Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Jumat: Ini Tiga Tingkatan Bestie menurut Imam Ghazali, Yang Ke-2 dan 3 Siapa Sanggup?

Tauhid Wijaya • Jumat, 10 April 2026 | 05:41 WIB
GANDENG TANGAN: Bestie alias sahabat selalu bersama dalam suka maupun duka.
GANDENG TANGAN: Bestie alias sahabat selalu bersama dalam suka maupun duka.

 

 

RADAR MALANG- Banyak di antara kita mengaku atau merasa sudah bestie-an atau bersahabat dengan seseorang. Padahal, barangkali kadar ke-“bestie”-annya masih perlu ditakar ulang. Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin punya ukuran untuk seseorang bisa disebut sebagai bestie atau bukan.

Dalam istilah kini, bestie diartikan sebagai sahabat, lebih dari sekadar teman. Diambil dari istilah bahasa Inggris "best friend" yang kemudian hanya dicuplik kata "best"-nya saja dan dalam bahasa percakapan gaul menjadi "bestie".

Untuk bisa disebut sebagai bestie alias sahabat alias saudara, kata Imam Al Ghazali, seseorang harus bisa memenuhi hak atas orang lain yang disebutnya sebagai bestie. Hak itu ada delapan jenis.

Pertama, hak dalam harta. Kedua, hak dalam memberikan pertolongan dengan tenaga atau yang lain. Ketiga, hak dalam lidah dan hati (cara berdiam). Keempat, hak dalam lidah (dengan ucapan).

Kelima, hak memberi pengampunan. Keenam, hak dalam mendoakan. Ketujuh, hak dalam memenuhi kecintaan dan keikhlasan. Kedelapan, hak memberi keringanan, tidak memberatkan atau memberi paksaaan.

Mengutip hadis Rasulullah SAW riwayat Dailami, bestie itu diibaratkan dua telapak tangan yang saling membersihkan satu sama lain: “Matsalul akhwaini mitslul yadaini taghsila ihdaahumal ukhra.”

Dalam hal harta atau keuangan, ada tiga tingkatan bestie yang diberikan oleh Imam Al Ghazali.

Pertama, tingkatan paling ringan. Yaitu, memberikan bantuan kepada bestie ketika kebutuhan pribadi sudah tercukupi. Lebih utama, bantuan diberikan sebelum bestie kita memintanya. Begitu mengetahui keadaannya yang membutuhkan, bantuan segera kita ulurkan.

Kedua, tingkatan menengah. Yaitu, merelakan harta dan rumah kita untuk bestie seolah dia ikut memilikinya. Pada tingkatan ini, bestie sudah tidak perlu lagi meminta dan kita tidak perlu lagi memberi. Sebab, ibaratnya, harta kita harta bestie juga.

Ketiga, tingkatan paling tinggi. Yaitu, bukan sekadar merelakan, bahkan kita lebih mengutamakan bestie kita di atas kepentingan kita sendiri. Bukan hanya dalam hal harta, bahkan nyawa. Inilah puncak per-bestie-an lahir batin. Tingkatan pada shiddiqin, orang yang benar-benar ikhlas dalam persahabatan.

Ada kisah yang dinukil Imam Al Ghazali dari Zainul Abidin Ali bin Husain ra tentang definisi seorang bestie. Suatu ketika ia bertanya kepada seseorang sebagai berikut: “Sekiranya ada seseorang yang memasukkan tangannya ke dalam saku bajumu lalu ia mengambil apa saja yang dia inginkan dari sana tanpa izin, apakah hal itu engkau benarkan?”

Orang itu menjawab, “Tentu saja tidak saya benarkan.”

Zainul Abidin pun menyahut, “Kalau demikian, kamu semua belum dapat disebut saudara.”

Ada kisah lain yang menarik dari Abdullah bin Umar tentang per-bestie-an ini. Ia bercerita bahwa suatu ketika ada seorang sahabat yang menerima hadiah berupa kepala kambing dari sahabatnya. Tetapi, ia menolak sambil berkata, “Ah, ada saudaraku si Anu yang lebih memerlukan ini daripada aku. Maka lebih baik diantarkan ke sana saja.”

Kepala kambing itu pun dibawa ke rumah sahabat lain yang ditunjuk tadi. Tetapi, begitu sampai di sana, si sahabat bersikap serupa. Ia ganti menunjuk sahabatnya yang lain lagi yang disebutnya lebih membutuhkan.

Lalu, ketika diantarkan ke sana, si sahabat juga bersikap serupa. Maka, kepala kambing itu berputar sampai tujuh orang hingga kembali kepada sahabat yang pertama.

Kisah itu menunjukkan bagaimana praktik per-bestie-an di masa sahabat. Semua lebih mengutamakan sahabatnya yang lain daripada dirinya sendiri.

Lalu, dengan derajat per-bestie-an versi Al Ghazali dan kisah para sahabat di atas, sudah sampai mana derajat per-bestie-an kita? (hid)

 

*) disarikan dari kitab Mau’idhatul Mu’minin min Ihya ‘Ulumuddin karya Syaih Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Addimasyqi, ringkasan atas karya Imam Al Ghazali, terjemah Moh. Abdai Rathomy

Editor : Tauhid Wijaya
#ihyaulumuddin #imamghazali #ngajijumat #ngajiihya