RADAR MALANG- Masih soal bestie alias sahabat. Bukan hanya harta, seorang sahabat juga punya kewajiban memberikan pertolongan tenaga kepada sahabatnya.
Menurut Imam Al Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulumuddin, kewajiban dimaksud adalah memenuhi segala macam keperluan bestie atau sahabat dan ikut mengusahakan apa-apa yang dibutuhkan sebelum sahabatnya itu meminta bantuannya. Bahkan, akan lebih baik jika suka mendahulukan keperluan sahabat daripada keperluannya sendiri.
Dalam hal ini, Imam Ghazali juga memberikan tingkatan-tingkatan persahabatan itu. Yang terendah adalah memberikan bantuan ketika diminta dan ia mampu memberikannya dengan penuh suka cita.
Dengan tingkatan ini, seorang bestie yang bahkan hanya cemberut ketika dimintai bantuan sahabatnya, belumlah layak mengaku sebagai sahabat. Apalagi jika menolaknya dengan beribu alasan.
Imam Ghazali menukil kisah umat terdahulu yang berkata, “Jika engkau minta pertolongan kepada sahabatmu dan dia belum memenuhinya, cobalah ingatkan dia tentang keperluanmu tadi. Siapa tahu dia memang lupa. Tapi, apabila sudah dua kali engkau mengingatkan dan ia tetap belum memenuhi, lebih baik engkau bertakbir saja untuknya sebagai tanda bahwa dia telah meninggal dunia.”
Contoh persahabatan yang baik diberikan kaum salaf. Dulu, di antara mereka ada yang mencari-cari keluarga sahabatnya yang telah meninggal dunia hingga bertahun-tahun lamanya. Begitu ditemukan, dialah yang mencukupi semua kebutuhan keluarga mendiang sang sahabat. Atas hal itu, anak-anak sahabatnya merasa menemukan kembali figur sang ayah.
Kiranya, itulah tingkatan berikutnya dari persahabatan yang dimaksud Imam Ghazali. Memberikan bantuan dengan suka cita, bahkan sebelum diminta. Lebih tinggi lagi, memberikannya tanpa diminta dan disadari oleh sang sahabat sebagaimana kisah lain dari kaum salaf/terdahulu. Di antara mereka terbiasa membantu keluarga sahabat tanpa sang sahabat menyadari adanya bantuan itu.
Atha’, sebagaimana dikutip Al Ghazali, mengatakan, “Perhatikanlah sahabat-sahabatmu dalam tiga persoalan. Yaitu, jika ada yang sakit, jenguklah. Jika ada yang repot, bantulah. Jika ada yang lupa, ingatkanlah.”
Sa’id bin ‘Ash berkata, “Sahabatku punya hak yang harus kupenuhi dalam tiga hal. Yaitu, jika ia mendekat maka aku beri penghormatan sebaik-baiknya. Jika ia berbicara, aku perhatikan sungguh-sungguh. Jika ia duduk, aku berikan tempat yang leluasa.”
Imam Ghazali menambahkan nasihat, seorang bestie tidak akan makan secara diam-diam jika sedang punya makanan yang enak. Ia akan selalu mengajak bestie alias sahabatnya untuk ikut makan bersama-sama. Dan, karena itu ia merasa gembira. Kegembiraannya akan berkurang bila makan tanpa ditemani sang sahabat. (hid)
*) disarikan dari kitab Mau’idhatul Mu’minin min Ihya ‘Ulumuddin karya Syaih Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Addimasyqi, ringkasan atas karya Imam Al Ghazali, terjemah Moh. Abdai Rathomy
Editor : Tauhid Wijaya