dan Kisah tentang Abu Bakar dan Ali yang Menangis dalam Salatnya 

 

MALANG - Hadis ke-32 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat Abu Hurairah. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai berikut:


“Orang-orang pilihan dari umatku adalah mereka yang bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Ketika mereka berbuat baik maka mereka senang dan ketika mereka berbuat buruk maka mereka beristighfar (meminta ampun). Ketika mereka melakukan perjalanan jauh maka mereka meng-qashar salat dan membatalkan puasa. 


Sesungguhnya orang-orang buruk dari umatku adalah mereka yang dilahirkan dengan kelimpahan nikmat dan yang berangkat pagi-pagi (awal) untuk mencari nikmat, tetapi tujuan mereka hanyalah makanan dan minuman. Jika berbicara, mereka berlebih-lebihan dan ketika berjalan maka mereka berlagak sombong.


Celakalah mereka yang berjalan hingga ujung baju terseret tanah (simbol kecongkakan masa lalu, ed)! Celakalah mereka yang makan makanan sisa orang lain! Celakalah mereka yang pandai bicara dengan syair-syairnya...”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 31 dan Kisah tentang Fudhail, Perampok Bengis yang Terkena Panah Allah 


Dalam hadis tersebut, Rasulullah memuji umatnya, yaitu mereka yang hidup dengan mengerjakan amal-amal baik seperti disebutkan dalam hadis dan mencela sebagian mereka yang lain. 
Rasulullah memotivasi umatnya untuk senantiasa melakukan ketaatan dan istiqamah mengerjakan amal-amal baik yang disebutkan dalam hadis hingga pada suatu malam di bulan Rajab, beliau SAW bangun di pertengahan malam untuk melihat ke dalam masjid apakah ada sahabat-sahabatnya yang bangun beribadah. 


Ketika beliau telah dekat dengan pintu masjid, beliau mendengar suara Abu Bakar tengah menangis di dalam salatnya. Abu Bakar ingin mengkhatamkan Al Qur’an di dua rakaat salat. Ketika ia sampai pada ayat ini (QS At Taubah: 111): “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka...” maka ia tambah menangis sangat bersedih. 


Kemudian Rasulullah berdiri di dekat pintu. Air mata Abu Bakar sampai menetes di atas tikar. 


Di sisi lain masjid, Rasulullah mendengar suara Ali bin Abi Thalib yang tengah menangis keras. Ia ingin mengkhatamkan Al Qur’an dalam dua rakaat salat. 


Ketika ia sampai pada ayat ini (QS Az Zumar:9): “Katakanlah! Adakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang memiliki akal sempurnalah yang dapat menerima pelajaran” maka air matanya menetes hingga membasahi tikar. 


Di satu sisi lain masjid, Mua’adz bin Jabal hendak mengkhatamkan Al Qur’an dalam salatnya. Hanya saja ia membaca setengah atau sepertiga surat. Kemudian ia membaca surat lain sesuai dengan urutan dari surat sebelumnya. Ia menangis dalam salatnya dan air matanya menetes hingga sampai tikar. 


Sedangkan sahabat Bilal salat di pojokan masjid. Ia menangis. 


Kemudian Rasulullah ikut menangis bersama mereka.


Setelah mereka selesai dari salat, Rasulullah pulang ke rumah dengan perasaan senang. Mereka semua tidak tahu kehadirannya. 


Menjelang pagi, mereka datang ke masjid dan menunaikan salat Subuh sebagai makmum di belakang Rasulullah. Setelah selesai salat, Rasulullah menghadap ke arah mereka dan bertanya dengan perasaan senang:


“Hai Abu Bakar! Mengapa kamu menangis ketika membaca ayat ini: ‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka’?”


Abu Bakar menjawab, “Bagaimana saya tidak menangis sedangkan Allah berfirman kalau Dia membeli diri hamba-hamba-Nya. Sedangkan ketika seorang hamba (budak) memiliki cacat maka pembeli tidak jadi membelinya atau setelah pembeli membelinya dan ternyata ada cacat yang diketahui dari hamba tersebut maka pembeli itu akan mengembalikannya? 


Sama halnya apabila saya memiliki cacat ketika dibeli atau setelah dibeli dan ternyata ada cacat dari diriku maka Allah pun akan mengembalikanku. Dengan demikian saya akan menjadi salah satu dari penduduk neraka. Karena alasan itulah saya menangis.”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 17 tentang Sakit yang Menjadi Pelebur Dosa 


Kemudian Jibril datang dan berkata: “Hai Muhammad! Katakanlah kepada Abu Bakar! Ketika Allah, Sang Pembeli, mengetahui cacat hamba, kemudian Dia membelinya dengan kondisi ada cacat, maka bagi-Nya tidak punya hak untuk mengembalikan karena Allah telah mengetahui cacat hamba sebelum Dia menciptakannya.


Dengan kondisi hamba memiliki cacat, Allah tetap membelinya. Kemudian Dia tidak akan mengembalikannya padahal cacat tersebut diketahui setelah dibeli. 
Sama halnya, orang telah membeli sepuluh budak. Dari sepuluh budak tersebut, ternyata ia menemukan hanya satu budak saja yang tidak memiliki cacat. Kemudian ia hendak hanya mempertahankan yang tidak bercacat dan mengembalikan lainnya yang bercacat. Padahal syariat memerintahkannya untuk tidak mengembalikan budak lainnya itu, tetapi menerima seluruhnya.


Allah telah membeli seluruh orang-orang mukmin. Masuk dalam transaksi penjualan adalah para nabi, hamba-hamba pilihan, dan para rasul. Dengan demikian, diketahui bahwa hamba yang memiliki cacat tidak akan dikembalikan oleh Allah.”


Kemudian Rasulullah SAW dan para sahabatnya pun senang.


Lalu Rasulullah bertanya kepada Ali: “Hai Ali! Mengapa kamu menangis ketika membaca ayat: ‘Katakanlah! Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang memiliki akal sempurnalah dapat menerima pelajaran’?”


Ali menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis sedangkan Allah telah berfirman: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang- orang yang memiliki akal sempurnalah yang dapat menerima pelajaran.’ 


Sedangkan bapak kita, Adam, adalah orang yang paling tahu. Allah telah berfirman tentangnya: ‘Dan Kami telah mengajarkan Adam seluruh nama-nama...’ dan kita tidaklah sepertinya. Bagaimana kita bisa menyamainya?”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 10 Kisah 1 tentang Orang yang Ditawari Allah Tempat di Surga Seluas 4 Negeri di Dunia


Kemudian Malaikat Jibril datang dan berkata: “Hai Muhammad! Katakanlah kepada Ali! Bahwa maksud ayat yang ia baca bukanlah seperti yang ia kira. Tetapi maksudnya adalah bahwa besok di Hari Kiamat, orang kafir tidaklah sama dengan orang-orang mukmin karena orang kafir hanyalah menyembah berhala dan tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir.


Sedangkan orang mukmin menyembah Allah dan setiap waktu selalu mengatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.’ 


Begitu juga orang-orang mukmin ketika berbuat baik maka mereka akan senang dan ketika berbuat buruk maka mereka meminta ampunan dan ketika mereka melakukan perjalanan jauh maka mereka meng-qashar salat dan membatalkan puasa. Tidak ada dosa bagi mereka melakukan hal itu. 


Selain itu, orang kafir tidaklah sama dengan orang mukmin karena tempat kembalinya adalah neraka dan tempat kembali orang mukmin adalah surga.”
Dari hadis dan kisah di atas, kita bisa memetik hikmah tentang keistimewaan umat Nabi Muhammad yang tidak kehilangan kemanusiaannya. Meski senang berbuat baik, namun juga bisa berbuat salah. Akan tetapi, ketika berbuat salah dia segera memohon ampun kepada Allah. 


Dan, Allah maha mengetahui keadaan manusia yang demikian. Karena itu, sepanjang manusia mau mendekat kepada-Nya, kasih sayang Allah selalu jauh lebih besar dibanding semuanya. Sepanjang manusia mau beriman kepada-Nya dan rasul-Nya, berbagai kekurangan yang ada tidak akan diperhitungkan oleh-Nya. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#ushfuriyah #Ngaji #hadis #rasulullah #kitab