MALANG - Hadis ke-34 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat Ali bin al-Husain, dari kakeknya, dari Rasulullah SAW. Disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda sebagai berikut:
“Empat hal yang apabila ada pada diri seseorang maka Islamnya telah sempurna meskipun dari kepala sampai telapak kaki terdapat kesalahan-kesalahan dosa. Empat hal tersebut adalah jujur, syukur, malu, dan berakhlak baik.”
Dari hadis ini, Syekh Muhammad menyertakan sebuah hikayat tentang Ja’far sang burung terbang. Dikisahkan, berkat kejujuran dan sikapnya yang tidak berbohong selama hidup, saat meninggal dunia Ja’far at-Toyyar diberi anugerah oleh Allah. Yaitu, berupa dua sayap hijau yang dipenuhi dengan intan dan mutiara yang dapat ia gunakan untuk terbang bersama para malaikat.
Suatu hari, Rasulullah bertanya kepadanya: “Hai Ja’Far at-Toyyar! Hai anak Abu Thalib! Dengan amalan apa kamu bisa mencapai tingkatan kemuliaan ini (diberi dua sayap oleh Allah)?”
Ja’far menjawab, “Aku tidak tahu. Hanya saja aku menghindari tiga hal pada masa kekufuran dan keislaman.”
Rasulullah bertanya, “Apa tiga hal itu?”
Ja’far menjawab, “Aku tidak berbohong, tidak berzina, dan juga tidak pernah mabuk pada masa kekufuran dan keislaman.”
“Tiga hal itu memang haram pada masa keislaman. Lantas atas dasar apa kamu menghindari tiga hal tersebut pada masa kekufuran?,” tanya Rasulullah.
Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 9 Kisah 1 tentang Burung yang Dapat Makanan dari Selilit Ikan Paus
Ja’far menjawab, “Aku berpikir dalam hal berbicara bahwa orang yang berbohong dalam bicaranya maka ia adalah orang yang dicurigai di kalangan masyarakat dan ia akan merasa malu jika ketahuan bohong. Oleh karena ini, aku menghindari berbohong.
Aku berpikir dalam hal perzinaan bahwa misalnya orang yang berzina dengan istriku, putriku atau saudariku maka orang itu telah melukaiku dan aku tidak akan memaafkannya. Begitu juga jika aku berzina dengan wanita lain maka orang lain pun tidak akan memaafkanku. Oleh karena ini aku menghindari perzinaan.
Adapun aku enggan mabuk maka aku tahu kalau orang-orang pasti menginginkan akal yang mereka miliki bisa senantiasa bertambah kualitasnya. Sedangkan orang yang mabuk pasti kehilangan kesadaran akalnya, berbicara sembarangan, dan ditertawakan orang banyak. Oleh karena ini, aku menghindari mabuk.”
Kemudian Malaikat Jibril datang dan berkata kepada Rasulullah, “Ja’far benar. Allah memberinya dua sayap karena ia menghindari 3 (tiga) hal tersebut.”
Dari kisah ini, salah satu hikmah yang bisa kita petik adalah bahwa perbuatan baik dan buruk selaras dengan rasio atau cara kerja akal manusia. Ini dibuktikan dengan amalan Ja’far. Ia berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk bukan semata karena ketaatannya kepada Allah. Akan tetapi, karena selaras dengan rasionya. Yakni, jika berbuat buruk, akibatnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : A. Nugroho