MALANG, RADAR MALANG – Di tengah ritme hidup yang serbacepat, sebagian anak muda memilih memperlambat waktu dengan cara sederhana: duduk, menggambar, lalu berkarya.
Bagi Essa Hayyu Anggana, crafting bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. Perempuan 22 tahun itu justru menemukan ruang berekspresi sekaligus cara melepas kejenuhan dari rutinitas.
Essa mulai mengenal crafting pada Oktober 2025. Awalnya hanya ingin mencoba hal baru dan memperluas relasi. Namun, aktivitas itu kini menjadi rutinitas yang dinantikan.
Ia rutin mengikuti kegiatan Komunitas Kaliko setiap bulan, dengan fokus pada menggambar dan melukis.
“Saya paling sering ikut menggambar dan melukis, karena sebelumnya memang sudah punya pengalaman di bidang itu,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Limbah Kain Perca, Komunitas Perempuan Malang Sulap Jadi Produk Bernilai Jual
Dengan krayon dan cat air, Essa menuangkan ide lewat beragam objek gambar, mulai figur manusia, tumbuhan, makanan, hingga lanskap alam.
Dalam sekali pertemuan, ia bisa menghabiskan waktu sekitar tiga jam. Aktivitas serupa juga kerap ia lakukan sendiri di rumah maupun saat bersantai di kafe.
Bagi pekerja lepas di bidang animasi itu, crafting menjadi ruang penting untuk menjaga kreativitas tetap mengalir.
“Bisa jadi cara melepas kebosanan dari rutinitas. Sekalian mengekspresikan diri lewat karya,” katanya.
Menariknya, aktivitas ini dinilai tidak membutuhkan biaya besar. Untuk alat dan bahan, Essa biasanya mengeluarkan sekitar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu, sementara konsumsi saat berkegiatan sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu.
Baca Juga: Habiskan Akhir Pekan sambil “Bermain”, Komunitas Kaliko Jadi Ruang Healing Pegiat Crafting Malang
Selain menggambar dan melukis, ia juga mulai mengeksplorasi aktivitas lain seperti meronce dan journaling.
Bagi Essa, crafting bukan hanya soal membuat karya, tetapi juga tentang menemukan ruang tenang di tengah padatnya aktivitas.
Editor : Aditya Novrian