Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dari Limbah Kain Perca, Komunitas Perempuan Crafting in Love Malang Sulap Jadi Produk Bernilai Jual

Rori Dinanda Bestari • Minggu, 19 April 2026 | 15:16 WIB
Taplak meja patchwork hasil kerajinan anggota komunitas Crafting in Love Malang memakai kain perca. (Crafting in Love Malang)
Taplak meja patchwork hasil kerajinan anggota komunitas Crafting in Love Malang memakai kain perca. (Crafting in Love Malang)

MALANG, RADAR MALANG – Limbah tekstil yang kerap dianggap tak berguna justru diolah menjadi produk bernilai oleh para perempuan di komunitas Crafting in Love Malang.

Berangkat dari sisa produksi pakaian, mereka menyulap potongan kain perca menjadi berbagai produk kriya, seperti totebag, tas selempang, dompet, hingga taplak meja.

Komunitas ini tak hanya menjadi ruang kreatif, tetapi juga wadah pemberdayaan bagi para penjahit rumahan sekaligus upaya mengurangi limbah tekstil.

“Jadi, sisa kain dari produksi baju tidak dibuang, tapi dijahit kembali menjadi produk baru,” ujar Rini, pengurus Crafting in Love Malang.

Baca Juga: Habiskan Akhir Pekan sambil “Bermain”, Komunitas Kaliko Jadi Ruang Healing Pegiat Crafting Malang

Sebagian besar proses produksi masih mengandalkan mesin jahit. Sekitar 80 persen pengerjaan dilakukan dengan mesin, sementara tahap akhir diselesaikan secara manual untuk memperkuat detail dan karakter produk.

Menariknya, tiap anggota membawa keahlian berbeda. Ada yang memadukan kain perca dengan teknik batik, rajut, sashiko, hingga ecoprint.

Keberagaman itu menjadi kekuatan komunitas dalam menghasilkan produk yang tidak sekadar fungsional, tetapi juga punya nilai artistik.

Untuk mendukung aktivitas anggota, komunitas juga menyediakan sembilan mesin jahit dan obras yang bisa digunakan bersama, bahkan sebagian dapat dibawa pulang.

Baca Juga: Jangan Terjebak Rutinitas Monoton! Ini Cara Mengatur Waktu dengan Baik

“Supaya lebih mudah bekerja dari rumah, karena beberapa mesinnya portabel,” lanjut Rini.

Berawal dari jejaring pertemanan di media sosial, komunitas ini berkembang dan mulai memberi dampak ekonomi. Produk yang dihasilkan juga kerap tampil dalam berbagai agenda Pemerintah Kota Malang.

Saat ini, sekitar 50 anggota tergabung dalam Crafting in Love Malang. Meski pertemuan rutin biasanya diikuti 15 hingga 20 orang, semangat yang dibawa tetap sama: mengurangi limbah dan membuka peluang penghasilan.

Editor : Aditya Novrian
#kain perca Malang #Crafting in Love Malang #limbah tekstil #produk kriya Malang #komunitas perempuan Malang