RADAR MALANG - Hadis ke-36 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat dari Ali bin Abi Thalib. Ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda demikian:
“Surat Al Fatihah, ayat kursi, dan dua ayat (ayat 18-19) dari surat Ali Imran (yaitu ayat syahidallahu annahu laa ilaaha illa Huwa…dst hingga innad diina ‘indallaahil Islam dan ayat qulillaahumma malikal mulki tu’til mulka man tasyaa’… dst hingga bighairi hisab), adalah ayat-ayat di mana ketika Allah hendak menurunkannya, mereka bergantungan di ‘Arsy.
Ayat-ayat itu lalu bertanya, ‘Apakah Engkau akan menurunkan kami ke bumi-Mu dan kepada orang yang akan bermaksiat kepada-Mu?’
Allah menjawab, ‘Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku! Tidak ada seorang hamba dari hamba-hamba-Ku membaca kalian seusai salat (wajib) kecuali surga dijadikan sebagai tempat kembalinya.
Dan Aku tidak akan menempatkan hamba-Ku itu di Surga Qudsi kecuali Aku akan melihatnya sebanyak 70 kali dalam sehari dan setiap hari, 70 hajatnya dipenuhi. Hajat yang paling rendah adalah maghfirah atau ampunan, dan Aku akan melindunginya dari semua musuh dan Aku akan menolongnya.’
Dari hadis ini, disertakan hikayat tentang Naufal Khawari. Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbah, ia mengisahkan: “Sesungguhnya salah seorang dari para santri Nabi Isa as yang bernama Nauf hendak pergi menemui Raja Persia dan mengajaknya beriman.
Hingga Nauf sampai di pintu gerbang istana Persia. Ia melihat beberapa penggawa kerajaan mengadakan adu kekuatan dengan taruhan 40 dirham. Nauf mengamati mereka. Setelah tahu peta permainan, ia bergabung dan ternyata menang. Padahal, di antara penggawa itu ada putra salah seorang menteri.
Si putra menteri itu pun menawarinya untuk singgah ke rumah. “Sudikah Tuan pergi bersama saya ke rumah?”
“Temuilah ayahmu dulu dan mintalah izin darinya jika kamu mau mengajakku singgah ke rumahmu!’ jawab Nauf.
Kemudian penggawa itu pulang dan menemui ayahnya. Ia berkata, “Wahai ayahku! Saat itu kami sedang bermain. Kemudian ada orang yang sudah tua ikut bermain bersama kami dan berhasil mengalahkan kami semua. Saya sangat kagum dengan kecakapannya. Lantas saya mengundangnya untuk mampir ke rumah. Akan tetapi ia tidak mau dan memintaku agar minta izin dulu kepada ayah.”
Si ayah yang menteri pun menjawab, “Wahai anakku! Temuilah ia! Dan bawalah ia kemari!”
Si penggawa lalu pergi menemui Nauf dan mengajaknya ke rumah bersama. Ketika masuk rumah, Nauf membaca ‘bismillah’. Sebelumnya, rumah itu dipenuhi dengan setan-setan. Begitu dibacakan basmalah oleh Nauf, mereka pergi semua.
Kemudian ketika tuan rumah meletakkan hidangan di depan Nauf, setan-setan datang hendak makan bersama mereka seperti biasanya. Nauf membaca basmalah lagi dan para setan itu lari terbirit-birit tidak berani kembali.
Selesai makan bersama, si ayah yang menteri bertanya kepada Nauf, “Wahai Tuan, sudikah Anda memberitahu siapa sebenarnya Anda? Saya melihat hal-hal ganjil luar biasa dari diri Anda yang belum pernah saya lihat dari siapa pun.
Ketika Anda masuk ke dalam rumah, setan-setan pada berlarian. Sebelumnya, ketika kami menghidangkan makanan, kami tidak bisa makan sendiri dan setan-setan selalu ikut makan bersama kami. Tetapi kali ini setan-setan berlarian ketika Anda ikut makan.
Oleh karena itu, saya tahu kalau Anda memiliki sesuatu yang luar biasa. Beritahu saya dan jangan Anda sembunyikan identitas Anda dariku!”
Nauf menjawab, “Baiklah! Saya akan memberitahu Anda siapa saya sebenarnya. Akan tetapi jangan memberitahu siapa pun tentangku kecuali dengan izinku.”
“Baiklah!,” jawab sang menteri sambil berjanji.
Nauf menjelaskan, “Sesungguhnya Nabi Isa ‘alaihi as-salam menyuruhku datang kepada kalian dan raja kalian untuk mengajak iman kepada Allah, masuk Islam, hanya menyembah-Nya, tidak menyekutukan apa pun dengan-Nya, dan membakar berhala-berhala dan patung- patung kalian.”
Sang menteri berkata, “Jelaskan kepada saya tentang Tuhan Anda!”
Nauf menjelaskan, “Allah adalah Tuhan yang tidak ada Tuhan melainkan Dia yang telah menciptakanmu, memberimu rezeki, menghidupkanmu dan mematikanmu.”
Kemudian sang menteri beriman, membenarkan ajaran Nauf dan menyembunyikan keimanannya.
Pada suatu hari, ketika si menteri pulang dari menemui Raja Parsi/Persia, ia terlihat sangat sedih dan murung. Nauf bertanya, “Wahai Menteri! Saya melihat Anda bersedih dan murung. Apa yang membuatmu demikian?”
Menteri menjawab, “Kuda kesayangan Raja telah mati. Raja selalu mengendarai kuda itu dan tidak mau mengendarai yang lain. Ia sangat mencintainya lebih daripada hartanya. Ia duduk bersedih atas kematian kudanya itu.”
Nauf pun berkata, “Wahai Menteri! Pergilah menemui Raja. Beritahu ia kalau Anda memiliki seorang tamu yang mengatakan, ‘Jika Raja menuruti tentang apa yang akan saya katakan, maka saya akan menghidupkan kembali kudanya.’’
Si menteri segera pergi menemui raja dengan perasaan senang. “Wahai Baginda, hamba mempunyai tamu yang hamba lihat banyak memiliki keistimewaan. Dia menyatakan, jika Baginda berkenan mengikuti kehendaknya, ia akan menghidupkan kembali kuda Baginda, dengan izin Tuhan.”
Kemudian Raja pun bersedia. Setelah itu, menteri kembali menemui Nauf. “Raja bersedia menuruti Anda dan mengundang Anda untuk menemuinya.”
Kemudian, ketika Nauf al Khawari sampai di istana Raja dan hendak memasukinya, ia membaca “bismillah” hingga tidak ada satu setan pun yang berada di istana tersebut.
Sesampainya di hadapan raja, Raja menyapanya, “Wahai Tuan! Aku mendengarkalau Anda bisa menghidupkan makhluk yang telah mati. Makavdari itu, hidupkanlah kembali kuda kesayanganku ini!”
Nauf menjawab, “Apabila Anda menuruti apa yang akan saya katakan, maka saya akan menghidupkan kembali kuda kesayangan Anda dengan izin Allah Ta’ala.’
Baca juga: Mengenal Kitab Ushfuriyah yang Biasa Dibaca saat Ramadan, Ada Amalan-Amalan yang Dianjurkan
Raja menjawab, “Baiklah! Saya bersedia. Sebutkan apa yang kamu perintahkan kepadaku!”
Nauf bertanya, “Apakah Anda memilih anak-anak?”
Raja menjawab, “Aku hanya memiliki seorang ayah dan istri. Aku tidak memiliki siapa pun kecuali mereka berdua.”
Nauf berkata, “Panggillah mereka berdua!” Kemudian ayah raja dan istrinya pun datang.
“Panggillah semua rakyat Anda!,” pinta Nauf.
Kemudian Raja memanggil semua rakyatnya untuk berkumpul. Setelah itu Nauf memegang salah satu kaki kuda sambil membaca “laa ilaaha illallah”. Kaki kuda itu pun bergerak-gerak.
Lalu, Nauf kembali berkata, “Perintahkanlah ayah dan istri Anda untuk memegang masing- masing kaki kuda ini dan Anda sendiri!”
Kemudian mereka bertiga memegang masing-masing kaki kuda.
“Raja! Katakanlah “laa ilaaha illallah”!,” perintah Nauf.
Raja menurutinya. Dan, kaki kuda yang ia pegang bergerak-gerak.
Kemudian Nauf berkata kepada ayah raja, “Anda juga! Ucapkanlah “laa ilaaha illallah!” Kaki kuda yang dipegangnya pun bergerak-gerak.
Nauf ganti berkata kepada istri raja, “Anda juga! Ucapkanlah “laa ilaaha illallah”,!” Kaki kuda yang dipegangnya pun bergerak-gerak.
Hanya tertinggal jasad kuda yang belum bergerak. Kemudian Nauf berkata kepada raja, ”Wahai raja! Perintahkan semua rakyatmu mengucapkan “laa ilaaha illallah”!”
Kemudian semua rakyat mematuhinya dengan mengucapkan kalimat tauhid itu. Atas izin Allah, tiba-tiba kuda itu berdiri. Nauf meniup ubun-ubun kuda. Orang-orang pun kagum. Semua lantas masuk Islam.
Hadis dan kisah di atas menjelaskan tentang kalimat dan ayat-ayat yang memiliki ‘keajaiban’ jika dibaca. Tentu, semua itu bisa terjadi karena ada izin Allah. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)