Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Nyeri Haid Sampai Lemas, Normal atau Tanda Masalah?

Keshia Putri Susetyo • Selasa, 28 April 2026 | 02:00 WIB
Ilustrasi Perempuan Mengalami Keram Haid (Source: YT)
Ilustrasi Perempuan Mengalami Keram Haid (Source: YT)

 

MALANG, RADAR MALANG – Bagi banyak perempuan, datangnya menstruasi bukan sekadar rutinitas bulanan. Ada yang masih bisa beraktivitas seperti biasa, tetapi tidak sedikit yang harus menahan nyeri hebat hingga tubuh terasa lemas, bahkan sulit bangun dari tempat tidur. Pertanyaannya: apakah kondisi ini masih tergolong normal?

Nyeri Haid Itu Umum

Secara medis, nyeri haid dikenal sebagai dismenore. Kondisi ini sangat umum terjadi, bahkan di Indonesia angkanya mencapai sekitar 54,89% perempuan. Artinya, lebih dari separuh perempuan pernah merasakan nyeri saat menstruasi. Namun, tingkatnya berbeda-beda, mulai dari ringan, sedang, hingga berat.

Nyeri biasanya muncul akibat hormon prostaglandin yang memicu kontraksi rahim. Semakin tinggi kadarnya, semakin kuat rasa sakit yang dirasakan. Tidak heran jika gejalanya bukan hanya kram perut, tetapi juga pusing, mual, nyeri punggung hingga tubuh terasa lemas 

Lemas Saat Haid: Masih Normal?

Rasa lemas saat haid sebenarnya masih termasuk dalam spektrum normal, terutama jika terjadi di hari pertama atau kedua, disertai kram yang berangsur membaik, dan tidak sampai mengganggu aktivitas secara ekstrem

Dalam konteks ini, kondisi tersebut disebut dismenore primer yaitu nyeri haid tanpa adanya kelainan organ reproduksi. Namun, ada batas yang perlu diperhatikan.

Sementara dismenore sekunder merupakan rasa nyeri yang disebabkan oleh penyakit atau kondisi, seperti: 

  1. Endometriosis, penyakit peradangan kronis di mana jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, tuba falopi, atau jaringan panggul.

  2. Radang panggul

  3. Adenomiosis, kondisi ginekologis jinak dimana jaringan endometrium (lapisan dalam rahim) tumbuh menembus ke dalam dinding otot rahim (miometrium), menyebabkan rahim membesar, menebal, dan terasa nyeri

  4. Fibroid atau mion, tumor di dinding rahim tapi tidak bersifat kanker

  5. Efek samping penggunaan alat kontrasepsi

Selain itu, dismenore sekunder juga dapat disertai gejala lain seperti menstruasi yang tidak teratur, keputihan yang kental dan berbau, pendarahan diantara masa menstruasi, dan nyeri saat melakukan hubungan seksual. 

Kenapa Ada yang Sakit Banget, Ada yang Tidak?

Perbedaan ini bisa dijelaskan melalui faktor biologis dan psikologis. Salah satu penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa stress memiliki hubungan signifikan dengan tingkat nyeri haid. Selain itu, ambang nyeri setiap orang juga berbeda. Ada yang hanya merasa tidak nyaman, ada pula yang merasakan nyeri tajam hingga menjalar ke punggung dan kaki.

Jadi, Harus Khawatir atau Tidak?

Nyeri haid sampai lemas bisa jadi normal, tetapi hanya dalam batas tertentu. Kuncinya ada pada intensitas dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.

Jika masih bisa ditoleransi, kemungkinan besar itu bagian dari respons tubuh yang wajar. Namun, jika nyerinya ekstrem dan berulang, jangan dianggap sepele.

Cara Mengurangi Nyeri Haid

Beberapa langkah sederhana yang bisa membantu:

  1. Kompres hangat di perut sekitar 15-20 menit, sebanyak 3 kali sehari. 

  2. Olahraga ringan secara rutin seperti yoga dan jalan santai.

  3. Istirahat yang cukup.

  4. Konsumsi makanan bergizi yang kaya magnesium dan omega 3, seperti buah, sayuran, daging, kacang-kacangan, cokelat hitam, telur, susu, yoghurt, dan ikan. 

  5. Menggunakan obat pereda nyeri seperti ibuprofen atau paracetamol.

Tidak semua nyeri haid itu berbahaya, tetapi tidak semua juga boleh diabaikan. Tubuh selalu memberi sinyal yang perlu kita lakukan adalah belajar membedakan mana yang masih normal, dan mana yang sudah butuh perhatian lebih.

Editor : Aditya Novrian
#kram perut saat haid #Kram haid #haid